Emiliano Mondonico, Tangan Dingin Sang Spesialis Tim Promosi

Kamis, 29 Maret 2018 merupakan hari yang kelam bagi publik Italia. Salah satu tokoh yang cukup dihormati nan disegani dalam olahraga sepakbola, Emiliano Mondonico menghembuskan nafas terakhirnya setelah berjuang cukup lama menghadapi kanker ganas yang menggerogoti tubuhnya. Mondonico meninggal pada usia 71 tahun.

Menyimak kiprah Mondonico dalam perhelatan sepakbola Italia cukup menarik, pasalnya legenda ini merupakan ahli taktik yang cukup jenius, mengantarkan Torino maupun Atalanta dalam beberapa laga yang mungkin sulit terulang lagi.

Sedikit kisah mengenai Emiliano Mondonico, ia merupakan seorang mantan pemain sepakbola yang mengawali karir bersama klub lokal Cremonese. Bermain sebagai winger, kemudian Mondonico merumput bersama tim-tim yang ia latih di masa depan, yakni Torino dan Atalanta. Ia menutup karirnya sebagai pemain dengan kembali ke Cremonese. Karir Mondenico sebagai pemain memang kurang mengkilap. Namun, sepakbola sejatinya sudah mendarah daging dalam dirinya. Keterampilannya justru bukan soal mengolah bola, tetapi meramu taktik jitu.

Kemantapan Mondonico dalam meramu taktik di setiap pertandingan diperkenalkannya ke publik, saat ia melatih Cremonese. Dimulai pada tahun 1978, ia melatih tim akademi Cremonese dan karirnya begitu pesat sehingga dua tahun kemudian, Mondonico menjabat sebagai pelatih tim senior di klub tersebut. Tidak butuh waktu terlalu lama, dalam kurun waktu tiga tahun saja Cremonese mampu promosi ke Serie A. Pengalaman yang begitu luar biasa bagi Cremonese, tercatat dalam sejarah dan kini belum terulang lagi.

Novara menjadi salah satu klub yang pernah merasakan tangan dingin Mondonico.

Pada musim 1987-1988, Mondonico melanjutkan petualangannya sebagai manajer dengan menukangi Atalanta. Bersama tim hitam-biru itu, ia sukses mengantarkan Atalanta hingga semifinal Winners Cup, namun sayang La Dea menyerah ditangan SV Mechelen dengan skor 4-2. Glenn Stromberg dan kawan kawan tidak mampu meraih asa menjuarai gelar tersebut. Mondonico bertahan bersama Atalanta hingga penghujung tahun 1990.

Petualangan selanjutnya dimulai ketika mantan pemain Torino ini kembali ke Turin. Kali ini, ia kembali dalam rangka melatih Il Toro yang kala itu baru saja promosi ke Serie A. Mondonico merupakan wajah lama dengan harapan yang begitu tinggi terhadapnya. Publik Turin berekspektasi begitu tinggi, namun hal tersebut tidak merupakan kiasan saja karena Mondonico membuktikan kualitasnya sebagai pelatih.  Bersama Torino, Mondonico sukses merengkuh Mitropa Cup, yang kini sudah tidak diselenggarakan lagi.

Dimusim yang sama pula, Torino menggebrak klasemen Serie A kala itu dengan mencapai peringkat kelima, disusul dengan kiprah mereka ke Final UEFA Cup pada musim 1991-1992. Namun, sekali lagi Torino tidak beruntung, mereka harus menyerah ditangan Ajax Amsterdam. Walter Casagrande yang sejatinya menjadi topskor Torino, tidak mampu berbuat apa apa di laga pamungkas tersebut.

Ada beberapa faktor kesuksesan Mondonico kala itu saat menukangi tim anyar dari kota Turin. Salah satunya, manajemen Torino yang begitu solid dan mendukung. Presiden klub, Gianmauro Borsano tidak ikut andil dalam urusan taktik dan permainan, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Mondonico. Kemudian, intuisi alami yang dimiliki Mondonico sebagai pelatih ketika berhasil mengantarkan Cremonese maupun Atalanta, merupakan hal yang begitu padu ketika melatih Torino. Statusnya sebagai alumni pemain Il Toro, menambah nilai plus terhadap atmosfer, chemistry team dan suporter.

Mondonico merupakan sosok yang menyukai musik dan grup band legendaris, Rolling Stones.

Musim 1992-1993, Mondonico tidak mampu berbuat banyak. Kepindahan sejumlah bintang dari Torino menciptakan problem berat. Mondonico hanya mampu mengantarkan Torino duduk di peringkat 8 klasemen sementara. Di musim selanjutnya bahkan keadaan Torino malah semakin memburuk, hanya mampu berada di posisi ke-16 klasemen sementara Serie A. Hal ini membuat Mondonico didepak dari Torino.

Meskipun begitu, Atalanta yang di musim 1994-1995 tengah terseok seok di Serie B, memutuskan untuk memanggil kembali Emiliano Mondonico. Para pemain muda yang penuh harapan seperti  Paolo Montero dan Domenico Morfeo, memiliki apresiasi besar ketika Mondonico kembali menukangi La Dea. Benar saja, Mondonico kembali berhasil mengantarkan Atalanta promosi Serie A.

Hingga di penghujung tahun 1998, Mondonico tetap berada di Atalanta. Seperti memiliki keterikatan batin dengan Torino, di musim 1998-1999 ia kembali melatih Il Toro untuk kedua kalinya. Kali ini Torino yang tengah susah payah untuk mendulang kembali kesuksesan di Serie A mesti terpuruk di Serie B. Sekali lagi, Mondonico sukses mengantarkan Torino untuk kembali Promosi ke Serie A dimusim selanjutnya.

Kesuksesan Mondonico dalam meramu strategi juga diperlihatkan ketika Fiorentina, klub yang dinyatakan bangkrut di awal era 2000-an, kembali mampu berbicara di musim 2003-04. Bersama Emiliano Mondonico tentunya, Fiorentina melesat dari Serie C hingga promosi ke Serie B. Tampaknya Mondonico memang berjodoh dengan tim tim yang cukup gurem di papan persaingan sepakbola Italia. Promosi kembali ke Serie A pada musim 2004-05, tentunya menjadi hal menyenangkan para supporter dari Florence.

Sosok Mondonico mendapat tempat tersendiri di hati para suporter Il Toro.

Selanjutnya, Mondonico lebih banyak berada dibelakang layar. Ia hanya terlihat ketika menukangi Albinoleffe pada September 2009, dan saat itu kesehatannya mulai memburuk. Puncaknya terjadi pada tahun 2011, ia terpaksa harus cuti dari Albinoleffe karena kesehatannya yang semakin memburuk dan memberikan tanggung jawab sebagai pelatih kepada Daniele Fortunato, kala itu. Mondonico terakhir kali melatih pada tahun 2012 saat menangani Novara, namun ia tidak mampu berbuat banyak sehingga harus di depak sebelum musim berganti.

Sejak saat itu, Mondonico tidak lagi pernah melatih. Ia kemudian beralih profesi menjadi jurnalis pada La Domenica Sportiva dan kolumnis bagi RAI. Mondonico merupakan salah satu legenda yang memiliki gairah begitu besar bagi kemajuan tim tim yang ia latih. Tidak sampai disitu, dalam artikel serta analisis yang ditulis, ia menampilkan begitu banyak detail akan pertandingan dan pengetahuan yang begitu dalam hingga menutup matanya di Milan, pada 29 Maret 2018.

Sosok Emiliano Mondenico terbilang seperti sosok pahlawan tanpa tanda jasa. Tangan dingin beliau mampu membuat beberapa klub menengah Italia dan para suporternya merasakan atmosfer berbeda di tingkat teratas pesepakbolaan negeri Pizza bahkan sampai ke persaingan di benua biru.


Penulis: Pradana Arya Mahendra (@aryacookwater). Penulis serabutan yg menggemari sejarah, kopi dan musik.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *