Kisah Unik Wasit Sepakbola di Abad 20

Sepakbola yang kita kenal saat ini tentu merupakan suatu hasil evolusi dari olahraga yang sebelumnya berbagi asal dengan Rugby dan American Football. Perkembangannya tentu tidak dapat dibayangkan oleh mereka yang berkecimpung satu abad yang lalu dalam olahraga yang dikatakan barbar dan hanya dimainkan masyarakat kelas bawah.

Kita juga mungkin heran mendengar cerita – cerita yang tidak lazim dalam awal perkembangan sepakbola. Salah satu kisah yang dikatakan cukup unik adalah bahwasanya banyak pemimpin pertandingan, atau yang biasa kita sebut wasit dapat sekaligus menjadi manager/pelatih dalam sebuah klub.

Pada awal abad ke-20 ketika sepakbola masih belum terorganisasi secara sempurna, belum ada banyak atlet yang khusus memainkan sepakbola. Kebanyakan dari mereka merupakan buruh pabrik, pemuda gereja atau masyarakat awam, tanpa adanya embel embel atlet dalam status mereka. Hal tersebut menjadikan sepakbola hanya sebatas permainan.

Tenaga yang menjadi motor penggerak dalam industri bernama sepakbola terbilang masih sepi, namun perkembangan tetap ada dikarenakan fanatiskme. Klub klub dari berbagai daerah mulai beragam di Inggris selagi popularitas olahraga ini semakin berkembang pesat di Eropa.

Karena berangkat dari kecintaan dan belum ada tetek bengek akuntabilitas dan netralitas, para wasit yang bertugas dalam pertandingan dapat menjabat sebagai manager dibeberapa hari kemudian. Dimulai dari Fred Kirkham, dimana ia merupakan seorang wasit yang bertugas di liga domestik Inggris dan merupakan salah satu wasit berpengalaman dimasa lampau.

Pertandingan final FA Cup 1906 yang diwasiti Fred Kirkham.

Jejak historisnya tidak perlu diragukan dengan ia memimpin banyak pertandingan sepakbola skala Internasional sepanjang tahun 1903 hingga 1907. Ketika ia mengakhiri karir wasitnya, Tottenham Hotspur tengah kebingungan mencari pengganti John Cameron yang memutuskan untuk hengkang ke Dresdner SC. Tanpa pikir panjang, manajemen Tottenham segera menghubungi Fred.

Kebijakan ini sama sekali tidak populer dimata pendukung ataupun para pemain The Lilywhites. Atribut Kirkham yang dianggap paham benar akan aturan main di lapangan membuat manajemen tidak bergeming  akan protes tersebut.

Akan tetapi, ilmu formal akan sepakbola jauh berbeda ketika diaplikasikan menjadi permainan nyata, fakta yang tampaknya manajemen Tottenham lupa. Alih – alih mendatangkan kesuksesan untuk klub London Utara ini, Kirkham malah membawa Tottenham pada keterpurukan. Hubungan dia bersama Spurs hanya bertahan setahun, setelah itu ia dipersilahkan pergi.

Selanjutnya adalah Herbert Bamlett yang cukup terkenal berada dibelakang layar bersama Manchester United. Jauh sebelum ia mengambil alih kursi kepelatihan Manchester United, Bamlett lebih dulu dikenal sebagai wasit yang cukup fenomenal.

Sepanjang tahun 1909 hingga 1914, ia dikenal sebagai wasit yang cukup tegas dalam memimpin pertandingan. Akan tetapi, satu pertandingan yang menjadi warisan dan pertanda masa depan berakhir buruk dan itu terjadi antara Burnley menghadapi Setan Merah. Pertandingan FA Cup tersebut dimenangkan oleh Burnley dengan skor 1-0 dengan pertandingan yang terhenti 18 menit sebelum waktu normal berakhir.

Setelah pensiun sebagai wasit, Bamlett kemudian mulai mengambil porsi sebagai manajer tim Oldham. Setelah itu ia hinggap di klub tetangga yaitu Manchester United dengan rekor yang kurang baik.  Saat angkat kaki pada 1931, dia hanya memenangkan setengah dari 52 pertandingan. Sama – sama tidak populer seperti Kirkham, Bamlett sialnya mengantarkan United ke jurang degradasi.

Antara bumi dan langit nasib daripada Bamlett dan Meisl

Dua kisah di atas berbanding terbalik dengan apa yang dialami Sidney Pullen. Pemain kelahiran Inggris ini menjadi pionir sepakbola di Brasil bersama klub Paysandu setelah terpaksa pindah ke sana mengikuti pekerjaan ayahnya, memberinya kehormatan untuk memperkuat Selecao diantara tahun 1916-17.

Setelah dipanggil untuk berjuang bersama negara tempat dia lahir di Perang Dunia Pertama, Sidney kembali ke Brazil untuk memperkuat Flamengo dan menutup karirnya sebagai pelatih klub yang memiliki julukan Mengão ini. Pullen kemudian menjadi wasit dimana salah satu pertandingan penting yang ia pimpin adalah pertandingan Argentina menghadapi Chile dalam edisi pertama Copa America.

Sosok wasit yang mampu melakoni peran sebagai manajer sukses mungkin hanyalah Hugo Meisl. Pada awal karirnya dalam dunia sepakbola, Meisl menjabat sebagai wasit di ajang Olimpiade 1912, lalu turut serta dalam memimpin pertandingan pertandingan internasional timnas Inggris.

Salah satu pertandingan yang cukup epik yang ia pimpin adalah ketika Inggris melibas Hungaria dengan skor 7-0, lalu saat Inggris mengalahkan Swedia dengan skor 4-2. Persahabatan Meisl dengan Vittorio Pozzo dan Herbert Chapman mendatangkan kesuksesan, hal tersebutlah yang mengantarkan Meisl menguasai taktikal dan kemampuan mengolah sepakbola secara baik.

Meisl kemudian membawa tim nasional Austria berjaya pada periode 1931-32 yang membuat mereka mendapat sematan Wunderteam. Dipimpin oleh Matthias Sindelar, tim ini mempertunjukkan gaya bermain umpan pendek yang kemudian menjadi embrio daripada gaya bermain Totaalvoetbal. Pencapaian tersebut sampai saat ini belum dapat terulang oleh generasi-generasi baru negara di Eropa Tengah ini.

Dapatkah kita membayangkan hal-hal seperti ini terjadi lagi di masa mendatang?


Penulis: Pradana Arya Mahendra (@aryacookwater). Penulis serabutan yg menggemari sejarah, kopi dan musik.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *