Antara US Palermo, Ghito dan Cestmir Vycpalek

Serie A merupakan liga yang penuh dengan makna, kerja keras, dan budaya yang tercampur aduk menjadi satu. Seria A pula menjadi liga yang pernah menghasilkan banyak bintang-bintang idola yang berasal dari Amerika Latin maupun benua biru. Serie A, sebuah liga besar yang pernah menjadi saksi bisu akan bangkitnya sebuah tim yang berasal dari Sisilia.

Ya, US Palermo pernah menuliskan sejarah sebagai salah satu tim kuda hitam setelah era perang dunia kedua. Saat itu, klub yang berjuluk Rosanero ini dipimpin oleh Salvatore “Toto” Vilardo, salah seorang pioneer dalam pembentukan tim bernama Palermo di masa yang akan datang. Vilardo memiliki sikap keras, namun terkadang menyakiti hati, melakukan transfer transfer luar biasa dan pada masanya ia melakukan terobosan-terobosan yang terbilang unik.

Di musim 1958-59, Vilardo mengontrak mantan pemain Slavia Praha,  Cestmir Vycpalek sebagai allenatore anyar mereka. Ia diharapkan Palermo mampu mendongkrak sepakbola Sisilia dan mempertahankan eksistensi mereka dalam liga.

US Palermo di musim 1959

Cestmir Vycpalek bukan orang yang asing dalam sepakbola. Dia merupakan mantan pemain Juventus dan Palermo. Pada masa perang dunia kedua, ia berhasil kabur dan kemudian membawa serta merta keluarganya menetap di Italia. Setelah berhasil kabur dari tentara merah Uni Soviet, ia menjadi imigran di Italia sebelum dikontrak oleh Juventus. Tidak mengherankan bahwa bakatnya tersebut tersalurkan kepada keponakannya yang saat ini kita kenal yakni, Zdenek Zeman.

Salah satu pemain yang paling menonjol di masa kepelatihan Vycpalek adalah seorang pemain asal Argentina bernama Santiago “Ghito” Vernazza. Ghito, begitulah panggilan dari seorang eks aset River Plate ini. Sebenarnya, ia didatangkan pada musim 1956-1957 dimana Arturo Kossovel saat itu melatih Palermo.

Di River Plate, Ghito sukses mengantarkan tim tersebut menjadi juara liga empat kali berturut turut. Kesuksesan tersebut kemudian mampu mengharumkan dan mengibarkan namanya di dunia sepakbola. Kemudian pada tahun 1956, Ghito Vernazza merapat ke Renzo Barbera dengan harapan mampu memberikan kontribusi baik untuk Palermo. Klub dengan corak merah muda itu sendiri adalah tim debutan di Serie A pada musim 1956-1957.

Santiago “Ghito” Vernazza

Setelah pasca perang dunia kedua mengalami krisis berkepanjangan, Enzo Benedetti dan Ghito kemudian bekerja keras untuk Palermo. Ghito sendiri sukses mencatatkan namanya sebagai penyerang terbaik di musim yang sama. Namun, hal tersebut tidak berhasil baik bagi klub karena mereka harus kembali turun kasta ke Serie B di musim selanjutnya.

Di sinilah tepatnya musim 1958-59 Vycpalek didatangkan dengan harapan mampu mengangkat kembali pamor Palermo ke Serie A. Vycpalek dan Ghito Vernazza sukses membawa Palermo promosi ke Serie A, namun mesti kalah dengan Trapani dalam ajang Piala Italia dengan skor 1-2. Ghito Vernazza, tiga musim berturut turut menjadi top skorer bagi klub, baik di Serie A maupun Serie B.

Pernah ada sebuah cerita yang melegenda bahwa Ghito pernah melakukan tendangan dari titik tengah lapangan, dan mengenai tiang gawang lawan. Ghito terus menorehkan catatan ema bagi Palermo di musim selanjutnya, namun hal tersebut sia sia karena Palermo kembali mesti angkat kaki dari Serie A. Suatu kejadian luar biasa dan tidak diduga kala itu terjadi dimana Toto Vilardo memecat Cestmir Vycpalek ditengah tim yang sedang melakoni pertandingan.

Kursi kepelatihan mendadak langsung dipercayakan kepada Ghito Vernazza yang merangkap jabatan sebagai pemain. Ia pun memberikan arahan yang ada, sesuai dengan apa yang diberikan oleh Vycpalek sebelumnya. Palermo yang saat itu ketinggalan dari Inter Milan dengan skor 3-1, mampu mengembalikan situasi menjadi 3-3, lagi lagi lewat kontribusi Ghito. Di pertandingan selanjutnya, Palermo yang tanpa pelatih tetap itu bermain luar biasa dengan melibas Parma dengan skor 7-1.

Cestmir Vycpalek saat menangani Juventus

Selanjutnya seperti biasa cerita yang dialami banyak pemain sepakbola ternama, Ghito diboyong AC Milan dengan nilai transfer yang tinggi. Disandingkan dengan nama-nama seperti Nils Liedholm, Jose Altafini dan Cesare Maldini, penampilan Ghito terbilang. Ia kemudian mengakhiri karir bersama Vicenza.

Sementara di musim 1960-61 Palermo berhasil mempertahankan eksistensi mereka di Serie A, dengan bercokol di peringkat ke-8 klasemen sementara. Hal tersebut dikatakan oleh Toto Vilardo adalah “Keajaiban Palermo”. Betul, peringkat tersebut merupakan peringkat terbaik dalam sejarah klub yang dimiliki Rosanero pasca perang dunia.

Lalu, kemana sosok Cestmir Vycpalek? Setelah momen menarik itu, Vycpalek melatih berbagai macam klub di Serie A, salah satunya adalah Juventus. Ia mencintai Palermo, Ia tinggal di Sisilia hingga akhir hayatnya.


Penulis: Pradana Arya Mahendra (@aryacookwater). Penulis serabutan yg menggemari sejarah, kopi dan musik.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *