Stoke City: Akhir Petualangan dan Kehidupan Setelah Degradasi

Paul Lambert sudah tidak menang sejak laga pertamanya pada bulan Januari. Stoke City, klub yang ia tangani, memerlukan kemenangan di dua laga sisa demi asa sintas. Laga melawan Crystal Palace kemarin harusnya bisa ditaklukkan, untuk kemudian melibas Swansea pekan depan. Tak dinyana, The Potters mengecewakan justru ketika tampil di benteng yang sempat terkenal karena “dingin, hujan, dan berangin”.

Di pertandingan yang dihelat pada waktu makan siang itu, derita tim sepanjang musim mencapai kulminasi. Sepakan ciamik Xherdan Shaqiri dari tendangan bebas merupakan satu-satunya shoot on target di babak pertama. Jadi skor sementara 1-0 tidak menggambarkan kejadian sebenarnya di lapangan dan klasemen virtual (pada babak pertama) yang menampilkan Stoke mengoleksi 33 poin hanyalah semu belaka.

Pola permainan yang amat bertumpu pada tubuh bongsor Peter Crouch bukan masalah besar bagi Palace, yang sedang “naik kelas” sejak diasuh Roy Hodgson. Tatkala Crouch ditarik keluar, Stoke City kehilangan ide di separo akhir, dan mengingat penggantinya ialah seorang sayap yang masuk skuat hanya karena Eric Maxim Choupo-Moting dan Jese Rodriguez ditinggal (Ramadan Sobhi), pertahanan yang digalang Ryan Shawcross runtuh seketika.

Dengan memiliki keunggulan satu bola dan mengantongi tiga nama gelandang bertahan di bangku cadangan (Darren Fletcher, Charlie Adam, dan Geoff Cameron), keputusan memasukkkan sayap asal Mesir yang tidak pernah tampil memuaskan pada musim ini bisa dianggap sebagai titik balik laga. Benar saja, umpan canggung Sobhi di-intersep bek Palace, yang kebetulan (benar-benar kebetulan yang mempengaruhi musim) diterima Ruben Loftus-Cheek. Pemain pinjaman dari Chelsea ini membawa bola, menyusuri pertahanan Stoke yang kagok ditinggal rekannya di depan.

Timing umpannya kepada James McArthur amat menawan, tepat ketika kiper Jack Butland melangkah ke belakang dan walhasil, tidak berdaya saat McArthur menerima bola dalam situasi one-on-one.Keadaan menjadi 1-1 dan tampaknya momentum telah tiba bagi Palace. Penguasaan bola Stoke tidak pernah lama di sepertiga akhir lapangan, striker Mame Biram Diouf tampil seperti biasanya: terisolasi. Kondisi seperti ini memunculkan firasat Stoke akan segera turun divisi dan tiba-tiba semua upaya ofensif Palace tampak berbahaya.

Hingga tiba sebuah umpan mendatar dari sisi kiri pertahanan yang sebetulnya bisa diamankan bila jatuh ke area bek dengan kecepatan tinggi. Sayang sekali orang itu ialah pria 31 tahun dengan alasan kenapa ia bermain ialah ban kapten di lengan serta pengalaman 10 tahun memimpin Stoke di Premier League. Ia dikhawatirkan tereksploitasi kecepatan Wilfired Zaha dan Andros Townsend menjelang laga. Intersep sambil menjatuhkan diri untuk umpan mendatar di belakang tubuhnya dengan kaki terlemahnya ternyata tidak sampai ke kaki kiper Butland. Patrick van Aanholt mencocor bola itu, menyelesaikannya dengan gaya striker jempolan.

Pendulum mengarah ke Palace, skor berbalik menjadi 1-2. Kekalahan ini menjadi kesekian kalinya di era Lambert setelah tim unggul terlebih dahulu, ia menghilangkan 12 poin dari posisi unggul sejak penunjukannya. Peluit akhir berbunyi, seantero stadion merana, Butland dan Shawcross menangis. Stoke menatap musim dengan harapan menembus Eropa namun mengakhiri pekan 37 dengan status juru kunci, pertama terdegradasi, dan jelas akan tergembosi. Petualangan di Premier League selama satu dekade telah terhenti.

Lini Depan Payah

“Musim dimulai pada bulan Juli,” bela Lambert. Mengkambinghitamkan pelatih sebelumnya, sebuah alibi yang digaungkan bukan saja oleh Lambert. Memang masuk akal menunjuk Mark Hughes (pendahulu Lambert) sebagai biang utama kemerosotan performa tim. Bukan saja pemilihan taktiknya yang inkonsisten, tetapi juga mencakup perekrutan sembrono pemain anyar. “Di paruh akhir lapangan, saya tidak merasa kami cukup bagus. Kami kekurangan insting alami membunuh lawan. Tidak hanya pencetak gol, tapi juga (penyedia) kreativitas.”

Uang tebusan yang mendekati rekor klub untuk seorang bek payah semacam Kevin Wimmer seharusnya bisa dialokasikan untuk merekrut satu atau dua pemimpin di lini serang. Menaruh kepercayaan membobol lawan di liga terbaik dan termahal dunia, diterima di pundak seorang amatir seperti Saido Berahino.

Tak sampai disitu, mereka tetap memakai jasa striker jangkung yang telah gaya mainnya terbaca semua tim di divisi, lalu tiba-tiba memberdayakan Diouf yang lama dipasang sebagai bek sayap, bisa jadi merupakan kebijakan terburuk sebuah tim di Premier League. Kreativitas yang dikeluhkan Lambert? Shaqiri merasa Ronaldinho pun tidak akan berfungsi di tim ini karena rendahnya kualitas di sekeliling dirinya.

Kehidupan Setelah Premier League

Kini, bisa dipastikan akan ada eksodus dari Bet365 Stadium. Bakat Jack Butland, Joe Allen, Xherdan Shaqiri, serta Badou Ndiaye terlalu besar untuk menjalani karier di Divisi Championship. Khusus Shaqiri, ia punya klausul degradasi sebesar 12 juta poundsterling. Bek muda asal Prancis, Kurt Zouma juga hendak kembali ke klub pemiliknya. Barisan senior seperti Glen Johnson, Charlie Adam, dan Stephen Ireland pun menatap hari-hari terakhir kontrak. “Tentu saja skuat ini harus dibangun ulang, demi apa pun” ujar Lambert.

Sebagai persiapan, laga terakhir versus Swansea bisa dijadikan “pemanasan menuju Championship”. Pemain yang berpotensi hengkang sebaiknya diistirahatkan, dan sebaliknya, mereka yang bersumpah setia layak mendapat tempat pada laga terakhir. Kapten Shawcross dan Morits Bauer yang mempesona di kanan pertahanan boleh turut ambil bagian. “Aku ingin bertahan di Stoke meski mengalami skenario terburuk sekalipun,” ucap Bauer.

Selain mereka, penyerang hijau Campbell mestinya diberi kesempatan memulai laga. Sobhi yang sebetulnya berbakat itu harus diberi kesempatan menebus serangkaian performa gurem musim ini. Perburuan tiket promosi musim depan tampaknya rasional bila melibatkan mereka, didampingi lini veteran sebangsa Fletcher dan Crouch.

Ada kekhawatiran bahwa Stoke akan tamat sesudah kolaps pasca turun divisi. Beberapa tim semodel Oldham atau Swindon belum pernah kembali lagi semenjak terdegradasi pada 1993/94. Namun, terhitung sejak 2008/09 terdapat delapan tim yang langsung promosi pada percobaan pertama, dan mari berharap Stoke menjadi tim kesembilan. Meski diragukan, Paul Lambert pernah membawa Norwich City promosi, dan lagi pula masih terikat kontrak dua setengah tahun. Misi promosi pada musim depan bergantung pada keseriusan manajemen memperkuat skuat guna mengarungi liga yang jauh lebih panjang dibanding Premier League itu sendiri.


Mukhammad Najmul Ula. 085642693821 (whatsapp). Seorang penderita rabun politik, anggap saja pesepakbola gagal yang tak mau meninggalkan lapangan hijau. Bisa dihubungi lewat @najmul_ula.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *