John Sitton: Sang Supir Taksi Berlisensi Kepelatihan UEFA A

Leyton Orient, sebuah klub di London ini, kini tengah bertarung dengan krisis finansial dan kebangkrutan yang melanda, pasca Bechetti, sang boss diklaim memiliki banyak kasus, terutama kasus penipuan dan money laundry yang tengah melandanya.  Berbicara tentang Leyton Orient, klub yag berlogo naga ini pernah memiliki kasus unik yang membuat sang manager kala itu mesti angkat kaki dari Brisbane Road.

Adalah John Sitton, mantan bek yang mengawali karirnya bersama Chelsea yang kini harus menjalani kehidupannya sebagai pengemudi taksi di London. Unik bukan? Sitton pernah juga merumput bersama Orient dan bersama itulah ia juga berada dalam kolam sisi gelap dalam hidupnya. Sitton bercerita banyak pada media, namanya mulai mencuat tatkala sebuah film lawas yang dinilai cukup “cult” yang berjudul “Orient: Club for a fiver” dirilis pada tahun 1995 lalu itu membungkam dan mengubur karirnya dalam dalam.

‘So you, you little c*** when I tell you to do something and you, you f****** big
c*** – when I tell you to do something, do it. And if you f****** come back at me, we’ll
have a f****** right sort out in here.

 

‘And you can pair up if you like. And you can f****** pick someone else to help you, and you can bring your f****** dinner. Because, by the time I’m finished with you, you’ll f****** need it. Do you f****** hear what I’m saying or not.”

Itu adalah penggalan dialog yang dikatakan oleh Sitton ketika berada di dalam ruang ganti Leyton Orient. Kondisi dalam ruang ganti saat itu begitu memanas sampai Sitton memecat bek Terry Howard karena performanya yang buruk dan terlihat main ogah ogahan. Bukan cuma Howard, sang manajer menantang dua pemain lain yakni Barry Lakin dan Mark Warren.

Rekaman tersebut kemudian terangkum dalam film documenter Leyton Orient yang berjudul “Orient: Club for a fiver”. Sejak film itu dirilis, Sitton tidak pernah berada lagi dalam puncak karirnya sebagai manager. Musim 1994/1995 menjadi awal mula permasalahan sampai mereka berada dalam jurang degradasi.

Masalah lain dialami Tony Wood, sang Chairman yang kala itu juga mendapat situasi buruk. Usahanya sebagai pengolah kopi di Rwanda, hancur karena perang saudara yang berkecamuk di Rwanda kala itu. Klub bahkan tidak mampu lagi membayar tagihan tagihan yang dilemparkan ke administrasi klub.

Saat itu klub bahkan kesulitan untuk membayar manager dan mengontak mantan kapten mereka, John Sitton. Ia dan Chris Turner berupaya keras untuk mengangkat kembali klub dari jurang degradasi. Namun, setelah film tersebut dirilis ke publik, tampaknya tidak membutuhkan waktu lama, bagi owner baru, yaitu Barry Hearn untuk memecat Sitton.

(sc: dailymail)

John Sitton sebenarnya memiliki kapabilitas yang baik. Hal itu ia tunjukkan dengan memiliki lisensi kepelatihan UEFA level A, satu tingkat dibawah lisensi pro yang harus dimiliki calon manager apabila ia ingin melatih tim tim Premier League. Ia sendiri tercatat berteman baik dengan sosok Alan Pardew dan Kenny Jackett sejak masih berada di coaching centre di Lilleshall.

Ia mengaku pernah mencoba melamar ke berbagai klub hingga tahun 1997, namun tidak ada yang menginginkan jasanya. Hingga akhirnya pada tahun 2000, ia mendapatkan pekerjaan sebagai asisten manager di Enfield. Selain itu, John Sitton juga  pernah bekerja menjadi scout di Manchester City, ia juga berperan dalam menemukan bakat Frank Lampard dan Arjen de Zeeuw.

Masa-masa sulit pria berusia 58 tahun di dunia pesepakbolaan telah usai. Kini, Sitton bekerja sebagai pengemudi taksi di London, suatu pekerjaan yang digelutinya sejak meninggalkan sepakbola di tengah rasa kekesalan terkait video documenter yang telah menghancurkan karirnya tersebut.


Penulis: Pradana Arya Mahendra (@aryacookwater). Penulis serabutan yg menggemari sejarah, kopi dan musik.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *