Polemik: Apakah West Ham Gagal Mengantisipasi Perubahan Identitas?

“Lapangan ini akan lebih dulu menjadi arena pertandingan Championship (divisi dua Inggris – ed.) daripada ajang Eropa.” Menertawakan diri sendiri bagi para pendukung West Ham United merupakan salah satu obat atas kekecewaan karena pindah dari Boleyn Ground ke London Stadium pada 2016. Memasuki Maret 2018, anekdot itu mendekati kenyataan.

Upton Park yang ditinggalkan demi alasan kemajuan, “rebranding” jika menggunakan bahasa Karen Brady, malah berakhir dengan derita. Olympic Stadium merupakan simbolitas bahwa ketika kemajuan diusahakan lewat fondasi ringkih, bentuk akhirnya adalah bangunan yang timpang dan runtuh perlahan-lahan.

West Ham sekarang adalah korban dari ambisi yang tidak memiliki tujuan yang jelas. Target jangka pendek berperan sebagai gelembung-gelembung kecil yang mengaburkan balon ambisi besar akan masa depan yang sedang kembang-kempis.

Memang jika semua dinilai dengan bisnis, West Ham berhasil meraih peringkat 17 terbaik dunia versi Deloitte 2016-17. Akan tetapi, kita disuguhkan kenyataan bahwa angka 48 juta Pounds berasal dari adalah kontrak siaran televisi baru serta penjualan pemain berdasarkan lansiran @SwissRamble.

Brady menelan ludahnya sendiri dengan mengatakan bahwa London Stadium menghasilkan profit yang sama dengan Boleyn, terlepas kehadiran jumlah penonton yang bertambah 20 ribu orang di stadion baru. Orang-orang baru juga terkena sasaran kritik karena gagal menghadirkan atmosfir lama a la stadion lama. Terlepas bahwa ini juga dipengaruhi oleh romantisasi berlebihan kisah pendukung West Ham circa 2000, kritikan ini telah benar menggambarkan perubahan makna suporter bagi klub ini.

Suporter mau hadir di pertandingan dengan logika bahwa mereka ingin menikmati permainan, bukan karena fasilitas dan bentuk stadion. London Stadium awalnya menyambut penonton yang sedang terkena demam Slaven Bilic. Ya, pria Kroasia ini membawa West Ham ke peringkat 7 pada 2015-16 dengan gaya bermain aktraktif bersama Dimitri Payet dan rekan-rekan.

Sialnya, kita tahu kemudian bahwa 8 pertandingan awal di Olympic musim 16-17 berakhir dengan kekalahan selagi formula lama “Nane” telah ditemukan penangkalnya oleh lawan. Pemain-pemain kunci seperti Payet dan Antonio juga mengalami cedera dengan pertahanan The Hammers semakin bocor.

Drama semakin menjadi ketika Dimitri akhirnya cabut ke Marseille tanpa ditemukan pengganti yang sepadan. Robert Snodgrass yang diproyeksikan akan mengisi kekosongan musim ini dipinjamkan ke Aston Villa. Dia menjadi pemain kesekian yang gagal menorehkan sejarah dengan seragam Merah Marun.

Kepergian Payet memang memberikan West Ham neraca untung dalam masalah jual-beli pemain. Sayangnya, sesuatu yang sudah lama hilang semenjak penjualan Carlos Tevez ke Manchester United menunjukkan kelemahan lain. Di bawah David Sullivan dan Gold, “Academy of Football” sebagai petuah lenyap perlahan-lahan digantikan aksi beli pemain murahan atau sekedar meminjam yang ada di pasar.

Jejak sebagai penghasil bakat lenyap bersama stadion lama (Foto: foreverwestham.com)

David Gold beralasan bahwa mereka mencoba realistis saja dengan pemain binaan akademi yang dianggap belum mampu bermain di liga teratas. Akan lebih baik bagi jika kemudian pemain-pemain ini dipinjamkan selama 3-4 tahun agar kualitasnya naik sehingga siap ketika dipanggil membela The Irons seperti yang terjadi dengan Reece Oxford.

Proyeksi di atas terlihat masuk akal, tetapi menjadi justifikasi mengucap sumpah serampah ketika 42 juta Pounds lenyap untuk Marko Arnautovic dan Javier Hernandez. Dua nama yang duduk manis di bangku cadangan sekarang menjadi bukti mengapa juru transfer West Ham terlalu sering menghamburkan janji manis tanpa melihat realita mereka.

Koreksi atas masalah tersebut harus dihadapi berbarengan dengan ancaman degradasi. Agar tidak tersambar api, David Moyes dianggap tepat untuk memadamkan ancaman menggantikan Slaven yang ditendang pada bulan November 2017. Lagi-lagi, solusi jangka pendek memang karena Moyes dengan reputasinya akan sulit bertahan di London Stadium selepas akhir musim ini.

Jika demikian, pelatih dari Skotlandia itu tidak banyak terbantu dalam menyelesaikan misinya dengan tambahan amunisi berupa Joao Mario dan Patrice Evra. Meriam tidak kunjung mencapai sasaran dengan manajemen semakin berjarak kepada suporter yang merasa harapan mereka diletuskan begitu saja.

Dalam logika bisnis, manajemen sebagai penjual kurang baik dalam melayani suporter sebagai pembeli dengan produk yang ditawarkan buruk. Hukum Permintaan dan Penawaran bisa saja diberlakukan langsung, namun langkah lebih arif nyatanya ditempuh lebih dahulu.

“Menjual mimpi indah, yang didapat adalah mimpi buruk.” (Foto: independent.ie)

Melihat suporter turun ke lapangan London secara harfiah menjadi satu kewajaran. Semakin kentara pesan yang disampaikan karena terjadi saat melawan Burnley yang pendapatannya lebih rendah 5 kali lipat! Terlepas bahwa insiden kekerasan ikut hadir beserta tindakan pengamanan yang dikritisi, bentuk protes seperti ini merupakan unjuk kecintaan orang-orang kepada West Ham. Klub ini yang beberapa tahun yang lalu masih identik dengan kata perlawanan akan kemapanan dianggap telah menjual jiwanya.

West Ham yang baru memutus koneksi kepada warisan sejarah dan legenda yang membuat mereka istimewa. Kultur Perusahaan yang ingin dibangun oleh trio Sullivan, Gold, dan Brady sebagai hal baru menjadi bumerang karena etos Disiplin, Perencanaan Matang, Proses Berkelanjutan, dan Strategi yang jelas tidak ada di klub ini saat ini.

The Hammers sedang mengalienasi dirinya dari pendukung lama dan gagal menarik perhatian lebih banyak dari pendukung baru. Merek yang kuat menemukan dirinya menyelesaikan masalah tanpa perlu menambah keributan dan itu tidak tampak dari klub.

Masa jeda internasional seyogyanya digunakan untuk menemukan obat penawar sementara agar lantunan “I’m Forever Blowing Bubbles” tidak terdengar dari divisi dua musim depan. Pembuktian di 8 pertandingan final tersisa akan menunjukkan seberapa mampu West Ham menegaskan ambisi besarnya selagi merangkul mereka yang hilang semenjak Boleyn digantikan London.

About Willibrordus Bintang Hartono

Sedang berada di Jogja untuk berkuliah. Selain sepakbola, makanan dan buku menjadi kesukaan. Anda dapat menemukan celotehan saya di @Obinhartono1.

View all posts by Willibrordus Bintang Hartono →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *