Piala Dunia 2018: Ketika Rusia Berada di Antara Dua Pilihan

Tak terasa, satu minggu sudah gelaran Piala Dunia 2018 digelar. Tiga puluh dua negara dari berbagai benua berjuang semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil terbaik dan tentunya memperebutkan trofi karya Silvio Gazzaniga. Piala Dunia tahun ini digelar di Rusia, setelah memenangkan bidding pada tahun 2010. Tentu menarik melihat bagaimana kiprah tuan rumah di Piala Dunia tahun ini mengingat Rusia bukanlah tim kuat yang meramaikan perebutan gelar juara.

Memasuki milenium baru tercatat sudah empat kali Piala Dunia digelar, dan di tahun 2018 ini akan menjadi edisi kelima di milenium baru. Dari empat gelaran sebelumnya, dua kali digelar di negara yang mempunyai tim nasional unggulan, yaitu Jerman dan Brazil. Sementara itu, dua gelaran Piala Dunia lain digelar di negara yang mempunyai tim nasional yang tidak terlalu diperhitungkan untuk meraih gelar juara, mereka adalah Korea Selatan, Jepang dan Afrika Selatan.

Tim Nasional Rusia, sama seperti Korea Selatan, Jepang dan Afrika Selatan bukanlah tim unggulan di kancah sepakbola dunia. Meski meraih kemenangan besar atas Arab Saudi di laga perdana, jika boleh jujur Timnas Rusia bukanlah tim kuat di sepakbola Eropa. Tapi dalam sepakbola apapun dapat terjadi, bukan tidak mungkin Rusia akan membuat kejutan di rumah sendiri. Jika berkaca pada edisi-edisi sebelumnya, membuat kejutan bagi tuan rumah bukanlah hal yang mustahil, misalnya pada tahun 2002.

Tahun 2002 adalah tahun dimana Piala Dunia pertama kalinya digelar di benua kuning, kala itu Korea Selatan menjadi tuan rumah bersama dengan tetangganya Jepang. Kedua negara tersebut memang raksasa sepakbola Asia, namun di level dunia mereka jelas tidak ada apa-apanya, jika indikatornya dilihat dari pencapaian di Piala Dunia.

Presiden Rusia, Vladimir Putin pada acara drawing Piala Dunia 2018.

Kedua negara tersebut sama-sama sudah pernah mengikuti Piala Dunia, namun kedua negara juga sama-sama belum pernah menang di Piala Dunia. Korea Selatan sudah berpartisipasi di lima Piala Dunia, namun sepanjang keikutsertaan mereka, Taeguk Warriors sama sekali belum pernah merasakan manisnya kemenangan. Sementara itu, Jepang bahkan baru satu kali tampil di Piala Dunia, mereka merasakannya empat tahun sebelum menjadi tuan rumah.

Dengan capaian minor di Piala Dunia jelas mereka tidak diunggulkan, jangankan untuk meraih gelar juara, untuk lolos grup pun banyak yang meragukan mereka. Prediksi tersebut bertambah kuat ketika Timnas Korea Selatan meraih hasil yang kurang memuaskan pada persiapan Piala Dunia. Akan tetapi, kedua tim tersebut berhasil membungkan suara-suara minor. Korea Selatan dan Jepang mampu meraih kemenangan pertama mereka di Piala Dunia, mereka masing-masing mengalahkan Polandia 2-0 dan Rusia 1-0. Singkat kata mereka sama sekali tak terkalahkan di fase grup dan lolos ke babak selanjutnya.

Pada babak 16 besar, kedua tuan rumah ini mendapatkan hasil berbeda. Samurai biru tersingkir oleh tim kejutan lain, Turki, sementara Korea Selatan mampu mengalahkan salah satu tim unggulan, Italia, meskipun pertandingan itu diwarnai peristiwa yang cukup kontroversial. Tim negeri gingseng bahkan mampu mencapai semifinal setelah mengalahkan tim unggulan lainnya, Spanyol, dengan skor 5-3. Pada akhirnya Korsel mampu meraih juara harapan 1 setelah dikalahkan Jerman di semifinal dan dikalahkan Turki di perebutan juara ketiga.

Lain lubuk lain ikannya, lain tuan rumah, lain pula hasilnya, berbeda dengan dua negara Asia, Afrika selatan gagal mengikuti keajaiban tahun 2002. Jangankan mencapai semifinal, Bafana Bafana gagal lolos dari fase grup akibat kalah selisih gol dari Meksiko. Kegagalan itu membuat Afrika Selatan menjadi tuan rumah pertama yang gagal lolos dari fase grup atau putaran pertama Piala Dunia.

Siphiwe Tshabalala dan timnas Afrika Selatan yang menjadi sorotan pada 2010 silam.

Meski demikian, performa Afrika Selatan tidak terlalu buruk, mereka mampu menahan imbang Meksiko dan mengalahkan Prancis yang menjadi juru kunci grup, sayangnya performa mereka belum mampu mengantarkan mereka lolos ke 16 besar. Afrika Selatan lebih diingat dengan vuvuzela, lagu resmi Piala Dunia yang dilantunkan oleh Shakira, juga selebrasi ikonik dari Siphiwe Tshabalala ketika menjebol gawang Meksiko.

Melihat performa Sbornaya akhir-akhir ini, para pendukung Rusia tentu khawatir dengan persiapan tim kesayangan mereka untuk Piala Dunia. Terakhir kali Igor Akinfeev dan kolega merasakan kemenangan adalah pada 7 Oktober 2017 ketika mengalahkan Korea Selatan 4-2. Pada Piala Konfederasi 2017, Rusia juga gagal menampilkan performa menjanjikan sehingga gagal lolos dari fase grup. Bukan hanya itu, secara historis performa Rusia di turnamen-turnamen besar tidak menjanjikan-menjanjikan amat. Sejak Uni Soviet bubar, mereka hanya sekali merasakan lolos dari fase grup, yaitu ketika Andrei Arshavin dkk  menembus semifinal Piala Eropa 2008. Sisanya mereka hanya menjadi figuran baik di Piala Dunia maupun Piala Eropa.

Timnas Russia mengantongi kemenangan sempurna kala menghadapi Arab Saudi.

Akan tetapi, sebenarnya kans tim asuhan Stanislav Cherchesov untuk sekedar lolos grup cukup terbuka di turnamen kali ini. Rusia tergabung di grup A bersama Uruguay, Mesir, dan Arab Saudi. Jika dilihat dari materi pemain, Rusia mempunyai kualitas pemain yang tak jauh beda dengan Mesir dan Arab Saudi.

Meski demikian Rusia juga harus tetap mewaspadai kedua tim tersebut. Arab Saudi yang sekarang tentu berbeda dengan Arab Saudi yang dibantai Jerman pada tahun 2002, tentu pada gelaran Piala Dunia kali ini mereka tak mau hanya menjadi bulan-bulanan. Sementara itu, Mesir juga tidak bisa dipandang sebelah mata dengan beberapa pemain yang merumput di Eropa seperti Ahmed Hegazi, Mohamed Elneny dan Trezeguet, jangan lupakan juga mereka mempunyai Mohamed Salah. Tentu ia tak ingin menjadi pesakitan untuk kedua kalinya setelah gagal meraih trofi Liga Champions.

Seperti yang sudah ditulis di awal, dalam sepakbola apapun dapat terjadi, jika mampu mengatasi tekanan dan dinaungi keberuntungan, rasanya lolos dari fase grup bukanlah sebuah kemustahilan. Sekarang hanya tinggal bagaimana Stanislav Cherchesov dan anak asuhnya berusaha semaksimal mungkin untuk menampilkan permainan terbaik dan meraih kemenangan. Sekarang pilihan ada di tangan mereka, membuat keajaiban layaknya Korea Selatan atau menjadi penonton fase knockout layaknya Afrika Selatan.


Gatra Drestanta. 081806013854 (whatsapp). Bocah dari pinggiran ibukota yang demen banget ama sepakbola. Bisa dihubungi di @gatra1928.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *