Sepakbola yang Unik dan Menarik Itu Ada di Wales!

Wales adalah Gareth Bale, lalu Ryan Giggs,  kemudian Aaron Ramsey dan masih banyak lagi. Oh, dan juga klub seperti Swansea City dan Cardiff City akan terlintas di pikiran. Namun bagaimana dengan TNS? Bangor City? Siapa mereka?

Selamat datang di rumah dari pesepakbola termahal di dunia, sebuah negara di mana semua pemain timnas mereka bermain di luar negaranya sendiri. Selain itu klub top seperti Swansea City serta Cardiff City dan yang masih kurang terdengar gaungnya di Indonesia seperti Newport County, Wrexham, Merthyr Town dan Colwyn Bay bermain di liga Inggris. Di sisi lain ada juara Welsh Premier League, The New Saints, bermarkas di Shropshire, Inggris. Sepakbola di Wales rumit dan juga mengundang keingintahuan.

Tahun 2016 menjadi momen spesial bagi puluhan ribu penggemar sepak bola Wales. Pasalnya, untuk kali pertama sejak tahun 1955 mereka dapat mendukung timnas Wales di turnamen bergengsi sekelas Piala Eropa. Tak hanya itu, Swansea City menjadi pembicaraan beberapa musim terakhir karena model pemasaran serta gaya permainan mereka yang menarik di liga yang paling banyak dibahas (baca: English Premier League). Kemudian hal-hal kontroversial yang terjadi di Cardiff City bersama Vincent Tan cukup mencuri perhatian khalayak.

Liga domestik Wales juga meningkat  kualitasnya, jika ada yang peduli untuk melihat.  Beberapa pihak yang merasa dicurangi mungkin akan mengklaim bahwa Wales Premier League (WPL) hanyalah sebuah tipu muslihat, liga yang “hanya” dihidupkan sehingga Wales dapat terus menampilkan tim nasionalnya sendiri. Dibalik itu, memang benar adanya bahwa WPL baru diperkenalkan pada tahun 1992, saat kritik dari federasi sepakbola di Afrika dan Asia sedang gencar menyerang Wales karena diizinkan untuk bersaing secara internasional ketika tampaknya tim sepakbola domestik mereka seluruhnya bermain di Inggris.

Timnas Wales merayakan keberhasilan mereka lolos ke Piala Eropa 2016

Dengan berbagai perkembangan yang disertai banyak rintangan dan hambatan, saat ini kuota sebanyak empat klub diberikan bagi wakil WPL untuk berlaga di kompetisi Eropa. Meski harus dari babak kualifikasi pertama, kesempatan ini tentu merupakan suatu kemajuan bagi sepakbola Wales. Situasi ini juga menjadi momen emas untuk menunjukkan diri bahwa mereka merupakan representasi sang Naga (hewan yang ada di bendera Wales) yang sebenarnya daripada Gareth Bale ataupun Swansea City.

Sepakbola domestik di Wales itu sendiri terjebak di antara dua raksasa. Si selatan negeri itu, rugby adalah olahraga paling populer dan dua klub sepakbola terbesar “mereka” yakni Swansea City dan Cardiff City tetap dibiarkan bermain di liga Inggris. Sementara bagian utara di mana sembilan dari 12 klub WPL bermarkas, sepakbola merupakan magnet bagi para penduduk. Namun mereka lebih condong mendukung tim Inggris yang mempunyai pemain berkewarganegaraan Wales daripada tim WPL.

“Ada perjalanan bus reguler sepanjang pantai utara Wales yang mengangkut para penduduk menuju Anfield, Goodison Park, Old Trafford dan lainnya,” tutur Andrew Howard, kepala kompetisi FAW kepada The Guardian.

 

“Tapi di selatan, di mana rugby benar-benar jadi pusat perhatian media, fakta bahwa Swansea dan Cardiff akhirnya dapat mencicipi bermain di EPL memunculkan penggemar sepakbola baru. Bersama dengan fenomena Gareth Bale, berarti lebih banyak anak-anak yang ingin menjadi pemain sepakbola dan mulai bermimpi menjadi Bale berikutnya daripada Sam Warburton (bintang rugby Wales) berikutnya. Sepakbola Wales akan mendapatkan keuntungan dari meningkatnya minat di tingkat akar rumput yang kemudian berdampak ke WPL serta tim nasional.” tutup Howard.

Tak satu pun ada dari skuad Wales saat ini yang pernah bermain di Premier League Welsh, meskipun manajer saat itu, Chris Coleman setidaknya kadang menghadiri pertandingan lokal. Begitu juga peningkatan jumlah penonton yang melawan tren penurunan umum di seluruh Eropa. Kehadiran rata-rata di pertandingan WPL naik 3% musim lalu yang berarti setara dengan peningkatan sekitar 10 orang per pertandingan dalam hal yang sebenarnya, dengan kehadiran rata-rata sekitar 350 penonton di satu pertandingan WPL.

Walau jumlah penonton bertambah sedikit, banyak perubahan lain yang harus dicermati. “Tingkat kehadiran memang belum meningkat secara signifikan namun liga sedang meningkat dalam hal infrastruktur dan organisasi, dan juga menjadi lebih kompetitif,” kata Andrew Lincoln, direktur komunikasi klub Airbus UK Broughton. “WPL adalah liga yang menyenangkan untuk diikuti.”

Swansea City tampil menggila di musim 2012/13 dan lolos ke Europa League

Dua inisiatif baru-baru ini telah membantu mendorong liga Wales menjadi kompetitif dan menarik. Pertama, WPL memotong jumlah klub di divisi utama dari 18 menjadi 12 klub di musim 2010/11. “12 tim adalah ukuran yang tepat untuk sebuah negara kecil dengan tiga juta orang dan itu membantu mendistribusikan uang yang tersedia di kompetisi menjadi lebih berimbang,” kata Lincoln. “Ini juga berarti bahwa setiap musim sepertiga dari klub di liga bisa lolos ke kompetisi Eropa, sehingga membantu membuat liga lebih menarik.”

Kedua, setelah penyelidikan bersama pemerintah Welsh untuk mengembangkan liga domestik, Football Association Wales (FAW), telah berinvestasi untuk mengubah klub lokal menjadi “hubungan masyarakat”. Sebagai bagian dari program ini, FAW telah mendanai pembangunan lapangan 3G dimensi, dengan tiga perempat dari klub papan atas akan memiliki satu lapangan serbaguna yang dapat dipakai di segala cuaca pada akhir musim ini.

“Dulu kasus bahwa latihan dibatalkan ketika cuaca buruk, yang berarti anak-anak tidak bisa melakukan apa-apa jika kita memiliki musim dingin yang buruk, tetapi dengan lapangan 3G dimensi mereka selalu bisa bermain. Jika keluarga terbiasa untuk pergi ke klub untuk berolahraga, maka, setelah mereka telah merasakan kehangatan klub tersebut, mereka mungkin pergi ke sana di akhir pekan untuk menonton tim lokal. Idenya adalah untuk membuat klub sepak bola tempat di mana orang pergi setelah pulang sekolah atau bekerja. Itu adalah cara untuk mendapatkan fans baru. Kami sudah mulai melihat kenaikan jumlah remaja yang datang ke pertandingan WPL, di mana tiket sangat terjangkau dengan range antara £ 5 sampai £ 8. ”

Bagaimana dengan kualitas permainan? “Pastinya ikut naik,” kata Howard. “Kami memiliki pemain dan manajer yang meninggalkan WPL beberapa tahun yang lalu untuk berlaga di Conference (divisi lima-enam di Inggris ) dan kemudian kembali lagi dan mengatakan mereka tidak percaya bahwa standar telah meningkat di sini. Mereka mengatakan setidaknya WPL sama kualitasnya dengan Conference. ”

Pemandangan unik di sekitar lapangan kandang Airbus UK FC

Andrew Lincoln menganggap bahwa hal itu adalah barometer baik. “Saya telah terlibat dalam WPL selama 12 tahun dan ambisi saya adalah klub WPL untuk semakin mirip dengan klub Conference, perwakilan nyata masyarakat yang rutin ditonton oleh setidaknya beberapa ribu orang setiap minggu. Pencapaian itu akan membutuhkan investasi yang lebih besar dari sponsor atau Asosiasi Sepakbola Wales.”

Investasi tersebut meningkat perlahan. Untuk musim 2015/16 WPL baru saja menyetujui kesepakatan sponsor dengan Dafabet yang merupakan rekor baru dan kesepakatan penyiaran dengan S4C – tapi ada hal yang jauh lebih dibutuhkan dan harus dikejar. Akan sangat membantu jika klub Wales menunjukkan peningkatan kualitas mereka dengan kemenangan di Eropa. Newtown FC misalnya, mereka menerima dana 200 ribu Pounds setelah lolos ke putaran pertama kualifikasi UEL, jumlah yang hampir sama dengan omset tahunan mereka. Angka tersebut didapat setelah memastikan diri lolos ke babak kedua setelah mengalahkan tim Malta, Valtese yang berarti mereka sudah untung besar dengan musim WPL 15/16 belum juga dimulai.

Namun, perkembangan tim WPL di kompetisi kontinental sangat kurang. Musim lalu, Aberystwyth Town kalah dengan agregat  9-0 atas Derry City yang berasal dari Irlandia, di mana liga sepakbola mereka bersaing dengan olahraga Gaelic dan klub sepak bola Inggris untuk memperebutkan pemain dan fans baru. Sebuah tantangan yang sama dengan yang dihadapi oleh klub Wales.

Kekalahan ini memunculkan perdebatan baru tentang kemungkinan WPL berpindah kalender liganya dari Agustus-Juli menjadi Januari-Desember, karena Irlandia telah melakukan hal ini sejak satu dekade lalu dalam upaya untuk meningkatkan hasil di Eropa dan merebut perhatian masyarakat ketika tim di Inggris sedang libur dan tidak menawarkan hiburan yang mengurang atensi masyarakat terhadap liga Irlandia.

Skuat utama Newtown AFC di musim 2017/18

“Aberystwyth tidak akan babak belur di tangan Derry jika Aberystwyth mampu menunjukkan kualitas mereka yang sebenarnya,” kata Howard. “Sebaliknya, mereka hanya melakoni dua laga pra-musim melawan tim yang lebih rendah sebelum berlaga di Eropa, sementara Derry berada di tengah-tengah musim domestik mereka.”

“John Deakin, mantan sekretaris WPL, adalah pendukung kuat agar liga Wales berlangsung di tengah musim panas, tetapi pada akhirnya dia tidak bisa mengubah jadwal, karena sebagian besar klub dan fans menentang hal itu. Masih banyak tradisionalis dalam sepak bola Wales.”

“Saya tertarik setelah melihat survei BBC awal bulan Juni ini yang mengatakan 27 dari 42 klub liga Skotlandia akan mempertimbangkan untuk beralih kalender liga. Ada argumen yang kuat untuk mencoba hal itu dan jika kita juga mencobanya di Wales dan akhirnya sistem tidak bekerja, kita selalu dapat mengubahnya kembali, ” simpul Howard.

Bahkan tanpa perubahan kalender liga, klub Wales memasuki kampanye Eropa musim ini dengan sedikit rasa optimis. Dari ajang Europa League, hanya Newton AFC yang lolos ke babak kedua kualifikasi setelah mengalahkan Valletta dengan Bala Town serta AUK Broughton tersingkir masing-masing oleh Differdange dari Luksemburg dan Lokomotiva Zagreb. Sementara itu, dari Liga Champions sekali lagi menghadirkan pertanyaan yang tidak mengenakkan bagi pengikut setia WPL: Apakah mereka akan mendukung The New Saints (TNS) untuk menang atau tidak?

Pemandangan kala TNS memainkan laga kualifikasi Liga Champions

Pertanyaan itu muncul lantaran TNS merupakan anugerah sekaligus beban bagi WPL. Klub yang sebelumnya dikenal sebagai Total Network Solution -nama yang sama dengan perusahaan yang mendirikan mereka yang akhirnya dijual ke BT oleh Mike Harris- telah memperoleh manfaat dari investasi mewah pemilik mereka. Manfaat itu adalah memungkinkan mereka untuk mempertahankan satu-satunya skuad profesional di liga yang membuat mereka menjadi juara liga Wales selama empat musim terakhir. Dengan tim lain di WPL mencoba untuk mengejar ketinggalan, tetapi untuk saat ini TNS tampaknya hampir pasti selalu mendapat tiket tahunan ke Liga Champions, di mana peserta bahkan sudah mendapat 300 ribu Pounds di putaran pertama kualifikasi.

Tidak heran jika Harris menganggap sampah saran kepada timnya, yang berlaga di WPL dengan stadion berada di Oswestry, Shropshire, untuk pindah ke di liga Inggris. “Anda tidak mengharapkan tim Inggris seperti Manchester United atau Liverpool untuk mencari liga yang lebih kompetitif seperti Liga Spanyol atau Jerman ketika mereka menikmati dominasi mereka di masa lalu dan,sama halnya juga, tidak masuk akal bagi The New Saints untuk mempertimbangkan untuk pindah sekarang,” kata Harris dalam sebuah surat terbuka kepada kritikus musim lalu.

Dalam surat itu, Harris juga menawarkan saran kepada klub Wales lain dan dengan demikian menunjukkan mengapa TNS yang tidak dicintai oleh banyak orang di Wales. “Tentunya klub lain harus fokus untuk meningkatkan standar mereka dengan berusaha mendatangkan pemain muda ataupun pemain profesional, bukan hanya pemain tua ataupun pemain paruh waktu.Tambahkan juga pelatihan lebih intensif, maka mereka mungkin akan mencapai sukses yang lebih besar daripada TNS. ”

Dalam tiga musim terakhir TNS telah tereliminasi di babak pertama. Tapi di musim 2015/16 menjadi menarik karena telah memberi mereka untuk menembus halangan yang ada. B36 Torshavn, juara dari Kepulauan Faroe mampu mereka kalahkan untuk selanjutnya TNS akan berhadapan dengan jawara Hungaria, Videoton. Lolos dari babak kedua dan kesempatan melaju ke babak grup UCL ataupun UEL semakin besar. Kemajuan seperti akan, tentu saja, akan mengorbankan dominasi TNS di kompetisi domestik tetapi Howard mengatakan pada akhirnya kesuksesan mereka di Eropa akan menguntungkan WPL.

TNS FC pernah gusur Ajax Amsterdam sebagai tim yang meraih 27 kemenangan beruntun dalam kalender setahun

“Akan sangat baik untuk sepak bola Wales jika TNS bisa melakukan hal yang sama seperti Shamrock Rovers lakukan beberapa tahun yang lalu ketika mereka mampu mencapai tahap grup Liga Europa,” kata Howard.

“Orang-orang mengatakan saat itu bahwa Rovers akan memonopoli Liga Irlandia tapi hal itu tidak terjadi. Selain itu, Bangor memenangkan liga di sini lima tahun yang lalu (sebelum dominasi TNS) ketika skuad mereka diisi pemain paruh waktu. Dengan adanya lapangan 3G, yang sebelumnya hanya TNS yang punya, akan membantu menutup kesenjangan liga, juga meningkatkan kualitas bermain tim lain serta menghasilkan pendapatan baru untuk klub dengan menyewakan fasilitas tersebut.Ditambah dengan TNS mampu berbuat banyak di Eropa, hal ini benar-benar akan meningkatkan profil dari liga domestik,” tutup Howard.

Dengan berlaganya Newtown dan TNS yang mampu lolos ke babak kedua kualifikasi di ajang Eropa, setidaknya kita dapat memberikan sedikit perhatian kepada WPL di musim-musim selanjutnya. (Disadur dari artikel di The Guardian dan mengangkat momen di musim 2015/16)


Penulis: Wilibrordus Bintang Hartono. Sedang menumpang di Yogya untuk kuliah, menikmati makan dan membaca buku.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *