Sevilla: Menanti Warna Baru Bersama Pablo Machin

Beberapa waktu lalu, Sevilla FC telah menunjuk pelatih baru untuk mengarungi musim 2018-19. Bukan Joaquin Caparros yang menangani tim sejak Vincenzo Montella dipecat, atau nama-nama tenar lainnya. Sevilla resmi menunjuk Pablo Machin yang sebelumnya menangani Girona untuk menjadi pelatih kepala di musim depan, ia dikontrak selama dua musim.

Penunjukan Machin tentunya bukan tanpa alasan. Musim lalu ia sukses mengantarkan Girona bertengger di posisi 10 klasemen La Liga. Hal itu merupakan sebuah pencapaian bagus mengingat musim 2017-18 merupakan musim perdana Girona dan Machin tampil di kasta tertinggi sepakbola Spanyol. Pencapaian itu dipercantik dengan hasil-hasil mengejutkan seperti ketika mereka mengalahkan Real Madrid dan Villarreal. Pencapaian itulah yang mungkin menjadi pertimbangan manajemen Sevilla untuk menunjuk Machin meskipun ia baru semusim melatih di La Liga.

Apa yang diperoleh Girona tentu tak lepas dari andil besar seorang pelatih. Meskipun musim lalu adalah musim debut Girona di La Liga, namun hal itu tak membuat Machin merombak total skuadnya yang belum berpengalaman mentas di La Liga.

Untuk menambah kedalaman skuad, Girona tidak sembrono dalam membeli pemain. Pemain-pemain pinjaman dari Manchester City (kecuali Marc Muniesa) dan beberapa pemain lain dirasa cukup untuk mengarungi musim debut Blanquivermell di La Liga. Pemain-pemain yang dibeli adalah pemain yang sudah tak asing dengan sepakbola Spanyol seperti Bernardo Espinosa dan Christian Stuani.

Sebagai tim promosi, Girona tampil memukau pada musim perdananya di La Liga.

Selain strategi transfer yang tepat, strategi di lapangan juga menjadi faktor utama keberhasilan Girona. Salah satu hal yang paling mencolok yang membedakan Machin bersama Girona adalah penggunaan formasi yang jarang digunakan secara reguler oleh klub LaLiga lain di musim 2017/18. Tiga bek sentral diapit oleh dua wingback yang siap naik turun untuk menyerang dan bertahan. Lini tengah memiliki dua pemain untuk menjaga kestabilan dan dua gelandang serang yang siap untuk menopang striker tunggal.

Formasi seperti ini memastikan bahwa Girona mempunyai lebih banyak pemain dibandingkan sang lawan ketika bertahan maupun memulai serangan. Pendekatan Machin tampak sederhana, ia ingin timnya menguasai lini tengah dan seimbang dalam bertahan dan menyerang.

Ketika lawan menyerang, tiga bek tengah dan dua gelandang menciptakan blokade yang sulit ditembus di tepi area penalti. Ketika Girona menyerang, tugas gelandang serang dan penyerang mereka adalah untuk membuka ruang dan meregangkan pertahanan lawan, membuka jalan bagi gelandang dan wingback untuk build-up dan mengirimkan umpan silang ke kotak penalti lawan.

Filosofi dan taktik Machin memang berhasil di Girona, namun tetap saja apa yang ia lakukan di Girona belum tentu berhasil di Sevilla. Menangani klub besar seperti Sevilla, Machin tentu tak boleh terlalu mengandalkan satu formasi saja di sepanjang musim, apalagi Sevilla tampil di tiga ajang berbeda musim depan.

Sosok Pablo Machin akan terus diingat Girona setelah mampu membawa mereka promosi.

Pengalaman yang minim juga dapat menjadi hambatan Machin di Sevilla, ia baru semusim melatih di kasta tertinggi sepakbola Spanyol. Sebelumnya ia hanya pernah melatih Numancia dan Girona di Segunda Division. Sevilla tentu berbeda dengan Girona maupun Numancia, tekanan dan tantangan yang lebih berat akan menanti Machin di Sevilla. Jika Eduardo Berizzo dan Vincenzo Montella yang punya pengalaman lebih banyak bisa gagal, apalagi Machin yang belum punya banyak pengalaman di kasta tertinggi.

Akan tetapi, sepakbola bukanlah hal yang mudah diprediksi, dengan pengalaman yang minim, bukan berarti Machin tak bisa sukses di Sevilla. Manajer 43 tahun itu mampu membawa kestabilan di Girona dengan sumber daya seadanya, jadi bukan tidak mungkin ia akan membawa kestabilan di Sevilla setelah menjalani musim bak roller-coaster. Selain itu, keberaniannya untuk menggunakan formasi yang anti-mainstream di La Liga tentu akan menjadi warna tersendiri bagi Sevilla dalam menyongsong kompetisi mendatang. Terlebih kini ia didukung dengan sumber daya yang lebih baik.

Machin adalah orang yang mempunyai semangat dan ambisi, hal ini terbukti sejak ia menangani Numancia. Ketika ia sudah mampu membawa Numancia stabil di Segunda Division, ia mampu meninggalkan zona nyamannya dan pindah ke Girona yang hampir terdegradasi.

Musim 2017/18 Sevilla hanya mampu finish di zona playoff Europa League musim 2018/19.

Keberaniannya itu membuahkan hasil, setelah Girona mampu ia bawa ke zona playoff dua musim berturut-turut. Tidak puas hanya hampir promosi, pada akhirnya ia mampu membawa Girona promosi dan bertahan di La Liga. Selain itu, ia juga orang yang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi. Ketika diwawancara oleh Marca tentang siapakah pelatih yang ia jadikan contoh, ia menjawab dengan mantap “Pablo Machin, aku mempunyai ide sendiri, bukan Mourinho, Guardiola, atau Del Bosque.” Jawabnya kala itu.

Berhasil atau tidaknya Sevilla di tangan Machin mungkin hanya bisa dijawab oleh waktu dan Machin sendiri. Akan tetapi, melihat apa yang telah ia capai di Girona dan Numancia serta karakter yang ia punya, rasanya Sevilla tidak akan menyesal untuk memercayakan kursi kepelatihan pada Machin. Yang jelas, penunjukan Pablo Machin sebagai pelatih akan membawa warna baru bagi Los Nervionenses.


Gatra Drestanta. 081806013854 (whatsapp). Bocah dari pinggiran ibukota yang demen banget ama sepakbola. Bisa dihubungi di @gatra1928.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *