Tommaso Maestrelli, Sang Pioneer Kesuksesan dari Kota Roma

Benua Eropa yang dikenal juga sebagai benua biru, merupakan salah satu benua dengan populasi penggemar sepakbola terbesar di dunia. Hampir seluruh negara di Eropa dapat dikatakan memiliki klub klub terkenal, dengan basis besar dan cukup disegani di dunia.  Kali ini kita akan menyoroti salah satu negara dibelahan bumi Eropa, yaitu Italia. Negara tersebut terkenal memiliki fans dan kultur sepakbola yang erat, bahkan sepakbola seperti sudah menjadi bagian dari hidup orang orang italia.

Sepakbola tidak sebatas hanya olahraga semata, namun juga menjadi trend, menjadi bagian dalam fashion dan pengetahuan dalam pusat peradaban orang orang Italia. Seiring berkembangnya sepakbola, Italia turut berkontribusi empat gelar dunia telah disematkan dalam kaus kebanggaan timnas Gli Azzurri. Tidaklah perlu diragukan, bahwa strategi catenaccio yang ditemukan oleh Karl Rappan dan kemudian diaplikasikan dengan sistem taktik yang dikembangkan lagi oleh Nereo Rocco, menjadi panutan berbagai tim tim di dunia. Terbukti strategi ini menjadi ciri khas dari klub maupun timnas Italia.

Atmosfer yang keras, dengan teriakan, nyanyian serta atribut suporter Roma maupun Lazio memecah langit kota Roma yang indah. Seperti yang kita tahu, bahwa Derby Della Capitale selalu ditunggu penikmat sepakbola dimanapun itu. Dua tim bertabur bintang, dua tim yang bersemangat tinggi, dengan fans yang sangat besar, selalu menghadirkan banyak cerita. Tidak jarang laga derby panas ini dinodai dengan aksi brutal maupun cerita kelam.

Tidak lengkap jika membicarakan Derby Della Capitale tanpa menyebut nama Tommaso Maestrelli. Ia merupakan sosok manager yang cukup elegan, berada dibelakang layar sekaligus berperan sentral mengantarkan Lazio menjuarai Scudetto untuk kali pertama dimusim 1973-1974. Bersama pemain – pemain seperti Giorgio Chinaglia, Luciano Re Cecconi, Bruno Giordano, hingga Giuseppe Wilson, Lazio mampu melibas banyak lawan dimusim tersebut. Dengan rekor kemenangan 18 kali dan hanya mengantongi kekalahan sebanyak 5 kali, Lazio mampu merengkuh gelar scudetto. Kala itu di papan klasemen mereka hanya berjarak 2 poin dari Juventus.

Maestrelli bersama presiden Lazio saat diperkenalkan ke publik.

Maestrelli lahir di Pisa, 7 oktober 1922, adalah anak dari seorang buruh yang memaksanya untuk berpindah pindah sekolah dan kota, hingga akhirnya Maestrelli sekeluarga menetap di Bari pada tahun 1935. Maestrelli kecil amat menggemari sepakbola, kemudian ia segera berseragam Bari dan bermain untuk akademi Bari. Tommaso Maestrelli segera mencuri perhatian manager Bari kala itu yakni Josef Ging, yang kemudian memberikan kesempatan kepadanya yang saat itu juga masih berusia 16 tahun, untuk debut bersama tim senior Bari. Menghadapi AC Milan pada tahun 1939 silam, Bari tak mampu berbicara banyak meskipun ia bermain apik dan takluk 3-0 atas Rossoneri.

Debutnya yang berumur masih begitu belia, merupakan salah satu rekor yang belum dipecahkan. Ia hanya kalah dari Amadeo Amadei, yang juga debut di usia 15 tahun. Karir sepakbolanya bersama klub-klub seperti Bari, AS Roma dan FC Luchesse terbilang biasa saja. Tidak ada yang spesial yang dapat diraih Maestrelli saat aktif sebagai pemain.

Tommaso Maestrelli gantung sepatu bersama Bari setelah sempat dua kali berpindah klub. Kemudian di tahun 1953 ia sepakat untuk mencoba tantangan baru, yaitu menjadi seorang manajer. Bersama Reggina di tahun 1965, Maestrelli mendapatkan gelar sebagai pelatih terbaik di Serie C. Setelahnya menjadi cerita sukses dimana ia mampu mengalahkan mantan klubnya, Bari bersama Foggia dengan skor cukup telak 0-4. Foggia hampir saja mengkandaskan asa Lazio saat Piala Italia dimusim 1968-1969, hanya saja Lazio jauh lebih baik dan memiliki kualitas pemain yang bagus, sehingga Foggia harus takluk ditangan Lazio.

Ketajaman Tommaso Maestrelli dalam meracik strategi membuat Umberto Lenzini segera menghubunginya. Lazio berminat untuk mendatangkan sang ahli strategi kepada publik I Biancocelesti. Benar saja, pada tahun 1971 Maestrelli segera berada di Ibukota Italia.  Namun kali ini ia memiliki misi suci mengantarkan Sang Elang kota Roma ke pintu Serie A. Target awal yang tidak muluk muluk, karena pada musim 1971-1972 Lazio tengah berada di Serie B.

Maestrelli bersama skuat Lazio saat merayakan promosi ke Serie A.

Berbekal asa dan segenap pengetahuan dalam meracik tim, ditambah pula kharisma dari Maestrelli yang membangkitkan semangat di ruang ganti, ia memulai petualangan bersama Lazio. Disana ia tak mengubah banyak skuat (hanya menambahkan Avelino Moriggi, kiper veteran yang diboyong dari Alexandria). Dengan beberapa pemain yang sudah lama mengenal satu sama lain seperti Giorgio Chinaglia, Giuseppe Massa, hingga Giancarlo Oddi, Lazio mampu meraih rentetan kemenangan dan berada di posisi kedua pada musim 1971-1972, hanya kalah peringkat oleh Ternana. Berkat hasil tersebut, Lazio pun berhak promosi ke Serie A.

Maestrelli begitu percaya bahwa kekompakan tim didatangkan dari pemain-pemain yang sudah memiliki rasa akan kepercayaan antara satu sama lain, sehingga ia memang tidak merombak tim. Dengan begitu chemistry pun mudah didapat.

Berstatus sebagai comeback kid pada musim 1972-1973, Lazio tentunya berbenah dengan mendatangkan Luciano Re Cecconi dari Foggia. Reuni kembali Re Cecconi bersama Maestrelli membuat skuad Lazio semakin kompak. Penampilan Lazio di musim itu begitu mengagetkan. Pasalnya tim yang baru kembali dari keterpurukan, langsung menunjukkan peningkatan yang begitu pesat.

Biancocelesti kembali bercokol di peringkat ketiga klasemen Serie A, hanya kalah posisi dari Juventus dan AC Milan yang berada di atasnya. Lazio juga berpartisipasi dalam dua gelaran yang tidak kalah bergengsi yakni, Anglo Italian cup dan tentu saja Piala Italia. Raihan yang begitu spektakuler membuat Maestrelli tetap bersama Lazio.

Gaya khas Maestrelli di bench saat mendampingi timnya berlaga.

Di musim selanjutnya yakni musim 1973-1974, Lazio merengkuh gelar pertama mereka sebagai juara Serie A. Giorgio Chinaglia tampil apik dengan menjadi top skor. Giuseppe Wilson begitu padu dengan Oddi dan Pulici, Sementara Re Cecconi bertugas menyuplai bola ke kaki Chinaglia. Mario Frustalupi dan  Vincenzo D’Amico juga begitu kompaknya berperan sebagai pengatur lini tengah. Kala itu Lazio menjadi kontestan yang mengejutkan. Begitu hebatnya di Serie A, tidak demikian ketika mereka berhadapan dengan tim yang berasal dari Inggris. Dalam ajang UEFA Cup di musim yang sama, Ipswich Town sukses melibas Lazio dengan aggregat 6-4.

Performa Lazio kemudian menurun setelah Maestrelli didiagnosis menderita kanker. Selama dua musim yakni 1974-1975 dan musim 1975-1976, Lazio ditangani oleh caretaker Roberto Lovati dan Giulio Corsini. Satu persatu pemain bintang Lazio hengkang, salah satu yang cukup fenomenal adalah top skorer mereka, Giorgio Chinaglia yang hengkang ke Amerika Serikat dan menetap disana.

Memasuki penghujung era 70-an, merupakan musim yang tidak ingin dikenang oleh fans Lazio. Tommaso Maestrelli menyerah menghadapi kanker ganasnya, ia menghembuskan nafas terakhirnya di kota Roma, pada 2 Desember 1976. Setahun setelah Maestrelli meninggal dunia, King Re Cecconi juga menghembuskan nafas terakhirnya secara tragis.

Kejayaan Lazio telah berakhir. Penghujung era 70-an merupakan kenangan kelam, yang kemudian diperparah dengan skandal Totonero di awal era 80-an dan berimbas pada performa klub. Lazio turun ke Serie B, bahkan hampir terperosok ke Serie C. Kembali pada kisah Tommaso Maestrelli, namanya terus menjadi sejarah Lazio dan juga menorehkan prestasi besar terhadap kota Roma.


Penulis: Pradana Arya Mahendra (@aryacookwater). Penulis serabutan yg menggemari sejarah, kopi dan musik.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *