Jonas Hector, Si Rendah Hati yang Menjadi Anomali Timnas Jerman

Tim nasional Jerman menjadi salah satu yang tidak banyak tim sepakbola nasional suatu negara yang memiliki materi pemain sangat mewah. Hampir di setiap lini dan posisi ditempati oleh dua atau bahkan tiga pemain hebat dengan kualitas yang sebanding. Hal itu membuat Der Panzer bisa dibilang merupakan timnas sepakbola yang memiliki kedalaman skuad paling oke di muka bumi.

Namun, untuk posisi bek kiri kita bisa menemukan anomali bahwa pos tersebut tidak diisi oleh pemain dari klub top Eropa seperti mayoritas skuad Der Panzer, melainkan seorang figur yang tengah berjuang untuk menyelamatkan klubnya dari jerat degradasi: Jonas Hector.

Namanya jelas tidak sebanding dengan kebesaran nama-nama koleganya di timnas seperti Manuel Neuer, Sami Khedira, ataupun Thomas Mueller. Bahkan, bisa dibilang tak banyak yang tahu soal dirinya sebelum ia membawa FC Koeln promosi ke Bundesliga pada akhir musim 2013/14.

Hector adalah seorang pria yang cinta kampung halaman. Tumbuh besar di Auersmacher, sebuah perkampungan dengan populasi kurang dari 3.000 jiwa di daerah Saarland, dekat perbatasan Jerman-Prancis, Hector sudah mempunyai darah sepakbola sejak dilahirkan. Ayah dan ibunya, Erhard dan Monika bermain untuk klub amatir di kampung halamannya, SV Auersmacher yang bermain di kasta kelima liga Jerman, sehingga tak heran ia meneruskan jejak kedua orang tuanya untuk mendaftar buat tim junior klub yang sama di usia belia.

Beranjak remaja, Hector mendapat tawaran untuk bergabung dengan akademi 1.FC Saarbrucken, klub terbesar di daerah Saarland. Namun tawaran tersebut ia tolak dengan tegas karena kecintaannya kepada kampung halaman pada saat itu.

“(Waktu itu) saya bahagia bermain di Auersmacher dan (masih) ingin bermain dengan teman-temanku,” komentar Hector pada tahun 2016. “Bahkan tak sedikit pun terlintas bayangan untuk bermain di Bundesliga.”

Sosok Jonas Hector yang jatuh cinta kepada FC Koln.

Barulah saat usianya beranjak kepala dua, di musim panas tahun 2010, ia memutuskan pergi dari Auersmacher untuk bermain bagi reserve team FC Koeln. Bahkan dengan keputusannya kala itu, Hector tahu tentu sangat munafik jika ia mempunyai impian untuk bermain di kasta liga teratas, apalagi buat timnas Jerman.

Sementara di masa yang sama, Der Panzer meraih peringkat ketiga di Piala Dunia Afsel dan Thomas Mueller, koleganya di timnas saat ini, meraih gelar golden boot di ajang bersangkutan. Hector sendiri saat itu hanyalah seorang pemain yang baru saja pindah ke sebuah klub yang berkompetisi di kasta keempat liga Jerman. 

Namun pria 27 tahun ini tak pernah mengeluh akan kariernya. Ia menjalani komitmennya dengan FC Koeln dan dengan ketekunan yang ia miliki, Hector promosi ke tim utama pada awal musim 2012-13 setelah performanya berhasil meyakinkan pelatih anyar Koeln kala itu, Holger Stanislawski.

Naiknya Hector ke tim utama membuatnya juga harus rela berpindah posisi. Pria yang wajahnya sekilas mirip dengan aktor Daniel Bruehl ini sebelumnya bermain sebagai gelandang bertahan di reserve team. Namun dirinya digeser menjadi bek kiri di tim utama karena Stanislawski melihat potensi yang dimiliki Hector untuk menjadi pemain serbabisa.

Dua musim bersama FC Koeln di 2.Bundesliga, Hector menjadi figur tak tergantikan di tim inti, baik di bawah asuhan Stanislawski dan Peter Stoeger pada musim selanjutnya. Ia sukses membawa Si Kambing Gunung, klub yang juga identik dengan Lukas Podolski, promosi ke Bundesliga pada akhir musim 2013-14. Ia bahkan menyabet gelar pemain terbaik klub hasil pilihan para suporter yang kemudian menjulukinya Mr. Reliable, Tuan Andalan. Konsistensi adalah senjata utamanya, karena Hector bukanlah seorang bek sayap yang mempunyai kecepatan.

“Saya tak pernah bertemu seorang pria (yang sangat konsisten) sepertinya, baik saat masih bermain maupun sekarang melatih,” penilaian Stoeger, pelatih Koeln saat promosi ke Bundesliga kala itu soal Hector.

Sepeninggal Phillipp Lahm yang pensiun dari timnas, posisi bek kiri Der Panzer meninggalkan sebuah lubang. Konsistensi Hector membuat Joachim Loew tertarik untuk memanggilnya menjalani tugas negara, karena di saat bersamaan Jerman sendiri memang kekurangan stok bek kiri berkualitas.

Benedikt Hoewedes sempat dicoba untuk mengisi pos tersebut pada Piala Dunia 2014, dan meski mereka berhasil menjadi juara dunia namun penampilannya dinilai jauh dari kata meyakinkan. Pencarian suksesor Lahm pun berujung pada penunjukkan Hector, tapi siapa sangka keputusan Loew untuk memanggilnya, yang bisa dibilang berjudi karena Hector baru menjalani 11 pertandingan di Bundesliga sepanjang kariernya, terbilang tepat.

Menembus timnas Jerman merupakan hal yang terpikirkan oleh sosok Jonas Hector.

Menjalani debut di timnas pada usia 24 tahun tak membuat Hector minder. Figur rendah hati ini bahkan tak pernah mengecap karier di tingkat timnas junior seperti rekan-rekannya. Ia tak diberkahi dengan rekam jejak tersebut. Hector malah berhasil mengunci namanya sebagai pilihan utama di pos bek kiri Der Panzer, disertai dengan catatan sebagai pemain timnas Jerman yang memiliki menit bermain paling lama di pertandingan internasional pada tahun 2015 (754 menit).

Cerita dongengnya yang menjalani karier dari divisi bawah hingga bermain untuk timnas negaranya (Anda boleh menyebutnya sebagai versi Jerman-nya Jamie Vardy) terus berlanjut dengan berangkatnya ia ke Prancis untuk menjalani Euro 2016. Hector menjadi sosok penting saat Jerman berhasil mengalahkan Italia di babak perempatfinal sebagai penendang terakhir di babak adu penalti, sebelum lantas disingkirkan oleh tuan rumah di babak semifinal.

Sampai saat ini pun, Hector masih rutin dipanggil Loew untuk membela Der Panzer meski tengah menjalani musim yang buruk di klub. FC Koeln tengah berada di ambang degradasi setelah menjalani musim yang fantastis tahun lalu dengan lolos ke Europa League serta diangkat sebagai kapten tim.

Namun, gairahnya dalam bermain sepakbola belumlah luntur. Ia bahkan terlihat menangis di lapangan setelah Koeln dikalahkan oleh VfB Stuttgart beberapa pekan yang lalu. Dua bulan ke depan jelas menjadi masa krusial buat figur pemegang 36 caps bersama timnas ini karena selain harus memperjuangkan klubnya untuk bertahan di Bundesliga, ia juga harus menyiapkan diri jika nanti dibawa Loew ke Piala Dunia Rusia.

Adapun setelah melewati jalan panjang untuk menjadi pemain profesional dengan gaji tinggi dan sukses bermain buat timnas, Hector tetaplah sosok yang rendah hati. “Saya hanya berusaha menjalani kehidupan seperti di kampung halaman. Jika saya mempunyai uang lebih, saya akan menabungnya daripada digunakan untuk hal tak penting,” ujar pria yang sama sekali tak memilki akun media sosial ini. 

Hector pun masih berteman dengan para koleganya di SV Auersmacher dahulu. Mereka, dan juga teman-teman masa kecil Hector, acap kali menontonnya bertanding di Rhein-Energie Stadion (kandang FC Koeln) meski harus menempuh jarak 300 kilometer jauhnya. Bahkan saat Euro 2016 bergulir pun, mereka menonton langsung ke Prancis untuk memberinya dukungan. 

Bukanlah kejutan jika nantinya saat Hector bermain di Piala Dunia pertamanya, ia kembali mendapat dukungan langsung oleh para koleganya dan membawa timnasnya untuk melangkah jauh sebagai salah satu negara unggulan. Seseorang yang rendah hati pastilah menarik simpati yang tak lekang oleh waktu.


Artikel disadur dari The Guardian dengan beberapa tambahan informasi. Ditulis oleh Heru Chrisardi (@chrisardinho), penikmat sepakbola Jerman dan Fantasy Premier League.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *