Carlos Carvalhal: Sang Pujangga Penyelamat The Swans

Ia mengandaikan Swansea City yang “sedikit lagi akan diantar ke ruang krematorium” sebelum ia datang di tanah Wales. Lalu setelah tujuh laga berlalu, ia berkata “sebentar lagi dokter membolehkan kita pulang.” Pada lain waktu, ia menganggap klub itu dalam keadaan tenggelam di laut dalam yang kemudian hanya mampu melihat bebatuan dan hal-hal hitam lainnya. Namun sekarang, ia yakin timnya sudah bisa melihat garis pantai dan butuh banyak berenang untuk benar-benar selamat ke daratan.

Sebetulnya apa yang dimaksudkan sebagai “ruang krematorium” dan “laut dalam” ialah bahwa The Swans -julukan Swansea City- sedang terperosok ke posisi juru kunci lantaran hanya mampu mengumpulkan 13 poin dari 20 pertandingan. Tak lama berselang, terjadi pemecatan terhadap pelatih Paul Clement. Buntut putus hubungan dengan Clement itu sendiri adalah penunjukkan Carlos Carvalhal sebagai nahkoda baru.

Orang terakhir yang disebut sebenarnya tidak punya pengalaman melatih di level atas piramida sepakbola Inggris. Meski begitu, ia dengan mimik mantap telah memperbaiki peruntungan Swansea City, di antaranya dengan mendemonstrasikan analogi-analogi ajaib santapan para jurnalis, seperti analogi pembuka tulisan ini.

Penunjukkan Carlos Carvahal sempat diragukan publik

Karier kepelatihan Carvalhal sendiri tidak terlihat penuh kilau, apalagi bila dibandingkan dengan kompatriot Iberia-nya, Jose Mourinho. Ia bahkan tidak pernah bertahan lebih dari semusim dalam menukangi sebuah klub. “Masa abdi” terlama yang ia lakoni justru pada masa sabatikal selama tiga tahun setelah meninggalkan posnya di Istanbul Basaksehir pada 2012.

Pelatih nomaden ini kemudian menerima tawaran Sheffield Wednesday menjelang musim 2015/16, dan sisanya adalah sejarah. Dua musim pertama di Divisi Championship diakhiri dengan sangat lumayan, yakni; final dan semifinal play-off divisi Championship. Sayangnya, ketidakberuntungan menghajar di musim ketiga. Wednesday lebih dekat ke League One dibanding ke Premier League sehingga ia terpaksa dipecat pada Desember lalu. Dasar petualang, baru empat hari mengepak koper dari Kota Baja, ia sudah menemukan tempat tinggal baru di Wales.

Menjebak Mobil Formula 1 di Jalanan London

“Banyak orang mengatakan tim ini membutuhkan ‘keajaiban’ untuk bisa bertahan, tapi saya tidak setuju sebab ‘keajaiban’ itu bukan sesuatu yang datang dari dunia manusia. Ini tantangan besar, kami akan berjuang mengangkat tim ke posisi yang lebih baik,” cetus Carvalah saat dilantik Swansea kepada The Guardian.

“Mereka (Swansea-red) berjarak lima poin dari zona aman, tidak bermain dengan bagus, tidak mencetak gol, bahkan tidak mengkreasi peluang. Tidak ada yang berharap lebih pada Swansea. Namun kami dapat mengubah sesuatu—itu yang kami yakini. Kami mampu menghidupkan para pemain dan membangun dinamika baru.”

Secara mengejutkan The Swans raih tiga poin atas Liverpool

Tujuh pertandingan telah dipimpin Carvalhal dan para pemain terlihat “hidup” kembali dengan “dinamika” lebih kuat dibanding sebelumnya. Sam Clucas tidak lagi bingung harus berlari ke mana bila bola berada 50 meter darinya, Alfie Mawson tampak membuktikan kenapa banyak klub level atas meminatinya dan Jordan Ayew terlihat bahagia menari-nari di kotak penalti lawan.

The Swans membuktikan diri telah melewati beberapa batu cadas nan terjal, salah satunya saat mengalahkan Liverpool, tim penakluk Manchester City di pekan sebelumnya. Kemenangan tipis di Liberty Stadium ini diraih Federico Fernandez dkk dengan menaruh banyak pemain di belakang bola, sehingga—oleh Carvalhal- disebut mirip kejadian ketika mobil Formula 1 dijebak di jalanan London pukul 4 sore!

Lobster, Sarden, dan Dua Wajah

Pada awal bursa transfer Januari lalu, Carvalhal kembali berkicau soal perekrutan pemain. “Saya akan berusaha sekeras mungkin mengambil pemain-pemain terbaik. Saya menargetkan para ‘lobster’, tapi jika tidak (mampu) kami harus mengumpulkan ‘sarden’. Kadang-kadang ‘sarden’ bisa memenangkan pertandingan. Ada keterbatasan di sini. Ini tidak akan mudah. Saya percaya mereka (Chairman Huw Jenkins dan pemilik klub) akan membeli pemain yang saya inginkan,” ucapnya seperti dilansir BBC.

Ketika bursa transfer berakhir, Swansea cuma kedatangan dua pemain. Gelandang pinjaman dari Leicester City, Andy King mungkin termasuk golongan “sarden”, tetapi penebusan termahal klub untuk Andre Ayew sepatutnya menjadikan saudara kandung Jordan ini berlabel “lobster”. Lobster dan Sarden ini memang belum benyak berkontribusi karena minimnya waktu untuk mengintegrasi ke tim. Untuk sementara, punggawa-punggawa lawas yang terkesan “tenggelam” justru berperan penting atas meroketnya performa tim.

Perekrutan Andre Ayew sekaligus menyatukan sang pemain dengan sang kakak

Ki Sung-Yeung yang terakhir kali mencetak gol liga pada 2016 berhasil mencetak gol penentu pada kemenangan 1-0 atas Burnley bulan lalu. Ia pun membeberkan suasana baru yang dibawa Carvalhal. “Dia berkata pada kami, dia punya wajah ‘A’ dan wajah ‘B’. Kadang-kadang ketika kami terasa tegang, dia bisa berbicara panjang lebar yang sanggup membuat kami tertawa. Ketika kami harus tertawa kami akan tertawa, tapi saat kami bekerja kami akan berkonsentrasi. Dia bisa sangat serius.”

Menurut Andre Gwilym di Wales Online, Carvalhal memang mengubah Swansea di segala aspek. Ia mengawalinya dengan membangun fondasi pertahanan, yang terlihat lebih mempunyai intensitas ketika bermain tanpa bola. Mereka mampu menekan secara agresif dan konstan tanpa kehilangan bentuk baku.

Di ujung lain lapangan, lini yang membuat gemas penggemar karena tampil ompong sepanjang musim langsung diubah oleh sang nahkoda anyar. Dalam pertandingan pertama melawan Watford, Alan Shearer mengidentifikasi perbedaan mencolok di lini penyerangan Swansea. Ada sekitar tiga atau empat pemain berkostum putih lebih banyak dari biasanya, yang tentu saja memberikan banyak keuntungan ketika berada di lini belakang lawan.

Sesi latihan pada era Carvalhal dilaporkan selalu dihelat dengan tempo tinggi dan tekanan tinggi, tapi terasa santai. Sentuhan personal Carvalhal kepada para pemain juga terasa manjur. Seperti terlihat pada Jordan Ayew dan Sam Clucas, dua pemain yang sempat diajak “ngobrol” lalu memberi efek bagus pada permainan mereka.

Tingkah Carvahal saat menghadapi media Inggris yang dikenal tajam

Satu hal yang paling mencolok dari kehadiran pelatih Portugal di Wales ini ialah pesonanya di depan wartawan. Tingkahnya di konferensi pers memang tidak seperti manajer kebanyakan. Ia bahkan pernah membawa kue tart di sesi konferensi pers menjelang pertandingan. Salah satu tujuan Carvalhal melakukan ini tentu saja untuk mengalihkan tekanan dari pundak para pemain dengan memainkan peran entertainer di hadapan media. “Taktik” memuji pemain atau memberikan pernyataan yang akan dijadikan headline di media terdengar familiar? Tidak terlalu mirip Jose Mourinho, kan?

Ada ujar-ujar beken di kalangan pemerhati politik, “Pujangga melahirkan bangsa-bangsa di dunia, lalu para politisi menghancurkannya.” Adagium ini bertolak dari realita bahwa banyak negara-negara dunia yang kemunculannya dimotori para pujangga (pemikir, intelektual, atau orang yang keilmuannya kukuh), tetapi kemudian tidak dapat bergerak maju karena digerogoti antagonis berwujud politisi korup.

Kalau kita andaikan Swansea City sebagai sebuah negara dan Carlos Carvalhal ialah sang pujangga, siapa antagonis yang akan menghancurkan pencapaian mereka? Chairman Jenkins dan duo pemilik Jason Levien dan Steve Kaplan ialah tangan-tangan raksasa di Liberty Stadium. Masa depan Swansea tergantung apakah mereka menggunakan kebajikan, atau ketergesaan, dalam mengelola klub.


Penulis: Mukhammad Najmul Ula. Seorang penderita rabun politik, anggap saja pesepak bola gagal yang tak mau meninggalkan lapangan hijau. Bisa dihubungi lewat @najmul_ula.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *