Mohammed Salim, The Legendary Barefoot Juggler from India

Apa yang anda tahu tentang India? Pasti semua orang akan menjawab dengan keindahan Taj Mahal, masakannya yang khas, dan (tentu saja), para artis bollywood yang popularitasnya sudah tak diragukan lagi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia maupun dunia. Namun jika saya bertanya lagi, apa yang anda tahu tentang sepakbola India? Pasti sebagian besar dari kalian langsung membuka internet browser dan mengetik keyword “indian football” di laman browser internet kalian. Tapi tenang, saya juga begitu kok dan kalian tidak sendirian.

Ketika kita berbicara  soal sepakbola India, mungkin sebagian orang yang tahu hal ini akan menjawab Bhaichung Bhutia sebagai legenda hidup sepakbola mereka. Bhaichung Bhutia bisa dibilang salah satu legenda hidup sepakbola India di era modern saat ini. Pernah bergabung dengan klub Inggris, Bury dan menjadi ujung tombak di timnas adalah bukti eksistensinya di sepakbola India.

Selain Bhutia, ada pula Sunil Chhetri yang pernah bermain di MLS dengan Kansas City Wizards (sekarang Sporting KC), di Portugal dengan tim B Sporting CP, dan akhir-akhir ini membawa JSW Bengaluru ke final AFC Cup 2016 sebelum dikalahkan klub Irak, Al-Quwa Al-Jawiya dengan skor 0-1.

Namun ada satu yang terlewat dari eksistensi mereka di sepakbola India. Ada seseorang yang terlebih dahulu merasakan kerasnya bermain sepakbola di ranah Eropa di era 1930-an. Dia adalah Mohammed “Abdul” Salim, The Barefoot Juggler from India. Sesuai dengan julukannya, beliau bermain sepakbola tanpa alas kaki alias nyeker.

Hah? Nyeker? Iya, nyeker. Beneran deh, sumpah.

Kenapa beliau bermain bola tanpa alas kaki? Jawabannya karena pada masa itu orang-orang India  bermain sepakbola tanpa menggunakan alas kaki, baik dalam pertandingan hiburan maupun liga resmi. Mereka bermain sepakbola tanpa alas kaki juga sebagai bentuk perlawanan mereka terhadap kolonial Inggris pada saat itu. Hal itu pula yang membuat Tim Nasional India urung bermain di Piala Dunia 1950 karena para pemainnya yang menolak bermain sepakbola menggunakan sepatu.

Balik lagi ke pembahasan, Mohammed  Salim adalah pemain sepakbola India pertama yang bermain di Eropa. Lebih tepatnya di Britania Raya. Lahir di Kalkutta pada tahun 1904, beliau mengawali karir sebagai pemain di Chittaranjan FC, tim B klub Mohammedan SC pada tahun 1926, sempat pindah selama semusim ke East Bengal dan Aryans Club. lalu pada tahun 1936 beliau kembali lagi ke Mohammedan SC dan membawa klub tersebut menjuarai Liga Kalkutta lima kali berturut-turut dari tahun 1934 sampai tahun 1938.

Pada tahun 1936, sepupu Mohammed Salim yang bernama Hasheem datang ke India dari Inggris. Hasheem yang kebetulan tinggal di Inggris datang untuk melihat permainan Salim ketika bermain bersama All India XI di pertandingan persahabatan melawan timnas Olimpiade Tiongkok. Di pertandingan tersebut Hasheem melihat potensi mengesankan yang keluar dari diri Salim dan memutuskan untuk membujuk dia untuk mencoba peruntungan di ranah Eropa. Dari situlah Salim akhirnya mencoba peruntungan bermain di Britania Raya.

Setelah sampai di London, Salim beristirahat selama beberapa hari. Kemudian Salim beserta Hasheem bergerak menuju ke Skotlandia, lebih tepatnya ke kota Glasgow. Di sana Hasheem merekomendasikan Mohammed Salim ke Glasgow Celtic pada saat itu dilatih oleh Willie Maley. Setelah itu Salim langsung dibawa ke Celtic Park dan menunjukkan kemampuannya di hadapan pelatih dan para penonton. Ketika itu Willie Maley sempat ragu untuk memberikan trial kepada Salim karena bermain tanpa alas kaki. Namun setelah perbincangan panjang antara Hasheem dan Willie Maley, pada akhirnya Maley memberikan trial kepada Salim di Celtic.

Selama di Celtic, Salim hanya bermain di 2 laga yaitu melawan Hamilton Accries dan Galston. Di dua pertandingan tersebut, Salim menunjukkan penampilan yang luar biasa termasuk saat membantu Celtic membantai Hamilton Accries dengan skor 5-1 dan Galston dengan skor 7-1. Karena itulah The Scottish Daily Express memuat headline “The Indian Juggler – New Style” pada surat kabar mereka pada tanggal 29 Agustus 1936. Mereka memuat headline tersebut karena performa impresif beliau ketika bermain bersama Celtic pada pertandingan tersebut.

Ada hal menarik dari keberadaan Mohammed Salim ketika di Celtic. Sebelum pertandingan akan dimulai, kedua kaki Mohammed Salim dibebat oleh semacam kain oleh Jimmy McMenemy, salah satu staff dari Celtic. Kaki Salim dibebat agar menyesuaikan dengan pemain lain ketika bertanding, namun Salim tetap dipakaikan kaos kaki dengan kondisi bagian untuk telapak kaki dipotong agar nyaman dipakai ketika sedang bertanding.

Sayangnya, Mohammed Salim hanya bertahan di Celtic selama beberapa bulan karena homesick. Meskipun pihak Celtic sempat membujuk Salim untuk kembali bermain di sana dengan menggelar pertandingan amal, tapi Salim menolak uang fee dari pertandingan tersebut. ia lalu menyarankan agar uang tersebut diberikan kepada anak-anak yatim piatu setempat yang berpartisipasi dalam pertandingan tersebut. Lalu Salim kembali ke India dan bermain kembali untuk Mohammedan SC di tahun 1937 hingga pensiun sekitar tahun 1938.

Mohammed Salim meninggal pada 5 November 1980 di usia 76 tahun. Namun kala itu sepakbola India seakan acuh terhadap prestasi yang dibuat beliau pada masanya karena Mohammed Salim adalah legenda dari Mohammedan SC yang merupakan klub representatif dari muslim India dan kalah pamor dari Mohun Bagan SC yang memang menjadi klub legendaris di India. Tapi, Mohammed Salim saat ini menjadi role model bagi para pemain dan fans sepakbola India. Sekali lagi, Mohammed Salim adalah salah satu anugerah terbesar (yang sempat terlupakan) dari sepakbola India.


About me: Imam Santoso (@idsantos_94). Pengamat sepakbola kacangan yang suka ketiduran di babak kedua. Addicted to Indomie Goreng Rendang, Badminton, Music, and JSCVRND.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *