Inside: Guru Itu Bernama Julien Feret

Nama Julien Feret mungkin terasa asing di telinga para penikmat sepakbola. Dalam kesempatan ini saya menulis artikel tentang Feret, karena saya terkesima melihat seseorang yang mampu bertahan dari cemoohan, dan meraih cita citanya. Ya, Julien Feret sosok midfielder berusia 35 tahun yang kini bermain untuk SM Caen di Ligue 1 itu memulai karirnya di Rennes. Karir sepakbolanya terbilang cukup panjang.

Pada tahun 2001, terlintas dari benak seorang pemuda untuk melanjutkan karir sepakbolanya, yang saat itu baru saja ingin memulai debut profesional. Namun, ia tampaknya belum memiliki klub. Sempat dulu memang Feret pernah hampir direkrut oleh En Avant Guigamp, sayangnya hal tersebut gagal menjadi kenyataan lantaran Feret yang saat itu masih 19 tahun baru akan lulus dari sekolahnya di Saint – Brieuc.

Tampaknya, Feret muda memang akan melanjutkan studinya atau mungkin juga menjadi guru dalam beberapa waktu kedepan dan memupus cita citanya sebagai pesepakbola professional. Namun, harapan kembali hadir ketika Stade Rennais mengajukan proposal untuk merekrut dirinya. Saat itu, Feret yang cukup tua untuk memulai debut pro, mulai menemukan gairahnya sebagai pesepakbola professional.

Pada tahun 2003, ia resmi bermain untuk Stade Rennais. Dalam skala kecil Feret hanya bermain di beberapa laga, itupun sebagai tim Reserve di USIA 21 TAHUN! Baginya, cukup menyenangkan ketika bisa menyalurkan hobi sebagai pemain sepakbola sekaligus bertemu dengan Sebastian Puygrennier (pemain kunci Rennais saat itu) dan lain lain…lebih dari cukup.

Feret saat dipercaya mengenakan ban kapten Stade Rennais

Sekitar satu musim, manajemen mengubah segala kebijakan. Feret pada saat itu ditawari kontrak professional oleh Stade Rennais. Tapi halangan datang dari sosok Patrick Rampillon, selaku pihak pelatih dari Stade Rennais saat itu. Ia menyebut sosok Feret sebagai pemain yang lemah, tidak memiliki integritas yang baik dalam sepakbola dan tidak pernah cocok untuk bermain dalam skala pro.

Kritik pedas semacam itu membuat Feret urung untuk melanjutkan karir sepakbolanya. Terlihat tanpa harapan, ia kemudian mengajukan proposal untuk menjadi Guru Physical Education and Sport di beberapa sekolahan terkemuka di Perancis. Di lain kesempatan ia pun hampir bergabung bersama klub amatir Perancis bernama, Loudeac.

“Julien Feret is a player who lacked of a personality, mental and character” -Patrick Rampillon-

Di tahun yang sama, Feret yang saat itu perlahan melupakan sepakbola, mendapatkan proposal dari AS Cherbourg. Sebuah klub sepakbola amatir Perancis, dilatih oleh Patrice Garande, salah satu legenda sepakbola asal Perancis. Feret merasa tertantang untuk membuktikan kapasitasnya sebagai pemain sepakbola handal, mengingat ia lama bermain di divisi amatir. Ia pun mampu menunjukkan performa yang cukup lumayan, menyumbangkan assist dan gol selama di ajang Championnat national cup.

Musim selanjutnya ia mulai berbenah. Pada tahun 2005 ia dilirik oleh Stade Reims, klub yang saat itu menghuni divisi II Prancis alias Ligue 2. Reims memiliki ambisi untuk dapat meraih titel di Ligue 2 dan segera merapat ke Ligue 1, namun permasalahannya adalah materi yang pas pasan. Julien Feret hadir melengkapi tim dan segera “nyetel” dengan skuad yang ada.

Selama tiga tahun terhitung dari tahun 2005 hingga 2008, kemampuan Feret meningkat. Ia memperbaiki performanya dan meraih UNFP Trophy (player of the season) pada musim 2006-2007. Di Stade De Reims inilah ia banyak belajar tentang positioning dan marking, membawanya ke level yang lebih tinggi dalam karir sepakbolanya.

Julien Feret saat diberi instruksi oleh sang manajer, Patrice Garande

Pada tahun 2011 lalu bekas timnya, yaitu Stade Rennais mencoba untuk merekrut kembali Feret yang kala itu bermain untuk Nancy Lorraine. Rencana Rennais berhasil dan Feret yang baru akan menandingi pemain pemain yang memiliki nama untuk Stade Rennais. Feret berhasil menjadi playmaker terbaik dalam klub yang pernah menyepelekannya itu. Ia sukses menorehkan 8 gol dan 9 assist dalam 35 games nya bersama Stade Rennais.

Dan sejak 2014 lalu, Feret bergabung bersama SM Caen dalam status Free Agent. Secara kebetulan, SM Caen saat itu bahkan sampai saat ini dilatih oleh Patrice Garande, sosok yang pernah melatih dan mengajarkannya dalam bermain sepakbola, memberikan kemajuan yang berarti dalam hidup dan karirnya dalam dunia sepakbola.

Belajar dari sosok Julien Feret, kita harus terus berpikir bahwa bahwa cita cita mampu diraih dalam skala apapun. Gertakan dalam hidup anggaplah sebagai lawakan belaka…


Penulis: Pradana Arya Mahendra (@aryacookwater). Penulis serabutan yg menggemari sejarah, kopi dan musik.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *