Yasuhiko Okudera, Proklamator Jepang di Sepakbola Eropa

Sepakbola di kawasan Asia akhir-akhir ini memang mulai menunjukkan kemajuan di bidang sepakbola. Hal itu ditambah dengan banyaknya pemain asal benua kuning yang merantau ke negara-negara lain yang memiliki tradisi sepakbola yang kuat. Diantara negara-negara tersebut, Jepang merupakan salah satu pelopor dalam mengirimkan pesepakbolanya ke negara lain yang lebih mapan dalam urusan si kulit bundar.

-NB: Sebelum saya menceritakan hal-ihwal tentang Yasuhiko Okudera, ada baiknya untuk membaca artikel ini dibarengi dengan mendengarkan lagu-lagu bernuansa Pop Funk Jepang era 80-an agar terasa suasana oldiesnya.-

Diawali pada era 70-an, benua Asia akhirnya melahirkan salah satu pemain profesional pertama yang bermain di Eropa bernama Yasuhiko Okudera. Pada awal karirnya, Yasuhiko Okudera bermain di Furukawa Electric SC (sekarang JEF United Ichihara dan bermain di J2 League), salah satu klub yang bermain di JSL (Japan Soccer League). Statistik ‘Oku’, -panggilan dari Yasuhiko Okudera di Furukawa Electric- bisa dibilang apik. Dari awal bermain di tahun 1970 sampai 1977, Okudera sudah bermain 100 kali dan mencetak 36 gol. Angka itu terbilang sebuah statistik yang cukup baik untuk seorang pemain yang berposisi sebagai gelandang serang.

Di tahun 1972, pelatih timnas Jepang pada saat itu, Hiroshi Ninomiya memutuskan untuk memanggil Okudera yang saat itu berusia 20 tahun untuk mengikuti serangkaian turnamen di tim nasional Jepang setelah bermain apik di Furukawa Electric. Kemudian pada tahun 1977, pemain kelahiran 12 Maret 1952 itu ditunjuk Ninomiya untuk mengikuti sejenis training camp yang berlangsung di Jerman. Selama disana, Ninomiya melatih sekaligus mempromosikan pemain-pemain asuhannya ke scouting agent klub-klub di Jerman.

Oku saat bermain membela FC Koln (sc: gettyimages)

Singkat kata singkat cerita, permainan Okudera membuat pelatih FC Koln saat itu, Hennes Weisweiler jatuh hati dan membuat Furukawa Electric memutuskan untuk melepas sang pemain ke klub asal Jerman tersebut di tahun yang sama. Yang unik dari proses transfer ini adalah Furukawa Electric menjamin seratus persen Okudera tidak akan dipecat dari pekerjaannya meski pada akhirnya ia gagal di Jerman. Sebagai informasi, Yasuhiko Okudera saat itu juga berstatus sebagai karyawan dari Furukawa Electric di bagian operator komputer.

Pada 5 Oktober 1977 sejarah itu dimulai. Yasuhiko Okudera akhirnya memulai debut bersama FC Koln dan menjadi pemain Asia pertama yang bermain di Bundesliga saat menghadapi MSV Duisburg. Pada saat itu juga FC Koln meraih kemenangan 2-1 atas sang lawan. Sebagai informasi pula bahwa Hennes Weisweller, pelatih yang membawa Okudera ke FC Koln adalah salah satu pelatih terbaik Jerman yang menemukan talenta-talenta terbaik seperti Jupp Heynckes dan Berti Vogts.

Di musim pertamanya, Okudera yang juga pernah bertandem dengan pemain timnas Jerman era 80-an, Pierre Littbarski. Keduanya langsung sukses memberikan trofi Bundesliga dan DFB Pokal bagi The Billy Goats -Julukan FC Koln-. Selain itu, statistik Okudera di Koln juga terbilang tak buruk-buruk amat dengan torehan 75 penampilan dan 15 gol.

Bersama FC Koln pula Okudera menjadi pemain Asia pertama yang mencetak gol di European Cup (yang sekarang berubah menjadi UEFA Champions League) ketika bermain menghadapi Nottingham Forest di semifinal European Cup 1978-79. Di laga tersebut, Forest yang saat itu dilatih Brian Clough berhasil kalahkan Koln dengan skor agregat 4-3 di semifinal, sekaligus mempermulus jalan klub asal Inggris tersebut untuk meraih juara kompetisi tertinggi antar klub Eropa tersebut di musim 1978-79.

Okudera saat membela Werder Bremen

Setelah tiga musim berbaju FC Koln, di musim 1980-81 Okudera dipinjamkan ke Hertha Berlin. Faktor sang pelatih sekaligus mentor dirinya di Koln, Hennes Weisweller yang hijrah ke New York Cosmos pun konon menjadi pemicu sang gelandang untuk pindah ke klub lain. Bersama klub ibukota tersebut, Okudera hanya bermain selama satu musim di divisi dua Bundesliga Nord. Di sana pun dia hanya meraih 25 penampilan dan delapan gol.

Kemudian pada tahun 1981 talenta sang gelandang serang dicium oleh Otto Rehaggel yang saat itu adalah pelatih Werder Bremen, yang kebetulan baru promosi ke Bundesliga. Kemudian sang pelatih yang terkenal saat membawa Yunani juara Piala Eropa 2004 tersebut akhirnya merekrut Okudera setelah masa peminjamannya di Hertha Berlin.

Bersama Werder Bremen, Okudera awalnya dicoba untuk bermain di posisi bek sayap. Namun sang pelatih, Otto Rehaggel melihat bahwa pemain asal Jepang tersebut memiliki kemampuan mumpuni di sektor penyerangan. Disana pun dirinya bermain selama hampir lima musim dan berhasil menorehkan 11 gol dari 159 laga yang dijalani. Tak sampai disitu, dirinya juga sukses membawa klub asal Bremen tersebut raih runner-up Bundesliga di musim 1982-83, 1984-85, dan 1985-86.

Ada kalanya sang perantau harus kembali ke kampung halaman. Yasuhiko Okudera yang saat itu bermain di Werder Bremen, memutuskan untuk pulang ke Jepang pada musim panas 1986 dan kembali merumput bersama klub lamanya, Furukawa Electric. Hanya dua musim dirinya berbaju klub yang bermain di Japan Soccer League tersebut, akhirnya dirinya memutuskan untuk pensiun di tahun 1988 pada usia 35 tahun.

Makoto Hasebe, salah satu pesepakbola Jepang yang bertahun tahun berlaga di Bundesliga

Setelah pensiun, Okudera sempat meniti karir sebagai melatih dan menangani JEF Chiba di tahun 1996. Tak sampai disitu, ia pernah menjadi presiden untuk klub Inggris, Plymouth Argyle di tahun 2008 untuk memperluas market mereka di Asia. Namun seiring krisis finansial dan penampilan buruk dari klub, legenda sepakbola Jepang tersebut memutuskan untuk mengundurkan diri dari klub.

Setelah hadirnya Yasuhiko Okudera di Eropa, cukup banyak pesepakbola asal Jepang yang ikut merasakan bermain di benua biru. Di era 90-an terdapat nama-nama seperti Kazuyoshi Miura, Hiroshi Nanami dan Hidetoshi Nakata yang menginvasi Italia. Selain itu ada Shunsuke Nakamura dan Junichi Inamoto yang mencoba tampil di Britania Raya dan Shinji Kagawa yang sukses raih gelar Premier League bersama Manchester United.

Publik sepakbola Jepang bahkan Asia tampaknya harus berterima kasih kepada Yasuhiko Okudera. karena lewat beliau lah sepakbola Asia mulai dipandang sebagai salah satu kekuatan potensial sepakbola dunia. Mungkin jika Okudera saat itu tidak mau bermain di Jerman, sepakbola Eropa mungkin akan semakin meremehkan kualitas pemain-pemain Asia yang secara postur lebih kecil dari mereka.


Penulis: Imam Santoso (@idsantos_94). Pengamat sepak bola kacangan yang suka ketiduran di babak kedua. Addicted to Indomie Goreng Rendang, Badminton, and Music.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *