Giorgio Chinaglia, Sosok Bajak Laut di Tengah Lapangan Hijau

Swansea City merupakan sebuah klub yang saat ini tengah menjadi bahan perbincangan bagi penggemar sepakbola, terutama penggemar liga Inggris. Pasalnya, klub asal Wales tersebut baru saja keluar dari zona degradasi dibawah kepemimpinan Carlos Carvahal. Meskipun begitu, Swansea tetap menjadi lawan yang sering mematahkan asa klub klub besar.

Padahal sekitar tujuh tahun lalu, Swansea City sukses memenangkan gelar pertama mereka setelah 100 tahun berdiri di tanah Wales. Michael Laudrup sang arsitek tim, yang baru saja merapat ke Liberty Stadium sekitar 6 bulan itu sukses mengantarkan The Swans menjadi juara Capital One Cup (dulu Carling Cup) setelah mengalahkan Bradford City dengan skor 5-0.

Swansea City bermain apik saat itu dengan melumat Bradford dengan mudahnya sekaligus meraih trophy pertama mereka dalam sejarah. Satu hadiah lagi yakni mereka langsung menuju Europa League di musim selanjutnya. Mengingat Swansea, kira kira siapa yang anda ingat tentang mereka? Saya rasa sedikit yang mengenal klub ini, apalagi menyoal legendanya. Dan justru itu mengapa artikel ini dibuat, saya ingin membahas sedikit tentang seorang yang pernah fenomenal di klub ini dan klub Italia, Lazio pada masanya.

Giorgio Long John Chinaglia. Siapa dia? Apa kontribusinya terhadap Swansea?

Selebrasi Chinaglia saat sukses merobek gawang AS Roma saat berseragam Lazio

Tunggu dulu, ada tiga alasan mengapa Giorgio Chinaglia dijuluki “Long John”. Pertama, ia adalah pemain asal Italia yang disejajarkan dengan John Charles, legenda Juventus asal Wales. Kedua, kata “Long” pantas disematkan lantaran postur tubuh Chinaglia yang lumayan tinggi untuk ukuran seorang striker.  Dan yang ketiga…Long John Silver, mengacu pada nama seorang bajak laut mengingat Chinaglia dikenal sering memotong umpan alias membajak/merebut bola lawan.

Lalu siapa sebenarnya sosok Giorgio Chinaglia ini?

Chinaglia memulai karirnya di Wales setelah keluarganya memutuskan untuk pindah ke Wales pasca perang dunia ke-2. Ayahnya adalah seorang pekerja kasar sebagai buruh besi. Kehidupannya yang keras menjadikan Chinaglia kecil tumbuh dewasa lebih cepat dan bersifat keras pula. Dia belajar banyak di Cardiff School, disana pula ia mencetak hattrick sehingga namanya mulai dikenal. Cardiff pun mengajukan tawaran, namun ditolaknya mentah mentah dan ia segera pindah ke kota Swansea.

Giorgio Chinaglia (9) saat berseragam New York Cosmos bersama Pele

Chinaglia dikenal menyukai dua olahraga yang berbeda yakni, rugby dan sepakbola. Ayahnya pun berujar kepadanya “Kamu menyukai keduanya (olahraga tersebut)? Rugby hanya untuk orang Wales dan sepakbola untuk orang Italia. Pilihlah sepakbola.”

Dan petualangannya bersama Swansea Town pun dimulai.  Namun sayang, ia hanya mampu menyumbang satu gol dan membuat pihak klub mendepaknya. Chinaglia kemudian mencoba untuk bermain di klub Britania Raya lainnya, namun tak ada tawaran. Beberapa bos klub mengatakan ia kurang professional.

Kemudian ia melanjutkan karir untuk bermain di klub asal kelahiran ayahnya, Massesse. Tak bertahan lama, ia memilih pindah ke Internapoli. Disanalah nasib baik mulai menaunginya. Karirnya pun mulai menanjak beserta sikapnya yang mulai matang. Tawaran besar pun datang dari SS Lazio, sebuah klub yang saat itu menghuni divisi dua liga Italia. Tanpa pikir panjang Chinaglia menerima tantangan tersebut dan terbukti, kesuksesan direngkuh Lazio dengan memenangan trofi Copa Delle Alpi dan promosi ke Serie A pada musim 1971/71. Segudang prestasinya bersama Biancoleste membuat Chinaglia dipanggil Ferruccio Valcareggi, pelatih timnas Italia untuk menjalani beberapa partai di kualifikasi World Cup 1970.

Catatan: Chinaglia merupakan pemain Italia pertama dari divisi kedua Liga Italia, yang dipanggil ke Timnas.

Suporter Lazio membentangkan banner Girogio Chinaglia saat menghomati kepergian sang legenda 2012 lalu

Namanya semakin harum di hadapan publik Lazio setelah membawa Lazio menjadi salah satu tim hebat pada awal era 70-an, tentunya bersama Tommaso Maestrelli, sang pelatih Lazio saat itu. Menjuarai Liga Italia di musim 197/74 bersama Re Cecconi dan Ghedin, Chinaglia pun menjadi anak emas klub dan kesayangan bagi para Laziale -sebutan pendukung Lazio-. Selain itu sifatnya yang keras nyatanya  cepat melambungkan namanya dan reputasinya untuk dikenal di dunia pesepakbolaan. Meski demikian, tingkah Chinaglia di luar lapangan kerap mengundang kontroversi.

Pernah suatu ketika di hari Sabtu, beberapa pemain Lazio termasuk Chinaglia mencoba menghilangkan stress dengan datang ke bioskop di kota Roma. Melihat penyerang tim rival, suporter AS Roma saat itu mengejek Chinaglia. Ia sendiri awalnya hanya menanggapi ejekan itu dengan santai. Namun, setelah lampu bioskop dimatikan, sang Long John memberi “bogem mentah” kepada fans Roma tadi dan terjadilah perkelahian.  Tak sampai disitu, beberapa catatan emosional di luar dan di dalam lapangan juga pernah dicatatnya setelah hengkang dari Lazio.

Meninggalkan Lazio, Long John Chinaglia memilih hijrah ke negeri Paman Sam dan bermain untuk New York Cosmos bersama Pele dan Beckenbauer pada medio 1976. Bahkan Pele pun dibuatnya menangis, setelah beradu argumentasi dengan Chinaglia. Begitulah Long John Chinaglia, sesosok pribadi yang keras namun berbakat dalam mengolah bola. (24 Januari 1947 – 1 April 2012).


Penulis: Pradana Arya Mahendra (@aryacookwater). Penulis serabutan yg menggemari sejarah, kopi dan musik.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *