TSV 1860 Munich: Rival yang Pergi dan Tak Kunjung Kembali

Siapa yang tidak kenal Munich, salah satu kota terbesar di Eropa dengan populasi yang mendekati angka 1,5 juta penduduk. Rumah dari industri-industri ternama seperti BMW, Siemens, Allianz dan lain sebagainya. Bagi penggemar sepakbola, Munich bukan nama yang asing. Salah satu klub terbesar di dunia berasal dari sini, ya Bayern Munich. Dengan raihan total 45 trofi, Bayern merupakan klub yang paling sukses dari Jerman.  Namun, apakah ada yang ingat dengan “kakak” dari Bayern Munchen ini?

Saya rasa, hanya segelintir pembaca yang ingat akan fenomenal nya kakak dari Bayern Munchen. Tanpa harus berbasa basi lagi, mungkin saat ini nama TSV 1860 Munchen lebih asing daripada nama-nama katakanlah Red Bull Leipzig, TSG Hoffenheim ataupun Borussia Dortmund. TSV sebenarnya adalah salah satu klub tertua di Jerman sekaligus juga salah satu tim yang tergabung dalam edisi Bundesliga pertama kali yang digelar pada tahun 1963.

Memulai debut pada tahun 1902, TSV Munich merupakan pionirnya sepakbola yang membawa kultur Muenchen dalam kancah Internasional. TSV merupakan salah satu klub yang sukses pada masa kepemerintahan third reich atau Nazi Germany. Trofi Gauliga Bayern menjadi trofi perdana mereka di sebuah kompetisi tertinggi regional Bavaria yang berlangsung dari tahun 1933 hingga 1945.

Dua gelar berhasil mereka bukukan yaitu pada tahun 1941 dan 1943. Setelah perang dunia kedua usai, TSV 1860 Munich masih eksis di pentas papan atas sepakbola Jerman. Di tahun 1942, TSV sukses merengkuh gelar pertama Piala Jerman (Tschammerpokal) usai mengalahkan Schalke dengan skor 2-0.

TSV 1860 Munich saat berlaga menghadapi West Ham United di ajang Winner Cup 1965

Era 60-an merupakan era baru bagi kubu TSV 1860 Munich. “Die Lowe” alias The Lions menjadi julukan yang kerap disematkan kepada mereka, merujuk pada logo coat armor bergambar singa yang mereka sematkan. Setelah sukses merengkuh gelar Piala Jerman untuk kedua kalinya yaitu pada tahun 1964, TSV kemudian meninggalkan jejak di UEFA Cup Winners Cup pada tahun 1965. Dengan tiga pemain bintang andalan mereka, yakni Manfred Wagner, Rudolf Brunnenmeier dan Petar Radenkovic. Mereka kalah di final oleh West Ham United. Di tahun  berikutnya atau tepatnya 1966 TSV sukses merengkuh gelar pertama Bundesliga.

Memasuki era 70-an, TSV Munich merupakan salah satu klub yang akhirnya terjerembab kedalam lembah kesuraman lantaran minim prestasi, minim bintang dan sepi perayaan apapun sekaligus meninggalkan jejak di Bundesliga 2. Kemudian bukannya cerita yang bagus, pada awal era 80-an TSV justru makin terperosok ke Oberliga (sekarang 3.Liga) atau kasta ketiga liga Jerman.

Barulah pada tahun 1992 lalu, Karl Heinz Windmoser sang presiden baru mereka memimpin kembali TSV Munich menuju ke kasta tertinggi. Mereka berhasil menduduki posisi ke 4 pada musim 1999/2000 dengan kembali ke pentas UEFA Champions League dan mereka hanya kalah dari Leeds United. Empat tahun lamanya berada di kasta tertinggi liga Jerman, situasi itu hanya bertahan sementara. Pada tahun 2004 lalu mereka kembali harus turun ke 2.Bundesliga setelah bergulat dengan krisis dan skandal korupsi yang dilakukan oleh Windmoser.

Gemuruh stadion Allianz arena dipenuhi dengan slogan slogan “Einmal Lowe, Immer Lowe!” yang artinya adalah “Once a Lion always a Lion”. Namun, Allianz arena tidak pernah penuh sesak akan pendukung dari Die Lowe. Ada hal yang mengganjal dalam hati mereka sebagai fans TSV 1860 Munich bahwa sejatinya stadion Allianz Arena bukanlah milik mereka, namun milik Bayern Munchen.

Grunwalder stadium, markas sesungguhnya TSV 1860 Munich (sc: fotocommunity.de)

Krisis kepercayaan diri mulai menggema, kekalahan demi kekalahan terus didapat. Stadion sebesar itu, terlihat kurang menarik apabila diisi oleh tim bernama TSV 1860 Munich. Stadion berkapasitas 75.000 orang penonton, namun hanya terisi kira kira 20.000 orang fans TSV Munich apabila klub tersebut bermain disana.

Sebuah ironi didapat soal stadion kandang mereka. Sejatinya TSV 1860 Munich tidak memilik home ground sendiri. Jawabnya, ada. TSV sejatinya berasal dari Giesing, suatu daerah di bagian Bavaria. Sedangkan, Bayern Muenchen berasal dari Schwabing, daerah yang berbeda namun tetap berada di Bavaria.

TSV memiliki stadion bersejarah yakni Grunwalder. Namun, pada tahun 1995 lalu mereka terpaksa mengosongkan rumah mereka ini lantaran kapasitasnya yang terlalu minim dan tidak cocok dalam atmosfer Bundesliga.  Mereka kemudian bermain di Olympic Stadium sebelum pindah ke Allianz Arena pada tahun 2005 lalu. Usaha mereka untuk kembali ke Giesing tampaknya sia sia saat itu, namun terdengar kabar gembira bahwa pemerintah daerah setempat akan merenovasi Grunwalder untuk digunakan bagi tim reserves TSV 1860 Munich.

Hal yang paling ironis muncul ketika TSV dibebani oleh biaya akan sewa stadion di tengah klub ini memiliki sejarah krisis finansial yang cukup panjang.  Pada tahun 2011 lalu pengusaha dari Yordania, Hassan Ismail memiliki ketertarikan dengan klub ini dengan mengakuisisi 60% saham TSV Munich senilai 18 juta Euro.

Para suporter TSV melakukan protes setelah manajemen gagal membayar sejumlah kewajiban (sc: guardian)

Namun hal tersebut tidak memiliki dampak apapun. Dalam kurun waktu hampir 10 tahun, bahkan Die Lowe masih belum bisa menginjakkan kaki mereka ke 1 Bundesliga.  Krisis finansial terus dialami oleh TSV hingga mereka harus tetap membayar sewa fasilitas Allianz Arena kepada Bayern Muenchen sekitar 1,5 juta Euro per musimnya.

Pada akhir musim 2016/17 masa paling kelam pun tiba bagi The Lions. Kekalahan tipis atas FC Heidenheim memaksa mereka turun kasta ke 3Liga atau divisi III liga Jerman untuk musim 2017/18. Tidak sampai disitu, petaka lain tiba saat federasi sepakbola Jerman menilai TSV Munich tidak memenuhi syarat dalam hal ini adalah syarat finansial untuk bermain di divisi 3Liga. Manajemen klub tak mampu membayar kewajiban yang diperlukan dan untuk kali pertama sepanjang sejarah, TSV 1860 harus bermain di Regionalliga atau divisi IV liga Jerman sampai saat ini.

Dengan situasi ini suporter Bayern Munich, warga setempat, dan para penggila sepakbola nampaknya harus kembali lebih bersabar untuk menyaksikan laga derby Munich di pentas Bundesliga. Bagaimana tidak, 14 tahun lamanya salah satu rival pergi dan tak kunjung kembali datang.


Penulis: Pradana Arya Mahendra (@aryacookwater). Penulis serabutan yg menggemari sejarah, kopi dan musik.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *