Antihero: Ivan Savvidis

Dunia sepakbola digemparkan ketika seorang pemilik klub berjalan ke lapangan sembari menenteng revolver untuk memprotes keputusan wasit yang menganulir gol dan mendebat ofisial tim lawan. Berbahaya dan sembrono merupakan kesimpulan yang mudah, namun ada konteks yang hadir di sana dan patut dibedah berkaitan subjek tersebut.

Awam mengenalnya sebagai yang asing, datang dari Rusia untuk berinvestasi di Yunani pada 2012. Oportunis karena kesempatan hadir ketika Negeri Seribu Dewa sedang berada dalam krisis ekonomi, namun ada juga alasan lain. Sebagai keturunan Yunani Pontos yang lahir di Georgia era Uni Soviet, tentu terdapat panggilan untuk kembali ke tanah leluhurnya.

Kisah hidup Ivan Savvidis merupakan cerminan dari seorang pekerja keras yang cerdik. Setelah menyelesaikan dinas ketentaraan, ia lanjutkan karyanya dengan menimba ilmu di Rostov State University of Economics. Selesai dari situ, beragam posisi dia kerjakan di satu perusahaan rokok hingga berakhir sebagai manajer umum dan kemudian pemilik ketika era privatisasi melanda Rusia paska Uni Soviet.

Donskoy Tabak, perusahaan rokok itu, kemudian menjadi yang terbesar di Negeri Beruang Merah dan ini percikan awal yang mengantarkannya kepada kesuksesan. Pengakuan sebagai salah satu orang Rusia terkaya oleh Forbes pada 2013 lewat perusahan investasi AGROKOM, Savvidis bisa mencapai hal tersebut karena lihai mengelola bisnis dan mendekatkan diri kepada pusaran kekuasaan Vladimir Putin.

Pengusaha sukses, politikus lihai

Menjadi anggota legislatif nasional Rusia atau Duma merupakan simbolitas kedekatan Savvidis kepada Putin dan dunia yang akrab dengan intrik. Setelah bertekun dalam hal ekonomi, dia kemudian masuk ke komisi internasional yang memberikannya kesempatan untuk dekat dengan sesama kolega legislatif dari Yunani.

Kedekatan formal itu membuka peluang memperluas kerajaan bisnisnya. Salah satunya dengan bergerak di bidang sepakbola dengan mengambilalih PAOK FC, klub dengan nama besar di Yunani namun “tertidur” semenjak 1985. Ini bukan sesuatu yang baru baginya karena semenjak 2002, sudah ada dua klub yang merasakan jerih payahnya.

Pengalaman matang bersama Rostov FC dan FK SKA Rostov-on-Don lalu tercermin dengan langkah pertamanya untuk membersihkan PAOK dari hutang. Mengutip Elena Budou, jurnalis yang melibatkan diri sebagai pengamat klub tersebut, uang yang digelontorkan agar lepas dari hutang negara mencapai 80 juta Euro dalam 4 tahun awal kepemilikan.

Bukan berarti uang merupakan alasan orang mencintai Savvidis, namun kepemimpinannya pantas dihormati. Ia berusaha menampilkan diri sebagai pemilik klub waras yang terbuka mengakui bahwa sepakbola Yunani berjalan korup.

Tidak sekedar mengutuk, namun juga aksi nyata hadir dengan mendorong PAOK mundur dari turnamen Piala Yunani edisi 2015 paska kerusuhan yang melanda saat bertemu dengan Olympiacos. Hal itu terulang lagi oleh Savvidis yang dalam permintaan maaf menyebutkan bahwa aksi membawa pistol selagi mengkonfrontasi wasit Giorgios Kominos merupakan bentuk keprihatinan kepada kegagalan dunia sepakbola Yunani pada Senin lalu.

Dikelilingi oleh suporter yang mencintainya tidak membuat Savvidis berpuas

Akan tetapi, cerita kemudian tidak berakhir dengan puja-puji atas dia. Lagi-lagi, kita harus melihat konteks. Investasi kepada klub yang identik dengan lambang elang kembar tidak membuahkan gelar juara walaupun sudah dua kali mereka mendapati diri berada sebagai runner-up dan itu berarti dosa besar sebagai pebisnis bagi Savvidis.

Ivan termasuk pemilik yang menuntut dan sering berseberangan dengan pelatih dan direktur olahraga. Instabilitas sebagai satu unit permainan benar-benar terpampang dari klub yang identik dengan warna hitam-putih ini. Perubahan kebijakan dari mengangkat potensi pemain muda Yunani menjadi klub belanja yang mengangkut pemain bintang seperti Dimitar Berbatov hampir saja memberikan hasil instan. Peluang juara semakin terbuka di musim ini, akan tetapi, tragedi menghampiri mendekati akhir.

PAOK dijatuhi hukuman pengurangan tiga poin setelah pelatih Olympiakos, Oscar Garcia, menderita luka-luka akibat terkena lemparan misil pada pertemuan di bulan Februari dengan pertandingan kemudian ditiadakan. Keputusan ini dibarengi dengan sanksi bermain tanpa penonton melawan pemuncak klasemen, AEK Athens.

Ini dianggap tidak adil oleh pengurus klub dari Thessaloniki dan banding dilancarkan. Charles Duxbury, salah satu penulis sepakbola yang memiliki minat akan Yunani, melaporkan bahwa keputusan menganulir hukuman tersebut hadir pada pagi hari dimana pertandingan melawan AEK dijadwalkan.

Maka, kekacauan mengintai ketika penonton mendadak diijinkan hadir memenuhi Toumba Stadium. Terbukti, emosi yang memenuhi luar lapangan menular ke dalam hingga insiden terjadi di akhir pertandingan. Gol Fernando Varela yang akan membuat jarak poin antara PAOK dan AEK tinggal 1 poin disahkan untuk dianulir beberapa saat kemudian. Kerusuhan lalu meletus dan Ivan Savvidis sepertinya mengalami ledakan adrenalin hingga kita disuguhkan dokumentasi dramatik seorang pria berumur 58 tahun membawa senjata api.

Di detik tersebut momen ini menjadi abadi dan menarik perhatian kita semua. Wasit Kominos memang pada akhirnya mengesahkan gol tersebut pada kesempatan ketiga, namun pemain AEK yang merasa terancam tidak mau melanjutkan pertandingan yang lalu ditunda.

Drama berlanjut dengan Liga Super Yunani ditunda oleh pemerintah hingga waktu yang tidak ditentukan. Ivan Savvidis sendiri dicari polisi bukan karena alasan membawa revolver, dimana hukum Yunani mengijinkan selagi memiliki surat kepemilikan, namun dengan dakwaaan mengganggu ketertiban dengan masuk ke lapangan hijau.

Ivan sudah meminta maaf kepada pihak yang merasa dirugikan, namun ini tidak menutup kenyataan bahwa PAOK harus mengubur impian untuk melepaskan dahaga setelah 30 tahun tanpa gelar domestik. Cacat kecil yang dapat diperbaiki oleh Savvidis jika dibandingkan perasaan terhina karena keputusan penghentian liga diambil oleh koleganya yang sekarang menjadi Perdana Menteri Yunani, Alexis Tsipras.

Lalu, bagaimana kita harus melihat sosok Ivan Savvidis? Saya menganggap dia sebagai Anti-Hero,  menjadi protagonis yang menyelamatkan dunia dan berbuat hal baik bagi banyak orang namun dengan motivasi untuk memenuhi kebutuhan personalnya yang tidak selalu baik.

Insiden tersebut mungkin akan terlupakan dalam beberapa bulan ke depan, apalagi Budou mengatakan bahwa Ivan paham cara kerja dunia sepakbola Yunani. Akan tetapi, cerita ini menunjukkan kecintaan akan sesuatu bisa membuat kita gelap mata dan bertindak melanggar etika yang seharusnya dijunjung dalam permainan sepakbola.

About Willibrordus Bintang Hartono

Sedang berada di Jogja untuk berkuliah. Selain sepakbola, makanan dan buku menjadi kesukaan. Anda dapat menemukan celotehan saya di @Obinhartono1.

View all posts by Willibrordus Bintang Hartono →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *