Polemik: Jika Stoke City Terdegradasi, Siapa yang Patut Disalahkan?

Dua klub Inggris yakni Sunderland dan Stoke City sama-sama mengusung panji merah-putih vertikal, keduanya pun sejauh ini berdiri di sisi gelap klasemen masing-masing divisi. Nama pertama disorot Lousie Taylor dalam kolomnya di The Guardian sebagai klub yang rusak di dalam dan luar lapangan, siapa pun pelatih yang datang ke sana niscaya akan kehilangan sentuhannya. Tanyakan kepada Chris Coleman jika tidak percaya…

Sebetulnya, menarik ketika kita membandingkan bakal calon peserta League One tersebut dengan kiprah Stoke City. The Black Cats -julukan Sunderland- mempekerjakan sembilan orang berbeda di kokpit manajerial (tidak menghitung Nial Quinn dan Kevin Ball selaku caretaker) selama sepuluh musim di kasta tertinggi sampai musim lalu. Dalam rentang waktu similar, The Potters -julukan Stoke City- memberi Tony Pulis dan Mark Hughes masing-masing lima musim dan empat setengah musim. Dengan ditambah Paul Lambert yang sekarang menggelar rezim, Stoke “hanya” ditukangi tiga orang manajer, juga selama sepuluh musim.

Chris Coleman belum mampu membalikkan arah angin di Stadium of Light dan sudah berkeluh kesah ke media. Manajer asal Wales ini berkata, “Para penggemar membutuhkan orang yang sungguh peduli kepada klub. Cinta Ellis Short untuk klub ini sudah berlalu”. Bukan tanpa alasan Coleman berkata demikian, pasalnya mereka teronggok miris di dasar klasemen Championship, sangat terancam terpisah dua kasta dari rival kesumat Newcastle United.

Lantas bagaimana nasib Stoke City?

Kolomnis lokal, James Whittaker sudah mengingatkan jauh-jauh hari bahwa Mark Hughes tidak lagi punya ide untuk mengendalikan skuad mewah Stoke City. Setelah tiga musim berturut-turut menempati paruh atas klasemen di peringkat sembilan, skuat asuhan Hughes oleng ke posisi 13 di musim keempat. Whittaker mencatat di musim itu Glenn Johnson dkk menderita terlalu banyak gol—kebobolan empat gol atau lebih dalam tujuh pertandingan- tetapi tidak ditindaklanjuti dengan perekrutan cermat di bursa transfer.

Sosok Mark Hughes yang gagal memberi sesuatu spesial bagi the Potters dalam tiga tahun terakhir.

Sekilas kedatangan figur mentereng di jantung pertahanan macam Kurt Zouma, Bruno Martins Indi, dan Kevin Wimmer tampak menjanjikan. Sayangnya, klub memutuskan tidak membeli bek sayap baru, yang berarti memaksakan striker Mame Biram Diouf di pos bek kanan, berpasangan dengan bek kiri Erik Pieters yang inkonsisten. Kaya akan pilihan di pos bek tengah, Hughes mencoba penerapan formasi tiga-bek yang sayangnya berjalan keropos oleh sebab Ryan Shawcross cedera dan Kevin Wimmer yang bermain bak amatiran. Saat Hughes (akhirnya) dipecat, Stoke sudah kebobolan 50 gol, terbanyak di lima liga besar Eropa.

Perburuan mencari sang pengganti pun dimulai. ESPNFC mengisahkan pengejaran tiga kandidat yang semuanya gagal diteken: Gary Rowett sedang mengerjakan proyek besar (mengejar promosi) di Derby County, mereka memberi keleluasaan bagi pelatih muda Inggris ini dan sang pelatih pun memilih bertahan; Incaran seberang lautan Quique Sanchez Flores bahkan sudah “dijemput”, tapi perwakilan klub yang melamarnya di Espanyol malah menerima ucapan “Pekerjaan ini bukan untukku”; Martin O’Neill agak memusingkan karena dia tidak menepis rumor kembali menukangi klub walau sudah menyetujui secara verbal kontrak baru dari tim nasional Irlandia. Pada akhirnya dia meng-hitamputih-kan kontrak itu.

Keengganan para kandidat utama membuat manajemen memalingkan muka ke pasar manajer tunakarya. Dari sekian nama-nama lawas, Paul Lambert akhirnya didapuk terhitung sejak laga versus Huddersfield bulan Januari lalu. Menjadi pilihan ke sekian, ia harus melahap realita bahwa sesungguhnya ia bukan sosok populer di mata penggemar dan para pengamat.Sejatinya, Paul Lambert sendiri tak peduli. Ia berkata;

“Mungkin nama (pelatih) lain disebut (lebih dulu), mungkin juga tidak. Itu bukan masalah. Stoke adalah klub fantastis. Manajemen mempercayai saya dan saya siap melakukannya,” cetusnya kepada Mirror.

Mark (Hughes) mengerjakan tugasnya dengan baik dan (disokong) banyak pemain bertalenta di sini. Namun mungkin secara tim mereka sedang berada sedikit di bawah standar yang mereka bangun sendiri. Tugas saya ialah mengerek mereka ke standar itu lagi.”

Kedalaman skuat yang mumpuni tak membuat Stoke City menjauhkan zona degradasi.

Para pandit pun mulai menyodorkan beragam penerawangan. David Dubas-Fisher di Stoke Sentinel menggunakan metode kuantitatif-historis dengan menyajikan rata-rata poin per laga (PPL) Lambert ketika menangani klub di tengah musim. Ia mencatatkan peningkatan rerata PPL sebesar 1,4 poin dalam 10 laga bertama bersama Norwich.

Aston Villa mendapat guyuran 1,1 PPL dalam jumlah laga yang sama. Begitu pula di Wolverhampton, ia memberikan 1,5 PPL. Dengan Stoke hanya membukukan 0,87 PPL hingga saat Lambert masuk (pekan 20), Stoke memerlukan peningkatan hingga 1,33 PPL untuk mencapai angka psikologis 40 poin. Pada perjalanannya, sesudah 7 laga berkuasa, Lambert “berhasil” mengais 7 poin (PPL=1). Bila PPL ini berlanjut hingga musim berakhir, Stoke akan mendapat 35 poin, tidak cukup banyak untuk menyelamatkan diri, tapi dengan semrawutnya papan bawah Liga Inggris musim ini, angka itu bisa jadi sudah aman.

Paul MacInnes melalui artikelnya di The Guardian juga melayangkan optimisme. Ia berujar, biar pun Lambert bukan sosok yang “seksi”, ia tidak pernah terdegradasi dari Liga Inggris. Lambert disebutnya “punya sesuatu untuk dibuktikan” dan “sanggup memaksimalkan sumber daya yang ada”. Well, Lambert ketambahan amunisi berwujud gelandang Badou Ndiaye, bek kanan Moritz Bauer, dan bek kiri Kostas Stafylidis. Dua nama pertama sudah mematenkan tempat di masing-masing pos, sedangkan nama terakhir baru muncul di dua laga terbaru. Yang jelas, Stoke City terlihat lebih komplet dengan kehadiran mereka.

Mampukah Paul Lambert membawa the Potters bertahan di Premier League?

Alexander Carson di SBNation mewanti-wanti penggemar agar bersiap-siap menyaksikan kembali sepak bola negatif di Bet365 Stadium. Pada hari terbaiknya Lambert mampu menampilkan pertahanan grendel bersenjatakan counter attack mematikan. Resep ini tentu mengingatkan publik pada keperkasaan era Tony Pulis. Stoke mem-branding merk sendiri bersama Pulis dengan menghabiskan waktu di area sendiri hampir di semua pertandingan. Yeah, Stoke versi Lambert baru kebobolan enam gol dari tujuh pertandingan, jadi pernyataan Carson di atas “ada benarnya”.

Asa Stoke untuk sintas memang memungkinkan, tetapi jika akhirnya degradasi itu terjadi, harus ada orang yang dimintai pertanggungjawaban. James Whittaker menyorongkan chairman Peter Coates akibat kelambanannya merumahkan Mark Hughes. Kita bisa menyanggah pendapat itu dengan argument bahwa Coates menyediakan bek kanan dan bek kiri baru untuk Lambert, dua posisi yang dikritisi Whittaker di awal musim.

Bagaimanapun semua kendali teknis berada di tangan pelatih, sehingga bila Stoke City tampil gurem, sosok Mark Hughes-lah yang harus disalahkan. Di sisi lain, manajemen yang seharusnya responsif menyikapi kejadian teknis di lapangan, ternyata melakukan pembiaran meski melihat sendiri Hughes gamang menata tim. Kita hanya bisa berandai-andai, di mana posisi Stoke bila Hughes dipecat lebih awal? Atau, bagaimana nasib Stoke bila Paul Lambert datang lebih dini?


Penulis: Mukhammad Najmul Ula. Seorang penderita rabun politik, dan anggap saja pesepakbola gagal yang tak mau meninggalkan lapangan hijau. Bisa dihubungi lewat @najmul_ula (twitter) atau Najmul.ula@gmail.com (email).

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *