Erno Erbstein, Torino dan Gambaran Sosok Seorang Ayah

Superga merupakan salah satu tragedi kelam terbesar dalam sejarah sepakbola, dimana sebuah pesawat yang membawa rombongan pemain pemain Torino tersebut hancur berkeping keping. Menyisakan luka dalam bagi public Torino, cerita soal Superga kian lekat dengan Torino hingga saat ini.

Salah satu korban tewas adalah Erno Ergi Erbstein. Ia saat itu merupakan manajer Torino yang membangun apa yang disebut dengan Il Grande Torino. Pasalnya ia sukses mengantarkan klub asal Turin meraih lima gelar Serie A, pencapaian paling keren Torino yang tampaknya sulit untuk kembali diukir di era saat ini.

Erbstein adalah seorang Yahudi asal Hungaria, ia merupakan eks bintang sepakbola Hungaria. Menurut saya, kisahnya patut difilmkan ketimbang membuat film mengenai Jamie Vardy. Terdengar subjektif memang, tapi kenyataannya sendiri masuk akal.

Erbstein menemukan jalan karirnya pada tahun 1915 bersama Budapest AK. Ia sempat juga memperkuat Vicenza Calcio selama setahun sebelum merapat ke Brooklyn Wanderers di tahun 1926, sebelum akhirnya gantung sepatu di tahun 1928. Pernah merumput bersama Vicenza, membuat namanya lekat dengan sepakbola Italia. Sampai akhirnya ketika Erbstein melatih, Ia dapat dengan mudah membangun kedekatan dengan suporter FC Bari dimana tim tersebut mencatatkan namanya sebagai pelatih.

Benito Mussolini

Tahun 1938 dimana saat itu Erbstein tengah membangun Il Grande Torino, muncullah sebuah polemik. Disaat yang sama, politik di Italia begitu kisruh. Benito Mussolini kemudian menggemakan apa yang disebut dengan “Manifesto to Race”, yaitu sebuah undang undang yang melarang apapun yang berhubungan dengan yahudi, sehingga membuat Erbstein harus angkat kaki dari Italia.

Lima tahun kemudian tepatnya pada tahun 1944, Jerman menyuarakan peperangan dengan menginvasi Hungaria, seketika itu pula semuanya menjadi neraka. Setiap harinya 12.000 orang Yahudi dilempar ke kamp Auschwitz tanpa ampun. Erbstein dan keluarganya tidak mampu membayangkan apa yang akan terjadi dimasa mendatang bagi kehidupan mereka, semuanya menjadi mengerikan. Namun pada saat yang sama muncul inisiasi dari pendeta Katolik yang bernama Father Klinda dan Gitta Mallasz (salah seorang public figure dan mantan atlit renang). Mereka menggagas sebuah pekerjaan bagi perempuan perempuan Yahudi untuk menjaga barang barang dari Vatikan. Hal tersebut memberikan keamanan walaupun sedikit saat mereka semua bersembunyi di dalam Gereja.

Para perempuan Yahudi saat itu merasa aman sebelum akhirnya ada sekelompok Nazi dengan identitas lokal yang menamakan diri mereka sebagai “Nyilas” mengetahui semuanya. Kelompok ini tak segan untuk menculik dan merampok barang barang milik keluarga Yahudi dan merusak serta membakar rumah dan mengirim mereka dalam kamp. Tak urung, keluarga Erbstein juga menjadi korban. Erbstein dan keluarganya dipisah, Erbstein dikirim ke kamp buruh sedangkan Istri dan kedua anaknya dibawa oleh Nyilas.

Sosok seorang ayah bernama Erno Erbstein

Pada suatu hari tercetuslah ide ketika Erbstein mengenali seorang sersan yang dulu pernah dikenalnya di Habsburg Army. Pria tersebut menjaga Erbstein ketika sedang melakukan percakapan dengan istrinya melalui telepon. Erbstein kemudian menelepon guru ballet dari kedua anaknya yakni Valeria Dienes. Ia merupakan salah satu guru tari yang populer yang kemudian mengantarkannya pada Angelo Rotta.

Angelo Rotta sendiri merupakan orang yang bertanggung jawab penuh yang diutus oleh Vatikan untuk menyelamatkan orang orang Yahudi. Dia juga mengenal Suzzana, salah satu anak dari Erbstein yang pernah menjadi tour guide saat ia berada di Italia. Di lain sisi terdapat nama Gennaro Verollino yang ditugaskan untuk menyelamatkan 70 orang wanita yang disandera oleh Nyilas, untuk kembali ke Gereja. Sekitar 70 orang perempuan Yahudi selamat, dan tentu saja Istri dan kedua anak Erbstein sudah menyiapkan rencana untuk kabur.

Ketika keluarganya telah benar benar aman, kini tinggal Erbstein yang merencanakan untuk kabur dari kamp buruh. Ia bersama keempat orang lainnya, termasuk Bela Guttman, pria Hungaria yang mengantarkan Benfica menjuarai Piala Eropa di tahun 1961 dan 1962 merencanakan untuk kabur. Mereka lompat dari jendela kereta yang akan mengirim mereka ke Jerman. Misi mereka berhasil dan pada bulan Desember tahun 1944 banyak dari orang orang Yahudi diungsikan ke rumah dimana rumah tersebut merupakan “safehouse” dibawah pengawasan pemerintah Swedia.

Runtuhan pesawat tragedi Superga

Lepas dari masa kelam tersebut, Erno Erbstein kembali membuka jalan baru bagi karirnya. Tahun tahun berikutnya, Erbstein kembali melatih Torino dan sukses memenangkan dua gelar bersama klub tersebut. Namun sayang karir Erbstein tak berjalan lama. Ia meninggal dunia pada tanggal 4 Mei 1949 bersama rombongan skuad Torino yang pesawatnya jatuh di Superga. Ia dan 18 orang lainnya, termasuk Valentino Mazzola dan Romeo Menti di identifikasi sebagai korban tewas.

Nama Erno Ergi Erbstein mungkin terdengar asing ditelinga penggemar sepakbola saat ini, namun aksi heroik sebagai kepala keluarga dan kontribusinya bersama Torino tidak perlu dipertanyakan lagi.


Penulis: Pradana Arya Mahendra (@aryacookwater). Penulis serabutan yg menggemari sejarah, kopi dan musik.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *