FC Bari, Davide Astori dan Kebencian Terhadap Andrea Masiello

Kematian kapten Fiorentina, Davide Astori memang mengejutkan banyak pihak. Bagaimana tidak? Pria 31 tahun tersebut berpulang ke pangkuannya saat sedang tidur di hotel tempat La Viola menginap. Sampai artikel ini turun, belum ada keterangan resmi dari pihak keluarga maupun Fiorentina soal penyebab meninggalnya sang palang pintu.

Situasi ini kemudian membuat federasi sepakbola Italia menunda seluruh laga Serie A giornata ke-27 yang sejatinya digelar pada Minggu & Senin (4-5/3) ini (kecuali laga Lazio vs Juventus dan Napoli vs AS Roma yang sudah berlaga di hari sebelumnya). Ucapan belasungkawa pun kemudian mengalir deras dari berbagai kalangan seperti rekan seprofesi, klub-klub Eropa, para kerabat bahkan suporter klub-klub Italia.

Suporter klub Serie B, FC Bari menjadi salah satu pihak yang turut mengungkapkan kesedihan mereka atas kepergian Astori. Memanfaatkan badan fly over di daerah Poggiofranco, Bari, para suporter langsung membentangkan banner bertuliskan “Perchè Astori e Non Masiello?” yang jika diartikan adalah “Mengapa Astori (yang tewas) dan bukan Masiello?”

Tulisan tersebut jelas menimbulkan pertanyaan publik. Pasalnya mengapa ada nama Masiello yang justru diharapkan tewas dalam banner yang sejatinya ditunjukkan sebagai rasa belasungkawa kepada Davide Astori? Dilansir Tuttosport, suporter Bari memanfaatkan situasi dengan membuat banner tersebut untuk mengucapkan simpati mereka sekaligus menyindir palang pintu Atalanta, Andrea Masiello.

Banner FC Bari ungkapan duka terhadap Davide Astori sekaligus kebencian terhadap Andrea Masiello.

Kebencian para fans I Galletti terhadap Masiello sendiri memang cukup beralasan. Pasalnya, pria 32 tahun itu terbukti terlibat dalam skandal pengaturan skor pada musim 2010/11. Saat itu, Masiello yang membela FC Bari disinyalir melakukan gol bunuh diri secara sengaja dalam laga bertajuk Derby Pugliese menghadapi US Lecce.

Dalam laga tersebut, Lecce sudah unggul 0-1 atas tuan rumah sampai pertengahan babak kedua. Namun momen kontroversial terjadi di menit ke-80.  Penyerang Lecce, Jedaias Capucho Neves “Jeda” mendapat peluang dan melepaskan umpan silang kepada rekannya. Masiello yang sejatinya sukses memotong bola justru melakukan gol bunuh diri. Seakan tak mampu membuang bola, bola yang dihalaunya justru masuk ke gawang sendiri.

Kemenangan 0-2 di laga tersebut membuat Lecce terhindar dari zona degradasi dan mampu bertahan di Serie A pada musim selanjutnya. Sebaliknya, FC Bari terpuruk di dasar klasemen dengan raihan 21 poin dan harus terdegradasi ke Serie B.

Setahun kemudian, federasi sepakbola Italia melakukan investigasi terhadap Andrea Masiello dan delapan pemain Bari lainnya. Tak hanya menguak soal pengaturan skor pada laga Bari vs Lecce, tim investigasi juga memeriksa pertandingan terakhir I Galletti di musim sebelumnya. Dalam investigasi tersebut, Andrea Masiello mengaku menerima tawaran 50,000 Euro agar bermain lengang dan memastikan Bari takluk demi kelangsungan hidup US Lecce di Serie A musim selanjutnya.

Italia dan mafia sepakbola memang masih identik berjalan bersama. Kasus calciopoli pada tahun 2007 lalu nyatanya belum menjadi pelajaran bagi para pelaku sepakbola negeri Pizza. Penyerang asal Swedia, Zlatan Ibrahimovic yang sempat merumput bersama klub-klub elit Italia sempat mengemukakan pendapatnya soal sepakbola disana. Dalam bukunya, Zlatan menulis: “Berbeda dengan suporter di Eropa Barat yang percaya keadilan wasit, orang Italia selalu curiga bahwa timnya akan dicurangi.”

Berkaca dari kasus Andrea Masiello, sepakbola sudah sangat mengikat dan menyatu kepada para pecintanya. Kasus itu juga membuktikan bahwa pengkhianat tidak akan pernah mudah dilupakan bagi orang-orang yang telah tersakiti.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *