Obituari: Davide Astori

“Apakah kamu melihatnya (David Moyes di Sant’Elia-red)? Jadi kamu akan pergi ke Manchester United?”

“Ah, mari kita lihat ke depan, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi.”

Jawaban atas pertanyaan tersebut meluncur dari mulut Davide Astori dan saya membayangkannya berbicara sembari tersenyum simpul. Satu momen yang menjadi penanda kerendahan hatinya terjadi ketika panggilan dari Inggris, salah satu tempat terbaik sepakbola dimainkan, semakin besar setelah penampilan ciamiknya.

Percakapan bersama Tancredi Palmeri, salah satu jurnalis terkemuka dalam bidang sepakbola Italia, terjadi 4 tahun lalu. Dia bersama Cagliari sedang berusaha menjadi kebanggaan di Sardinia dan tidak sekedar menjadi pelengkap yang membuat orang lupa bahwa mereka tim Selatan pertama yang meraih Scudetto pada 1969-70.

Memang, karir di Rossoblu hanya satu bagian dari 31 tahun perjalanan hidupnya. Akan tetapi, seragam Merah-Biru tersebutlah yang membuatnya menemukan kenikmatan bermain bola selagi berusaha menggapai mimpi lainnya.

AC Milan selalu menjadi mimpi dan obsesi dari Astori semenjak pindah dari klub Pontisola sebagai pemain akademi. Hadirnya Maldini, Costacurta hingga Nesta menjadi panutan sempurna anak muda kelahiran Bergamo yang tentu berkeinginan mengikuti jejak mereka berseragam hitam-merah setelah lulus.

Namun, kesempatan belum juga datang walau dia telah membuktikan kapasitasnya dan mendapat kepercayaan di Pizzighettone dan Cremonese sebagai pemain pinjaman. Saat itu Milan sudah memiliki Thiago Silva dengan Alessandro Nesta masih bermain.

Ini tidak membuatnya putus asa dan hilang semangat, dengan ia menerima kesempatan untuk melakukan debut Serie A-nya bersama Cagliari pada musim 2008-09. Menjadi pilihan tetap selama 3 tahun karena penampilan konsisten sebagai bek tengah yang mampu menyesuaikan beragam permintaan pelatih yang berganti wajah satu dengan lainnya (khas keadaan tim papan tengah) membawanya ke impian lain.

Cesare Prandelli akhirnya memberinya kesempatan untuk berseragam tim nasional Italia. Salah satu pencapaian yang ditandai dengan pengalaman unik dalam debutnya melawan Ukraina.

Masuk sebagai pemain pengganti, dia menerima dua kartu kuning dan memaksanya keluar lapangan di Kiev. Penampilan pertamanya ini menjadi bagian dari total 14 pertandingan bersama Gli Azzurri dengan momen gemilangnya diwakili gol semata wayang yang mengantarkan tim nasionalnya ke peringkat 3 Piala Konfederasi 2013.

Penampilan gemilang di klub maupun tim nasional menarik perhatian tim luar. Spartak Moskow selangkah lebih di depan daripada Manchester United dengan sudah mengikat perjanjian dengan Cagliari pada Juli 2012 sebelum Astori mengatakan penolakannya agar dapat bertahan di Sardinia.

Ucapan itu dibuktikannya hingga pertengahan 2014 ketika panggilan ke Ibukota tidak mampu dia tolak. Ambisi untuk mencapai gelar juara dan bermain di ajang Eropa membuatnya mau menerima pinangan AS Roma. Walaupun kehilangan posisi regular, ia masih mampu menunjukkan penampilan terbaik ketika diberi kepercayaan Rudi Garcia.

Pinangan yang sementara itu gagal menjadi kekal, akan tetapi Davide tidak pernah kembali lagi ke Sardinia. Setelah dari Roma, Fiorentina meminta jasanya sebagai punggawa lini belakang di Firenze.

Dia yang menghargai siapapun dan membawa sifat bersahaja dimanapun ia berlaga berdasarkan ujaran kompatriotnya, Gianluigi Buffon, membuat Astori mudah beradaptasi dan disukai. Ban kuning yang melingkar di lengannya sejak awal musim 2017-18 menunjukkan kepercayaan publik Artemio Franchi bahwa pria ini dapat membimbing tim muda Viola bangkit kembali.

Kapten yang dihormati dan selalu datang paling awal dalam rapat tim membuat semua orang khawatir di pagi hari kemarin. Tidak kunjung hadir, rombongan Fiorentina yang sedang bertandang ke Udine menghampiri kamar tidurnya untuk menemukan tubuh yang beristirahat untuk selamanya dalam mimpi yang indah.

Davide Astori telah menempuh jalan menyenangkan yang berakhir tanpa orang mengetahui pertandanya. Dia meninggalkan warisan tidak hanya berupa kedai es krim di kota Cagliari yang didirikannya bersama Lorenzo Ariaudo, namun juga kisah seorang pria yang memiliki sifat elegan dalam menjalani kehidupan di lapangan maupun sehari-hari.

Davide Astori adalah seorang pesepakbola kelahiran 7 Januari 1987 yang meninggal pada 4 Maret 2018. Pria berumur 31 tahun ini meninggalkan istrinya, Francesca dan putri bernama Vittoria yang lahir pada 2016. Penampilan terakhirnya untuk Fiorentina terjadi saat melawan Chievo pada 25 Februari 2018 yang berakhir dengan skor 1-0 dimana ia menyumbang umpan bagi pencetak gol.

About Willibrordus Bintang Hartono

Sedang berada di Jogja untuk berkuliah. Selain sepakbola, makanan dan buku menjadi kesukaan. Anda dapat menemukan celotehan saya di @Obinhartono1.

View all posts by Willibrordus Bintang Hartono →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *