Reunion, AS Excelsior dan Negara Penghasil Talenta Sepakbola Berbakat Prancis

Alkisah, di awal tahun baru 2017 ada sebuah klub dari negara nun jauh di sana yang jauh-jauh bertamu ke Prancis untuk bermain melawan salah satu klub besar di sana. Saking jauhnya, klub tersebut harus menempuh jarak hampir 10.000 km hanya untuk bermain selama 90 menit disana.

Bagi yang penasaran negara apakah yang dimaksud, silahkan anda cari istilah bahasa inggris dari bertemu dengan kawan yang sudah lama tidak jumpa di google translate. Sudah ketemu jawabannya? Jika sudah, ucapkan Alhamdulillah atau Puji Tuhan..

Bagi yang belum tahu, negara tersebut adalah Reunion. Sebuah negara kecil di lepas pantai Afrika dengan luas 2.511 km persegi dan berbatasan dengan pulau Madagaskar. Negara ini pun masih termasuk negara regional luar wilayah Prancis dan dinaungi oleh Departement D’outre-Mer atau Departemen seberang laut Prancis sejak tahun 1946.

Saint-Denis, salah satu kota cantik di Reunion.

Pada hari Sabtu (7/1/2017), salah satu klub dari Reunion, AS Excelsior merantau sejauh 19.000 km ke wilayah Lille, Prancis untuk bertanding melawan LOSC Lille dalam lanjutan 64 besar Coupe de France musim 2016-2017 meskipun akhirnya kalah 4-1 dari sang tuan rumah. Klub yang bermarkas di kota Saint-Joseph itu berhasil melaju ke babak 64 besar setelah menjalani delapan babak awal, termasuk babak pertama kualifikasi Coupe de France zona Reunion. Meski begitu, AS Excelsior memberikan sebuah pencapaian terbaik yang pernah didapat oleh klub-klub asal Reunion yang pernah mengarungi turnamen ini.

AS Excelsior tidak langsung bisa mencapai 64 besar Coupe de France tanpa turnamen yang menunjang. Dibawah naungan Federasi Sepakbola Prancis, Federasi Sepakbola Reunion mempunyai kompetisi liga yang berjenjang dari Divisi satu (D1 Regionale) hingga divisi empat (D3 Departmentale) dengan JS Saint-Pierroise, klub dari kota Saint-Pierre, sebagai klub tersukses dengan 17 gelar juara D1 Regionale, liga kasta atas piramida liga Reunion sejak liga dimulai pada tahun 1950.

Selain itu sepakbola Reunion juga termasuk konsisten dalam menjalankan kompetisi kelompok umur yang berada di bawah pantauan Federasi sepakbola Prancis. Di ranah ini bisa dimanfaatkan Prancis untuk mencari bakat-bakat muda yang bisa dimasukkan ke klub, bahkan bisa jadi proyeksi untuk dimasukkan ke timnas Prancis berikutnya.

AS Excelsior dalam sesi latihan.

Untuk kasta liga teratas sendiri D1 Promotionelle terdiri atas 14 klub dan memperebutkan satu tempat di kualifikasi CAF Champions League jika meraih juara di klasemen akhir liga, sedangkan dua tim terbawah harus turun ke Division 2 Regionale. Di musim lalu, JS Saint-Pierroise menjadi jawara dan melengkapi torehan gelarnya menjadi 17 gelar juara. Pada saat itu JS Saint-Pierroise memboyong mantan pemain Liverpool, Djibril Cisse menjadi ujung tombak mereka.

Selain itu Reunion juga mempunyai kompetisi Coupe de la Reunion, sebuah turnamen antar klub Reunion yang juga sekaligus menjadi babak kualifikasi menuju Coupe de France. Di turnamen itu, dua klub yang mencapai  final Coupe de la Reunion mendapat jatah lolos ke babak tujuh Coupe de France dan bersaing dengan beberapa tim dari negara-negara regional Prancis lain seperti Guyana Prancis, Tahiti, Guadeloupe, Kaledonia Baru dan lainnya.

Ex bintang Liverpool, Djibril Cisse pernah membela JS Saint-Pierroise.

Untuk sekedar informasi, kontestan Coupe de France yang berasal dari luar wilayah Prancis seperti Reunion mendapat keringanan dari pihak federasi sepakbola Prancis yaitu akomodasi dari keberangkatan, penginapan hingga pulang kembali ke negara asal.

Reunion sejatinya menjadi negara regional Prancis juga menghasilkan talenta-talenta berbakat yang bersinar di liga Eropa. Dimitri Payet, menjadi salah satu contoh pemain asal Reunion yang meraih prestasi yang baik di timnas Prancis dengan menjadi finalis EURO 2016. 

Payet adalah salah satu pemain Prancis asal Reunion yang memiliki torehan bagus. Mengawali karir di AS Excelsior, lalu terbang ke Prancis dan bermain di sejumlah klub Ligue 1 seperti LOSC Lille dan Marseille. Di sana ia mencapai torehan luar biasa hingga Slaven Bilic memboyongnya ke West Ham United dan menjelma menjadi pemain penting skuad The Clarets.  Di pertandingan Coupe de France antara LOSC Lille vs AS Excelsior pun Payet hadir kembali ke Stade Pierre-Mauroy dan menjadi tamu spesial dalam pertandingan tersebut.

Dmitri Payet mencuri perhatian di ajang Piala Eropa 2016 lalu.

Selain Payet, sepakbola Reunion juga menghasilkan beberapa talenta-talenta lain seperti Florent Sinama-Pongolle, Guilaume Hoarau, dan legenda mereka, Jean-Pierre Bade yang bermain di sejumlah klub Prancis di era 70-80an dan sekarang menjadi pelatih di salah satu klub Reunion, JS Saint-Pierroise. Dengan fakta tersebut, jangan heran di beberapa tahun ke depan makin banyak pemain asal Reunion yang cemerlang ketika bermain di liga top flight Eropa.

Sepakbola adalah olahraga paling universal dan mudah diterima di berbagai negara, dari negara yang sudah merdeka ataupun yang masih butuh sokongan dari negara-negara “penjajahnya”. Meskipun secara prestasi sepakbola negara Reunion bukanlah yang terbaik, namun dalam urusan menciptakan talenta muda, negara Reunion tidak bisa dianggap sebelah mata.


Penulis: Imam Santoso (@idsantos_94). Pengamat sepakbola kacangan yang suka ketiduran di babak kedua. Addicted to Indomie Goreng Rendang, Badminton, Music, and JSCVRND.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *