Werder Bremen, Thomas Schaaf dan Masa Transisi

Dengan koleksi lima trofi Bundesliga yakni enam kali juara DFB-Pokal dan sekali juara Piala Winners Eropa, tidak salah jika menyebut Werder Bremen sebagai salah satu klub besar di tanah Jerman. Akan tetapi jika dilihat dalam lima tahun belakangan, Werder Bremen jelas tak masuk hitungan. Jangankan untuk bersaing meraih gelar juara, masuk zona Eropa pun rasanya sangat berat.

Terakhir kali Die Grün-Weißen meraih trofi adalah musim 2008-09, yaitu juara DFB-Pokal. Sementara itu trofi Bundesliga terakhir kali diraih pada musim 2003-04, ketika itu mereka berhasil mengawinkannya dengan gelar DFB-Pokal. Semua kejayaan itu diraih ketika Werder masih dilatih oleh, mantan pemain mereka, Thomas Schaaf.

Thomas Schaaf pertama kali menangani Werder pada tahun 1999, setelah dipromosikan dari Werder Bremen II. Schaaf menggantikan Felix Magath dan mampu menyelamatkan Werder Bremen dari degradasi, selain itu ia juga mampu mengantarkan Bremen menjuarai DFB-Pokal di akhir musim.

Transisi dari Otto Rehhagel berakhir dan era baru Werder Bremen bersama Schaaf dimulai. Empat musim membangun tim dan berhasil membawa Werder tampil konsisten, pada musim 2003-04 kesabaran itu berbuah manis dengan double pertama dalam sejarah klub. Selama empat musim berikutnya, Schaaf berhasil membawa Die Grün-Weißen konsisten di papan atas kasta tertinggi sepakbola Jerman. Pada musim 2008-09, Werder meraih trofi DFB-Pokal mereka yang keenam dan menjadi runners-up UEFA Cup (sekarang Europa League) meskipun hanya menempati peringkat 10 di Bundesliga.

Dua gelar Bundesliga menjadi hadiah termanis dari Otto Rehhagel kepada Werder.

Akan tetapi, itu menjadi pencapaian hebat terakhir Werder, seolah menjadi penanda berakhirnya sebuah era. Puncaknya, kebersamaan Schaaf selama 14 tahun menjadi pelatih Bremen berakhir di tahun 2013, setelah mengakhiri musim di posisi 14. “Aku mempunyai pengalaman dan kesuksesan yang luar biasa disini. Aku ingin mengucapkan terimakasih kepada semua orang dan semoga Werder Bremen sukses di masa depan.” Ucapnya kala itu.

Akan tetapi, harapannya kepada Werder nampaknya belum terwujud. Sejak Schaaf pergi dari Weserstadion, nampaknya Werder Bremen masih mengalami masa transisi seperti ketika Otto Rehhagel pergi. Robin Dutt yang ditunjuk untuk menggantikan dirinya pada musim 2013-14 hanya mampu membawa Werder lebih baik dua strip dibanding musim sebelumnya.

Saat itu Dutt dipertahankan. Namun setelah 9 pertandingan tanpa kemenangan di Bundesliga, ia dipecat dan digantikan oleh Viktor Skrypnyk. Dengan rekam jejak yang hampir mirip dengan Schaaf, Skrypnyk diharapkan mampu membawa Werder bangkit dari keterpurukan. Harapan itu nampaknya menjadi kenyataan setelah ia mampu mengangkat Werder dari juru kunci dan menempati peringkat 10 di akhir musim.

Musim selanjutnya, ia hanya mampu membawa Werder menempati posisi 13 klasemen. Meski demikian, ia tetap dipercaya menangani tim di musim 2016/17. Namun hasilnya Green-Whites tak mampu meraih poin di 4 pertandingan awal, ia dipecat dan digantikan oleh Alexander Nouri sebagai caretaker. Sama seperti Schaaf dan Skrypnyk, ia merupakan mantan pemain dan menangani Werder II sebelum naik menangani tim utama.

14 tahun kebersamaan Thomas Schaaf dengan Werder Bremen harus berakhir pada 2013 lalu.

Nouri berhasil mempersembahkan kemenangan, ia pun diangkat menjadi pelatih utama. Performa Werder di tangan Nouri sempat terseok-seok, namun ia berhasil membayar kepercayaan manajemen Werder dengan 11 pertandingan tak terkalahkan sejak runde 21-31, di akhir musim Bremen menempati posisi 8 dan hampir masuk zona Eropa.

Dengan hasil itu, optimisme tinggi tentu menyelimuti kubu Werder untuk menghadapi musim 2017-18. Akan tetapi, semua hanya tinggal menjadi ekspektasi setelah armada Nouri tak mampu meraih kemenangan hingga pekan 10 dan tenggelam di peringkat 17. Bagaikan sebuah siklus, manajemen Werder kembali mempromosikan pelatih dari Werder II untuk melatih tim utama.

Kali ini adalah Florian Kohfeldt dipromosikan untuk menggantikan Nouri. Perlahan, Kohfeldt mampu membuat Bremen merangkak meninggalkan zona degradasi. Total ia berhasil membawa Bremen meraih 11 kemenangan, 7 hasil imbang, dan 8 kali kalah. Pada akhirnya ia mampu membawa Werder duduk di peringkat 11 di akhir musim.

Jika dilihat sejak Schaaf tak lagi menangani klub, Werder tampaknya terlalu terburu-buru dalam mempromosikan pelatih dari Werder Bremen II. Selain Robin Dutt, tiga pelatih lainnya adalah pelatih yang dipromosikan dari Werder Bremen II. Mungkin manajemen Werder ingin melihat Schaaf yang ‘baru’, namun jelas ada perbedaan antara Schaaf dengan pelatih-pelatih setelahnya. 

Viktor Skrypnyk menjadi suksesor Schaaf yang terbilang cukup lama menangani Werder.

Sebelum menjadi pelatih utama Bremen, ia menjadi pelatih tim muda (U-17 dan U-19) serta dua musim menjadi asisten Otto Rehhagel. Selain itu, ia juga menangani Werder II dalam waktu yang cukup lama, yaitu 4 musim. Pengalaman yang cukup membuatnya sudah siap ketika harus menangani tim utama sehingga ia berhasil membuat Bremen meraih kejayaan. Pengalaman itulah yang tidak dimiliki suksesor-suksesor Schaaf. 

Viktor Skrypnyk memang 10 musim menjadi pelatih tim muda Bremen, namun ia baru 2 musim menjadi pelatih Werder II ketika ditunjuk menjadi pelatih tim utama.  Nouri dan Kohfeldt bahkan baru semusim menjadi pelatih Werder II ketika ditunjuk menjadi pelatih utama. Sementara Robin Dutt musim sebelumnya gagal bersama Bayer Leverkusen. 

Faktanya, Kohfeldt tetap dipertahankan untuk melatih Werder di musim 2018-19. Tentunya hal ini masih menjadi tanda tanya, apakah siklus yang sama masih terjadi atau transisi dari Schaaf telah berakhir dan Bremen mampu memulai era baru bersama Kohfeldt?


Gatra Drestanta. 081806013854 (whatsapp). Bocah dari pinggiran ibukota yang demen banget ama sepakbola. Bisa dihubungi di @gatra1928.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *