Huddersfield Town dan Logika Dibalik Angka 170 Juta Pounds

Kemeriahan di Wembley sudah berlalu semenjak Senin (29/5/17) sore waktu setempat. Duel dua tim beridentitas biru-putih dalam pertandingan yang dikatakan sebagai salah satu yang termahal di dunia kemudian dimenangkan oleh salah satunya walau harus melewati drama. Sejarah dituliskan kembali setelah Huddersfield Town membekuk Reading untuk kemudian meraih promosi kembali ke divisi tertinggi setelah 45 tahun yang lalu.

Selain kesempatan bermain di Premier League, The Terriers (julukan Huddersfield Town) juga dijanjikan hadiah lebih dari 170 juta Pounds. Ya, 170 juta Pounds atau sekitar Rp 3 triliun! Tentu saja angka itu merupakan jumlah uang yang cukup besar. Namun, tunggu dulu! Uang tersebut tidak serta merta didistribusikan secara penuh kepada tim promosi, tetapi terdapat proses pembagian yang mengharuskan klub mencapai hal tertentu di musim depan dan beberapa tahun ke depan.

Dimulai dari pendapatan klub yang terdiri hak siar yang diperkirakan mencapai 95 hingga 100 juta Pounds, hal ini menarik untuk dicermati. Kontrak hak siar di Premier League (PL) dipecah dalam tiga bagian yakni: 50% dibagi rata, 25% dibagi sesuai dengan posisi klasemen akhir dan terakhir 25% dibagi sesuai dengan seberapa sering klub ini disiarkan langsung.

Lalu kemudian, terdapat peningkatan dalam kontrak sponsorship beserta manufaktur perlengkapan tim yang rata-rata berada di angka 6 juta sampai dengan 8 juta pounds khusus untuk klub papan bawah saja. Jika klub tersebut kemudian terdegradasi, maka masuklah unsur parachute payment yang dibayarkan oleh otoritas liga yang mencapai 70 juta hingga 80 juta pounds.

Parachute payment, merupakan bentuk bantuan agar klub dapat melakukan penyesuaian keuangan setelah tidak lagi bermain di liga tertinggi dan mempunyai sistem tersendiri. Uang ini tidak otomatis dibayarkan sepenuhnya, namun terbagi dalam 3 cicilan/tahun sesuai kesepakatan baru. Hal ini kemudian membuat pembayaran uang tersebut dapat berhenti lebih cepat jika: (1) klub promosi kembali ke Liga tertinggi di Inggris ini macam Newcastle lakukan musim ini; atau (2) berkurang banyak jika mereka berstatus sebagai tim yo-yo, Hull City salah satu contohnya.

Angka 170 juta Pounds kemudian menjadi hadiah standar bagi klub yang sudah lama tidak promosi ke PL dan itu didapat setara, baik bagi klub yang promosi via jalur langsung seperti Brighton atau kemudian yang menjadi peserta playoff dimana pada musim 2016/17 terdapat nama Huddersfield sendiri beserta Reading dan Sheffield Wednesday. Fulham jadi catatan menarik musim ini karena mereka masih mendapat parachute payment mereka yang terakhir.

Hadiah sebesar ini tentu akan tertutup dengan pembiayaan pasca promosi macam bonus, kontrak baru bagi pemain, serta biaya yang lebih besar untuk menjamin status ini tidak lewat saja. Jika berhasil, 170 juta pounds kemudian dapat meningkat hingga mendekati 300 juta pounds dalam dua tahun ke depan. Luar biasa.

Huddersfield Town: Siapakah Mereka?

Mari kemudian berbicara tentang klub yang beruntung ini. Huddersfield Town memang terakhir kali menjejaki puncak tertinggi liga pada musim 1971/72, namun mereka punya kebanggan tersendiri sebelumnya. Berdiri pada 1908, klub ini merupakan salah satu klub yang disegani di Inggris pada dekade 1920-an. The Terriers memenangi tiga gelar liga berturut-turut dari 1923 hingga 1926 yang hanya bisa ditandingi Manchester United dan Liverpool hingga saat ini. Dua musim diantaranya terjadi di bawah asuhan Herbert Chapman.

Filosofi dari permainan yang diajarkan Chapman saat itu ialah ketika sebuah tim bergantung kepada lini pertahanan yang hebat. Hal itu membuat Huddersfield Town merasakan adaptasi taktik mutakhir lebih cepat dari Arsenal. Faktanya, saat itu Huddersfield hampir tidak pernah kebobolan lebih dari dua gol tepatnya pada musim 1921-1922. Sepeninggal Herbert Chapman dan pecahnya Perang Dunia ke-2, klub ini mengalami tren kejatuhan. Naik-turun divisi satu-dua menjadi makanan mereka semenjak 1952 walaupun pernah dihiasi nama Bill Shankly sebagai pelatih serta tempat singgahnya seorang Denis Law.

Terakhir bermain dalam divisi teratas liga pada awal era 1970-an, mereka kemudian anjlok semakin jauh, bahkan sempat bermain di kasta keempat Inggris pada 1975 hingga 1980 serta musim 2004/05. Maju cepat ke masa kini, Huddersfield Town kembali ke kancah kasta tertinggi liga Inggris,setelah mengalahkan Reading lewat drama adu penalti yang membuat kubu asuhan Jaap Stam terpaksa harus lebih lama bermain di Championship.

David Wagner bersama The Terriers

Apresiasi sepenuhnya kemudian dialamatkan kepada peran David Wagner musim ini. Mantan pemain timnas Amerika Serikat dan juga Borussia Dortmund ini mulai menukangi Huddersfield Town pada tahun 2015 lalu, menggantikan peran Chris Powell yang dianggap tidak mampu mengangkat derajat Huddersfield Town. Sempat tidak bersinar, revolusinya baru benar-benar dimulai pada tur musim panas 2016 setelah finis di peringkat 19. Merombak skuad, ia membawa 13 pemain baru kombinasi dari murah seperti Chris Löwe ataupun pinjaman macam Aaron Mooy dan Danny Ward.

Dengan materi seperti itu, kejayaan Huddersfield jika dianalisa sekilas dibangun dari dari kedekatan dan kekompakan Wagner dengan para pemain. Itu juga yang sempat membuat klub ini berada di puncak klasemen Championship pada bulan September tahun lalu. Menarik untuk mengulik lebih jauh taktik David Wagner yang sebelas-dua belas dengan gegenpressing atau heavy metal football milik temannya, Jürgen Klopp. Namun tulisan ini harus berakhir dulu di titik ini. Sebelum itu, penulis perlu mengajak anda sepakat dalam satu hal bahwa Huddersfield sebenarnya klub yang memiliki bakat menjadi ajaib.

Mengapa? Ini berkaitan dengan satu fakta yang cukup unik dimana The Terriers sempat menjadi klub tidak terkalahkan dalam 43 pertandingan di League One per 1 Januari hingga 11 November 2011. Rekor itu mematahkan 42 pertandingan tidak terkalahkan yang dipersembahkan Brian Clough kepada publik Nottingham Forest pada tahun 1979 dan tentu ada harapan bahwa Huddersfield memberikan kejutan lebih di musim depan untuk menyamai prestasi ini.

Semoga saja harapan berbuah yang terbaik, apalagi dengan modal 170 juta pounds alias Rp 3 triliun!


Penulis: Kombinasi antara Pradana Arya (@aryacookwater) bersama dengan Willibrordus Bintang (@Obinhartono1). Tulisan lain dari mereka berdua dapat ditemukan di sini, jadi selamat berseluncur.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *