Kisah: Anne O’Brien, Srikandi Sepakbola yang Terlupakan

Bicara tentang sepakbola Irlandia, pastilah yang terbersit dalam pikiran seorang penggemar sepakbola mungkin hanya beberapa nama. Nama Roy Keane adalah adalah salah satu sosok yang disegani oleh kawan maupun lawan, terutama perannya ketika berkarir sebagai kapten timnas Irlandia. Atau nama lain seperti Robbie Keane yang mencatatkan namanya sebagai salah satu ikon dalam dunia sepakbola negara tersebut. Kontribusi mereka dalam dunia sepakbola, telah membuka mata publik dunia bahwa Irlandia tidak hanya dikenal dengan bir hitamnya saja, namun juga para pesepakbolanya.

Meskipun begitu, dalam konteks kompetisi liga, Irlandia masih berada dalam status semi pro. Kebanyakan talenta dari bumi Irlandia memilih untuk merumput di Inggris, ketimbang membesarkan kompetisi mereka sendiri. Selain dari itu pula, aturan salary cap dinilai membuat liga Irlandia terasa jalan ditempat tanpa ada perkembangan berarti. Selain itu, sepakbola di Irlandia juga harus berjuang membesarkan nama sebagai salah satu olahraga favorit dimuka bumi. Pasalnya, Gaelic Football, olahraga asli Irlandia lebih diminati ketimbang sepakbola.

Bagi para penggemar sepakbola, mungkin nama – nama top sepakbola kaum hawa seperti  Abby Wambach, Alex Morgan dan Hope Solo, terasa nyaring ditelinga, meski tidak sepopuler pesepakbola yang berasal dari kaum adam. Namun, penulis berani menjamin bahwa nama Anne O’Brien terasa kurang terdengar familiar di telinga para penggila sepakbola. Siapa sangka, nama yang terakhir ditulis di paragraf tadi adalah salah satu pioneer sepakbola wanita di Irlandia. Ia menorehkan sebagai salah satu pemain bola wanita tersukses. Hanya saja, ia bermain dimasa masa sepakbola wanita masih kurang diperhatikan.

Mengenal sepakbola sejak kecil karena faktor lingkungan, dimana keluarga dari O’Brien merupakan keluarga pesepakbola yang cukup dikenal di daerahnya. Salah satu sepupunya adalah Johnny Giles, yang merupakan legenda bagi klub Inggris, Leeds United. Memulai karir bersama klub sepakbola wanita, yaitu Julian Vard Furriers, bakat O’Brien terasah. Di klub tersebutlah ia bersahabat dengan pemudi kembar dengan skill yang cukup menawan, Joan dan Jacinta Williams, si kembar yang menawan lewat skill olah bolanya. Ketika pemudi ini kompak dalam menghadapi pertahanan lawan, sehingga hanya membutuhkan waktu sebentar saja untuk melambungkan nama Julian Vard Furriers.

Anne O’Brien (ditengah, diantara dua rekannya) sedang berbincang bersama manajer Reims, Pierre Geoffroy.

Anne O’Brien membuat nama Julian Vard cepat terkenal. Namanya semakin melambung ketika sukses melibas Bosco, dengan skor 3-2 dan semua gol berasal dari kakinya. Ia mencetak hattrick kala itu dan membuat ia semakin yakin bahwa menjadi pemain sepakbola adalah jalannya. Patut diketahui, bahwa Anne O’Brien hampir saja menjadi atlet atletik, namun kesempatan tersebut segera terkikis karena pengaruh sepakbola yang begitu besar terhadap hidupnya. Pada tahun 1970, O’Brien segera bergabung dengan salah satu klub sepakbola wanita yang cukup ternama di Irlandia, yaitu Dublin All Stars.

Hingga pada tahun 1973, ia mendapatkan kesempatan untuk debut bersama timnas sepakbola wanita Irlandia. Sebagai info tambahan bahwa pada saat itu sepakbola wanita di Irlandia masih belum bergabung dengan organisasi yang mewadahi seluruh kegiatan sepakbola di Irlandia, yaitu FAI. Jadi, dapat dipastikan bahwa sepakbola wanita di Irlandia  memiliki jalan yang berliku.

Klub sepakbola asal Prancis, Stade Reims menjadi klub pro pertama wanita pirang ini. Manajemen Reims tertarik melihat bakat sensasional O’Brien, dan pada tahun 1973 ia resmi berseragam Reims usai pertandingan persahabatan antara timnas Irlandia menghadapi Reims.

Anne O’Brien saat membela klub ibukota Italia, SS Lazio.

Pada era 70-an, Reims memang dikenal sebagai “Harlem Globetrotters”-nya sepakbola. Pasalnya, tim tersebut dihuni banyak bintang pesepakbola wanita. Salah satu pemain yang berasal dari Reims dan cukup dikenal adalah Rose Reilly, yang berasal dari Skotlandia dan kemudian mengantarkan A.C.F Milan menuju kesuksesan. O’Reilly menjadi salah satu bintang yang kemudian semakin bersinar bersama Stade de Reims. Pada saat itu, O’Reilly hanyalah remaja yang baru membuka matanya. Ia baru berusia 17 tahun, namun terpilih sebagai salah satu rising star-nya Reims.

Bersama Stade de Reims, O’Brien merengkuh gelar juara tiga kali yaitu pada musim 1973 hingga dimusim terakhirnya bersama Reims, 1976. Setelahnya, Lazio menjadi pelabuhan karir kedua baginya. Italia, kala itu merupakan surganya sepakbola. Tidak hanya sepakbola kaum Adam, sepakbola kaum Hawa pun merasakan atmosfer yang besar dan berkembang pesat. Di era 70-an, sepakbola wanita di Italia mendapatkan atensi besar dan memiliki pasar yang cukup bagus. Anne O’Brien memakai jersey Biancocelesti dengan nomer punggung 10. Ia cepat mendapatkan perhatian penonton dan memiliki penggemar yang banyak, sehingga menciptakan suasana nyaman baginya berada di kota Roma. Kelak Roma menjadi tempat tinggal hingga akhir.

Pada tahun 1977, Anne menghadiahi gelar Coppa Italia untuk pertama kalinya bagi Lazio. Kemudian di dua tahun selanjutnya, ia juga sukses mengantarkan Lazio merengkuh gelar Scudetto. O’Brien bertahan bersama Lazio hingga empat tahun kedepan, sebelum akhirnya bergabung dengan Trani 80. Bersama Trani, O’Brien menghadiahi gelar Scudetto untuk dipamerkan diruang tamunya. Anne O’Brien masih mencatatkan namanya menjadi pemain sepakbola wanita tersukses kala itu. Namun, namanya acapkali tertutup oleh media yang lebih banyak memberitakan pemain bola pria.

Tahun 1986 diawali dengan kepindahan Anne O’Brien ke A.C.FModena. Saat berseragam Gialloblu inilah, dimana O’Brien tengah hamil anak pertamanya yaitu Andrea, yang juga merupakan pesepakbola dan sempat merasakan bermain bersama AS Roma. Anne O’Brien yang tidak mengambil banyak cuit, memiliki kegiatan yang cukup unik. Andrea kecil selalu ikut bersama ibunya di ruang ganti. O’Brien sendiri tidak berlama-lama membela Modena, ia kemudian pindah ke berbagai klub Italia lainnya sepertiNapoli dan Prato.

Sosok Anne O’Brien yang jatuh cinta pada negeri pizza.

Di tahun 1991 bersama Milano 82, Anne O’Brien kembali mengantarkan klubnya mengangkat piala. Kemudian ia memutuskan gantung sepatu di usia 38 tahun. Begitu betah berada di Italia, O’Brien bahkan hampir tidak pernah kembali lagi ke tanah kelahirannya. Bermain hanya 4 kali bersama timnas Irlandia, sosoknya lebih dikenal sebagai orang Italia.

Anne O’Brien menikmati masa pensiunnya melatih berbagai macam tim, salah satunya adalah tim sepakbola wanita SS Lazio. Ia tinggal di apartemennya di kota Roma bersama eks kiper Verona, Sandra dimana uang dalam pencapaian karirnya di sepakbola sudah lama habis dan passion yang telah lama hilang. Uniknya lagi, Sandra kembali ke cita cita lamanya, bekerja menjadi pengasuh anak anak dan juga membantu kebersihan apartemen.

Pada 29 Agustus 2016 lalu, Anne O’Brien meninggal dunia. Kepergiannya meninggalkan begitu banyak warisan dalam sepakbola wanita. Kontribusinya begitu besar, kawan lama, Carolina Morace mendeskripsikan O’Brien sebagai wanita kuat, wanita hebat yang berperan sebagai ibu dan juga berperan besar dalam kemajuan sepakbola wanita di dunia.


Penulis: Pradana Arya Mahendra (@aryacookwater). Penulis serabutan yg menggemari sejarah, kopi dan musik.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *