Tribut untuk Sang Tukang Ledeng yang Rendah Hati

5 April 1922 atau 96 tahun yang lalu, dunia menyambut kelahiran salah satu genius terbaik dalam sepakbola Inggris sekaligus “one-club man” bagi Preston North End, Sir Thomas “Tom” Finney. Richard Williams, eks kolumnis senior The Guardian mengatakan: “Jika ada seseorang dalam sejarah yang mampu meraih kesuksesan karir yang membuktikan bahwa trofi bukanlah pengukur kehebatan yang dimiliki oleh seorang pemain, maka itu adalah karir seorang Tom Finney.”

Dalam 14 tahun karir, ia mencatatkan 569 penampilan dan 210 gol untuk klub tempat kelahirannya tersebut. Bicara prestasi, Finney memang “hanya” mampu menyumbang medali kemenangan Divisi Dua pada musim 1950-51. Selain itu, dari total 76 penampilan dan 30 golnya untuk timnas Inggris dalam tiga ajang Piala Dunia yang diikutinya, Finney juga tidak mampu menyumbangkan sebijipun gelar.

Satu-satunya kesempatan terbaiknya untuk mendapatkan trofi datang pada final piala FA 1954. Namun sayang, saat itu Finney yang sedang dalam keadaan tidak fit harus mengakui keunggulan West Brom atas timnya di final. Tapi, apalah artinya trofi? Hingga kini yang benar-benar lekat dalam ingatan orang-orang Inggris hanyalah kehebatannya di dalam sekaligus luar lapangan, bukan jumlah medali yang pernah dimenangkannya.

Bill Shankly, pelatih legendaris Liverpool yang juga seorang legenda Preston menyimpulkan pengalamannya bermain bersama Finney. Shankly mengatakan “Dia dapat menjadi legenda di klub manapun, pertandingan apapun, dan umur berapapun – bahkan jika dia menggunakan jubah saat bermain. Dia membuat lawan takut hingga ada pemain yang sudah menjaganya semenjak pemanasan!”

Memulai karirnya sebagai pemain amatir pada 1937 dalam usia 15 tahun, Finney harus menunggu hingga nyaris satu dekade berselang untuk benar-benar melakukan debutnya di tim senior Preston pada usia 24 tahun karena pecahnya Perang Dunia II membuat liga terhenti hingga 1946.  Ia dipanggil untuk ikut ambil bagian sebagai pasukan militer Inggris Raya dan hanya sempat bermain di beberapa turnamen mini yang diadakan pada masa-masa perang.

Finney menjadi kecintaan di Preston karena dua hal: dia tukang ledeng dan pemain bola yang handal (foto: BBC)

Sang “Tukang Ledeng Preston” —julukan yang diberikan karena ia juga seorang ahli pipa profesional yang bekerja di perusahaan milik ayahnya— dikenal sebagai pemain depan serba bisa (all-rounder) yang mampu menunjukkan penampilan sama baiknya di posisi manapun, baik itu sayap kiri dan kanan, “false 9,” maupun ketika ditempatkan sebagai striker tunggal. Duetnya bersama Stanley Matthews -peraih Ballon D’Or pertama dalam sejarah- di tim nasional menjadi saksi kehebatan sepakbola pasca-perang Inggris yang membantai Portugal 10-0 di Lisbon dan juara dunia saat itu, Italia, dengan skor 4-0 ketika bertandang ke Turin dalam laga persahabatan.

Kemampuan di lapangan berjalan serasi dengan sikap di luar. Di hari kerja, ia dikenal handal sebagai pengatur jalannya air bagi setiap orang yang memanggil jasanya, lalu di akhir pekan dia menjadi favorit bagi pendukung Preston yang mendapat kesempatan bercengkrama santai dengannya yang berjalan kaki dari rumah ke Deepdale di setiap pertandingan kandang.

Ia mampu mencetak gol pada debutnya bersama Preston dan tim nasional Inggris sekaligus meraih penghargaan pemain terbaik (Footballer of the Year) pada 1954 dan 1957. Finney dikenal sebagai pemain bersih dan rendah hati, ia tidak pernah sekalipun menerima kartu kuning ataupun diusir wasit sepanjang karirnya. Sikap sportif yang kerendahhatian begitu elegan ini mungkin menjadi kualitas paling luar biasa yang membuat namanya masih begitu diingat hingga sekarang.

Pada 1950-an atau di tengah puncak karirnya, Palermo sempat datang dan menawarkan gaji sebesar 120  paun per minggu atau 10 kali lipat dari gajinya di Preston saat itu yang hanya 12 paun per pekan dan nyaris 10 kali lipat pula dari rataan gaji pemain Liga Inggris saat itu sebesar 14 paun per pekan. Tak hanya soal gaji, Palermo juga menyiapkan 10 ribu paun untuk merayu Finney angkat kaki dari Deepdale, tetapi manajemen klub saat itu masih cukup cerdas untuk menolak mentah-mentah megatawaran tersebut. “Jika ia tidak bermain untuk kami, maka ia tidak akan bermain untuk siapapun,” ujar presiden klub saat itu, Nat Buck.

“Pemain terbaik sepanjang masa,” ujar Bill Shankly. Tom Finney menunjukkan kelasnya ketika melawan Chelsea pada 1956 dan menghasilkan foto ikonik ini (foto: FIFA)

Juga, di dekade yang sama, Finney sempat mendapat tawaran dari Real Madrid sebesar 1,000 paun untuk bermain bersama mereka dalam beberapa laga persahabatan -yang jika diterima akan membuatnya satu tim dengan pemain seperti Di Stefano, Puskas, Kopa, dan Francisco Gento- namun Tom menolak. “Aku hanya bermain untuk satu tim, dan tim itu adala Preston”, tegasnya.

Finney mengakhiri karir di usia 38 tahun di Preston yang ironisnya juga menjadi akhir dari kejayaan klub tersebut. Tepat setelah ia pensiun, Preston langsung terdegradasi dan belum mampu kembali lagi ke divisi teratas hingga sekarang. Finney wafat dalam usia 91 tahun pada 2014 lalu sebagai seorang pria terhormat yang akan selamanya dikenang.

Memento yang ada berupa tribun khusus yang menyandang namanya di Deepdale beserta nama penghargaan yang dianugerahkan oleh otoritas Football League. Penghargaan itu diberikan kepada pemain yang dianggap meneladani apa yang telah dipertunjukkan Finney -talenta, loyalitas, dan komitmen- merupakan bentuk kecintaan publik kepada sebagai legenda terbesar yang pernah dimiliki Preston dan Inggris.

Preston yang hingga kini masih berjuang untuk kembali ke Liga Primer setelah 57 tahun tentu sangat merindukan kehadirannya. Jika pemerintah Brasil melabeli Pele sebagai “harta nasional” mereka, maka warga Preston cukup menyebut Finney sebagai “anak kebanggaan” yang membuat bangga para Prestonian akan tempat kelahiran mereka.

Selamat ulang tahun, legenda!


Penulis: Averio Nadhirianto adalah seorang penikmat sepakbola Italia sejak lahir. Menggandrungi Brescia dan AC Milan karena Baggio dan Pirlo, dia dapat ditemukan di Facebook.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *