Monday Night Football, Strategi Pasar yang Dibenci di Jerman

Seiring modernisasi, sepakbola tak bisa lepas dengan yang namanya dunia bisnis dan komersial. Ketika semakin maju dan dikenal oleh publik, harus diakui bahwa olahraga si kulit bundar ini juga harus mengikuti kepentingan pasar dan menyesuaikan diri dengan globalisasi. Tak terkecuali Monday Night Football (MNF), yaitu pertandingan yang dijadwalkan berlangsung pada hari Senin, hari pertama dalam minggu kerja, di luar kebiasaan jadwal bertanding sepakbola pada umumnya yaitu akhir pekan.

Monday Night Football biasanya merupakan jadwal dari satu pertandingan tersisa, atau terakhir, dari sebuah gameweek liga bersangkutan. Dilangsungkan di hari Senin tentu saja faktor utamanya adalah kepentingan komersial dari segi penyiaran televisi. MNF sendiri sudah menjadi tren di beberapa liga besar Eropa seperti Liga Inggris dan Liga Spanyol dalam beberapa musim terakhir, dan hal ini cukup diterima dengan tangan terbuka oleh para penonton dan penikmat sepakbola dari negara bersangkutan.

Namun kondisi bertolak belakang terjadi di tanah Jerman. Bundesliga, rumah dari sepakbola negara pemegang gelar bertahan Piala Dunia, baru saja menjalankan ‘eksperimen’ Monday Night Football pada musim ini. Tentu saja hal ini diterapkan dengan tujuan untuk memberi waktu istirahat sehari lebih banyak kepada klub Jerman yang bermain di komeptisi Eropa. Namun rupanya respon yang diberikan oleh penikmat sepakbola di sana ternyata cukup buruk, bahkan lebih bersifat memberontak.

Pertandingan antara Borussia Dortmund dan FC Augsburg yang berlangsung pada Senin, 26 Februari lalu merupakan bukti nyata bahwa sepakbola pada Senin malam tidak diterima dengan baik di Jerman. Sekitar 25.000 suporter tuan rumah memboikot pertandingan dan membuat Signal Iduna Park yang biasanya full-house terlihat kosong di beberapa sektor, termasuk yellow wall tempat salah satu koreografi suporter terbaik di dunia.

Sektor yellow wall tampak kosong menjelang pertandingan Dortmund melawan Augsburg

Ini merupakan bentuk protes terhadap kebijakan asosiasi sepakbola Jerman (DFB) yang akhirnya memutuskan untuk menjalankan Monday Night Football dan ‘memberi cacat’ pada budaya sepakbola Jerman yang telah berlangsung sekian tahun. “Kami ingin menunjukkan apa yang terjadi jika suporter telah kehilangan minat (menonton) atau tidak bisa datang menghadiri pertandingan karena berlangsung pada hari kerja,” ujar Andreas Assmann, salah satu pemimpin kelompok suporter Dortmund.

“Pesan ini ditujukan bukan hanya kepada asosiasi sepakbola Jerman dan pengelola liga, tapi juga pihak klub sendiri yang menyetujui keputusan bermain di hari Senin untuk menaikkan pendapatan televisi,” lanjutnya.

Protes yang terjadi di Dortmund sebenarnya bukanlah yang pertama dan sepekan sebelumnya berlangsung protes yang lebih parah di pertandingan antara Eintracht Frankfurt dan RB Leipzig. Laga yang menjadi jadwal MNF pertama di Bundesliga musim ini tersebut mendapat respon keras dari suporter tuan rumah. Kick-off pertandingan sempat tertunda selama enam menit karena mengotori lapangan dengan gulungan kertas serta memasang sejumlah banner berisi komplain terhadap jadwal bermain pada hari Senin malam.

Aksi mereka tak cukup sampai di situ. Sepak mula babak kedua juga terpaksa mundur dikarenakan ratusan bola tenis dilempar ke dalam lapangan Waldstadion sebagai bentuk protes lebih lanjut. “Selama mereka (yang diuntungkan dengan MNF) terus mengeruk keuntungan di kantong, mereka tidak akan pernah peduli akan berapa lama waktu istirahat yang dijalani oleh suporter klub yang bertandang pada Senin malam,” pernyataan wakil dari suporter Frankfurt. “Uang adalah prioritas utama mereka.”

Bentuk protes fans Eintracht Frankfurt terhadap kebijakan Monday Night Football

Baru dua laga Senin malam yang dilangsungkan dan respon yang mengikutinya tak sejalan dengan apa yang diperkirakan membuat asosiasi sepakbola Jerman layak was-was jika Monday Night Football terus diaplikasikan pada masa yang akan datang. Hans-Joachim Watzke selaku CEO Dortmund yang suporter klubnya telah menunjukkan respon keras, angkat bicara soal fenomena ini.

“Jika 80 persen dari penikmat sepakbola di Jerman menolak klub mereka bermain di hari Senin, dan hanya 54.000 dari 81.000 kursi di stadion kami yang terisi, saya yakin hak siar televisi soal Monday Night Football akan dicabut dan (sepakbola di hari) Senin tidak akan berlangsung lagi,” ujarnya.

Monday Night Football sendiri wacananya akan dilangsungkan setidaknya hingga 2021. Tentu saja berbagai stasiun televisi selaku pemegang hak siar Bundesliga yang telah menjalin kontrak soal ini patut khawatir bahwa kontraknya akan batal di tengah jalan.

Protes dan respon yang ditunjukkan oleh suporter Dortmund dan Frankurt merupakan bukti bahwa sepakbola Jerman masih berpegang teguh pada budaya sepakbola mereka dan menginginkan sisi komersial tak terlalu memegang kendali –salah satu faktor mengapa TSG Hoffenheim dan RB Leipzig yang dianggap ‘membeli’ jalan untuk naik divisi lewat kekuatan uangnya menjadi dua klub yang cukup dibenci di Jerman.

Para fans tentu tidak ingin dianggap dan diperlakukan sebagai lahan uang oleh penyelenggara liga dan klubnya sendiri, tapi sebagai identitas klub dan gairah sepakbola. Kini tinggal bagaimana DFB selaku asosiasi sepakbola lokal menyikapi fenomena ‘kebencian’ yang ada karena tentu masalah ini bukanlah masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan duduk bersama dengan saling bersulang gelas bir.


Penulis: Heru Chrisardi (@chrisardinho). Penikmat sepakbola Jerman dan Fantasy Premier League.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *