Jalur-jalur Peluh Pusaran Pelatih Papan Tengah Inggris

Kompetisi Liga Inggris tidak lagi menjadi kawah candradimuka bagi bangsanya sendiri. Belum tuntas problem minimnya kesempatan pemain muda asli Inggris menembus tim utama, telah timbul lelucon menyoal keberadaan pelatih-pelaih gaek Inggris.

Permutasi menarik antara juru taktik sebangsa Alan Pardew, Mark Hughes, Sam Allardyce, Roy Hodgson, Tony Pulis, David Moyes, serta masih banyak lagi menyemarakkan linimasa beberapa waktu lalu. Bila merunut pada histori masing-masing pelatih tersebut, memang terdapat perputaran nasib yang berjalin-kelindan bak lingkaran setan. Mari kita urai dan semoga Anda tidak geleng-geleng kepala.

Alan Pardew, ditunjuk West Brom pada November 2017 sebelum dipecat pada Maret lalu. Klub ini pernah dilatih Tony Pulis dan Roy Hodgson; Mark Hughes, memimpin Southampton sejak Maret setelah dipecat Stoke City, klub yang pernah lama ditangani Tony Pulis; Sam Allardyce, menerima pinangan Everton, klub yang membesarkan nama David Moyes; Roy Hodgson, menjadi penyelamat Crystal Palace mulai pekan kelima musim ini. Klub ini pernah mempekerjakan Tony Pulis, Sam Allardyce, dan Alan Pardew; David Moyes, pesakitan dalam beberapa musim terakhir tetapi dipercaya West Ham musim ini. Sam Allardyce dan Alan Pardew pernah di sana.

Premier League menyamai rekor pemecatan terbanyak -sembilan kali- dalam semusim dan banyak di antaranya (baik yang dipecat maupun yang ditunjuk sebagai pengganti) melibatkan nama-nama membosankan di atas. Benang merahnya, terdapat tatanan yang susah ditembus manajer lokal segar, tapi di sisi lain, cenderung terbuka terhadap debutan dari Eropa daratan. Javi Gracia di Watford bisa menjadi percontohan betapa klub tidak lagi meneropong pasar lokal kala berburu manajer. Tingginya tuntuan bersaing di kasta tertinggi dibarengi dengan persediaan melimpah pelatih ciamik di luar negeri membuat juru taktik lokal terpinggirkan.

Mark Hughes, salah satu manajer yang kerap menangani klub papan tengah Inggris.

Sebagai perbandingan, seperti dilansir Training Ground Guru, ada diferensiasi perlakuan antara pelatih-pelatih muda di Inggris dan Jerman. Ada lima pelatih berusia 30-an di Bundesliga, yakni Julian Nagelsmann (30 tahun, di Hoffenheim), Domenico Tedesco (32, Schalke), Manuel Baum (38, Augsburg), Florian Kohfeldt (35, Werder Bremen), dan Sandro Schwarz (39, Mainz). Kelima orang ini, kecuali Tedesco, menukangi tim junior masing-masing klub sebelum diberi kesempatan memegang tim senior di kasta teratas Bundesliga.

Ada berapa pelatih seusia mereka di Premier League? Nol besar. Dua pelatih lokal termuda di Premier League ialah Eddie Howe di Bournemoth (41 tahun) dan Sean Dyche di Burnley (46 tahun), dan keduanya harus memupuk kepercayaan klub, membangun reputasi, serta mengukuhkan legitimasi dari divisi bawah.

Menurut Uwe Rosler, pria Jerman yang malang melintang di divisi bawah Liga Inggris, “Pelatih muda di Bundesliga bekerja di akademi klub. Mereka lalu dipromosikan oleh klub tersebut (ke tim utama). Di Jerman terlihat jalan karier (bagi seorang pelatih) yang nyaris tidak ditemukan di Inggris.”

Pelatih dari “jalur akademi” terakhir yang muncul di Premier League adalah Tim Sherwood, yang kemudian berturut-turut dipecat Tottenham dan Aston Villa. Peninggalan terbesarnya tak lain tak bukan yaitu Harry Kane, bocah yang dipantau setiap hari olehnya di Akademi The Lily Whites. Sedikit ke bawah, ada pula nama Neil Redfearn di Leeds United (kala itu di divisi Championship).

Di tangan Sean Dyche, Burnley sukses meraih tiket kualifikasi Liga Eropa musim 2018/19.

Sang bos akademi ditunjuk jadi pelatih utama pada November 2014, dan semenjak itu menetaskan berlian semodel Lewis Cook (sekarang di Bournemouth), Sam Byram (West Ham), hingga Charlie Taylor (Burnley). Pelatih dari jalur ini memiliki pengetahuan menyeluruh tentang pemain-pemain muda di akademi, dan tentu menguntungkan klub dalam aspek finansial.

Hanya saja, mediokritas pelatih muda Ingris bukan semata akibat minimnya kesempatan dari klub-klub. Keterbatasan pilihan mengemuka oleh karena generasi penerus (terkhusus mantan pemain) terlalu nyaman duduk di depan kamera televisi. Gary Neville dan Jamie Carragher merupakan contoh nyata kawula muda yang berkarat akibat duduk di zona nyaman. Neville misalnya, setelah menjalani empat bulan mengerikan di Valencia, ia kehilangan motivasi yang dahulu membuatnya memutuskan mengambil lisensi kepelatihan.

Jalur Peluh di Lapangan

Para pandit semacam mereka memilih jalan hidup yang berbeda dengan Hodgson, Neil Warnock, atau Harry Redknapp yang bertungkus lumus di lapangan hingga usia 70-an. Agar bisa seperti mereka, tentu seseorang harus ikhtiar menentukan jalan karier: berpeluh di lapangan atau bergidik di ruangan ber-AC. Secara umum ada tiga jalur yang bisa ditempuh seorang pelatih muda, seyogianya para kolega Neville (baca: mantan pemain), bila ingin mendaki karier menjadi pelatih top.

Jalur pertama diperuntukkan untuk mereka yang ingin mengasah insting kepelatihan dengan membina para pemain muda. Umumnya klub sangat terbuka bila mantan pemainnya yang hendak kembali untuk “mengajar”. Belakangan nama Scott Parker dan Steven Gerrard mengudara berkat kerja nyata mereka di akademi. Nama pertama membawa tim junior Tottenham menempati peringkat empat di Premier League u-18 zona selatan dan melaju hingga perempat final di UEFA Youth League, Liga Champions-nya para remaja.

Terakhir, eks gelandang klimis tersebut dikaitkan dengan lowongan pekerjaan di Ipswich Town. Nama kedua populer sebagai legenda Liverpool dan mampu memberi impresi bagus pada musim pertama di akademi Kirkby. Sebagai ganjaran, ia sudah dipinang raksasa tidur Skotlandia, Rangers, dan bersiap mengarungi musim berat melawan dominasi Glasgow Celtic-nya Brendan Rodgers.

Tidak beberapa lama menangani tim muda Liverpool, Steven Gerrard ditunjuk sebagai manajer anyar Glasgow Rangers untuk musim 2018/19.

Jalur kedua, yakni untuk mereka yang punya nyali berhadapan langsung dengan para pemain dewasa di pekerjaan manajerial pertama. Untuk urusan ini, Kevin Nolan dan Joey Barton agaknya bisa menjadi teladan. Nolan, eks kapten Newcastle dan West Ham, memutuskan langsung terjun kepelatihan saat statusnya masih sebagai pemain aktif di Leyton Orient, dan sekarang, ia membawa Notts County melaju ke play-off promosi League Two. Adapun Joey Barton mengejutkan publik saat tiba-tiba mengumumkan akan melatih Fleetwood Town di League One per musim depan. Ah, Garry Monk juga bisa diajukan. Ia menjadi pelatih-bermain bagi Swansea saat tim tersebut masih di Premier League pada 2013-14.

Jalur ketiga agak sedikit berbeda, yaitu dengan menjadi tangan kanan, menyerap ilmu dari pelatih-pelatih yang sudah mapan. Michael Carrick akan melakukannya musim depan di tim utama Manchester United, membantu tugas manajer sekaliber Jose Mourinho. Paul Clement sudah lebih dulu melakukannya di bawah bimbingan Carlo Ancelotti, pun dahulu Gary Neville di timnas Inggris bersama Roy Hodgson.

Pada tiga paragraf terakhir saya menyebut deretan pelatih masa depan Inggris: Parker, Gerrard, Nolan, Barton, Monk, dan Carrick, yang semuanya masyhur semasa masih aktif bermain. Mungkin saja salah satu dari mereka akan mengantar klubnya berjaya di Liga Champions, atau membawa Inggris menjuarai Piala Dunia. Mungkin juga tidak. Satu yang pasti, kemauan mereka terus bekerja membuat publik Inggris masih dapat menaruh harapan. Jika memang benar matahari tidak pernah terbenam di tanah itu, sudah seharusnya mereka menciptakan penakluk-penakluk (sepak bola) baru, seperti pendahulu mereka.


Mukhammad Najmul Ula. 085642693821 (whatsapp). Seorang penderita rabun politik, anggap saja pesepakbola gagal yang tak mau meninggalkan lapangan hijau. Bisa dihubungi lewat @najmul_ula.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *