ALS, Momok Menakutkan bagi Pesepakbola

Stephen Hawking baru saja wafat pada umur 76 tahun di bulan Maret lalu. Kita patut mengagumi perjalanan hidupnya sebagai seorang ilmuwan yang karyanya tentang kosmologi memberikan sumbangsih besar kepada ilmu pengetahuan.

Hawking mencapai banyak hal di tengah masalah kesehatan yang cukup berat. Ia harus berhadapan dengan penyakit bernama Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) yang didiagnosa saat berumur 21 tahun. Sebuah penyakit langka yang berasal dari ketidakmampuan otak mengirim pesan dan perintah, menyebabkan kematian syaraf, sendi dan otot secara perlahan sehingga penderitanya tidak lagi mampu bergerak, bahkan berkomunikasi.

Di dunia olahraga, penyakit ini sangat mengerikan karena telah menyerang banyak olahragawan di masa produktif dalam karir mereka. Lou Gehrig, pemain baseball terkenal dari Amerika tercatat pertama dalam sejarah olahraga modern yang terkena penyakit mematikan ini. Penyakit yang perlahan-lahan menjangkiti Gehrig membuatnya tidak mampu melanjutkan karir yang memesona sebagai pencetak home run bagi New York Yankees. Dia menghembuskan nafas terakhirnya di Bronx, New York pada tahun 1941 saat berusia 37 tahun atau dua tahun setelah memutuskan pensiun.

Stephen Hawking didampingi pemeran Eddie Redmayne menghadiri pemutaran perdana (09/12/14) film biopiknya, The Theory of Everything, yang banyak bercerita tentang pengalaman menghadapi ALS (Foto: Getty Images)

Banyak juga mantan pemain sepakbola mengalami penyakit ALS, salah satunya Stefano Borgonovo. Striker yang berkat kecepatan yang bagus dan insting yang nyata di depan gawang lawan menjadi bintang AC Milan dan timnas Italia di era 80-an itu pun akhirnya tumbang dan menghembuskan nafas terakhirnya pada 27 Juni 2013 silam.

Kisah lain datang dari Gianluca Signorini, pemain Gli Azzuri yang berposisi sebagai sweeper. Dia pernah mencatatkan jejak sejumlah klub elit di Negeri Pizza dan dikagumi Arrigo Sacchi yang kala itu melatih Franco Baresi untuk bisa membiasakan bermain seperti Signorini. Signorini lalu tumbang oleh Lou Gehrig’s Disease pada bulan November 2002 silam dengan nomor punggung 6 miliknya dipensiunkan oleh Genoa.

Kemudian, legenda lainnya yang juga menjadi korban dari keganasan penyakit ini adalah Mokhtar Dahari. Striker kebanggaan negeri jiran ini memiliki kecepatan yang mengagumkan serta umpan yang baik di masa bermainnya. Supermokh, julukannya, kemudian memiliki kontribusi besar kepada persepakbolaan Malaysia dan Selangor FC dalam karirnya yang cemerlang pada dekade 1980.

Ia kemudian beralih peran dan menjabat sebagai pelatih klub tempat ia membina karirnya pada musim 1988-89. Namun, tragedi hadir ketika Dahari divonis mengidap penyakit ini di akhir musim. Sekitar dua tahun setelah diagnosa mematikan itu, Mokhtar meninggal dunia dan dimakamkan di Selangor.

Potongan berita yang mengabarkan meninggalnya Mokhtar Dahari akibat ALS (foto: bolatonjol.com)

Krystszof Nowak mungkin terdengar asing bagi penikmat sepakbola, terutama yang kini masih berusia belia. Nowak, yang terkenal bermain di Wolfsburg ini, pernah merasakan atmosfer bermain di Brasil bersama Atletico Paranaense. Dikenal sebagai pemain yang baik hati, ia kemudian menghembuskan nafas terakhirnya karena ALS di Jerman pada tahun 2002.

Nama terakhir pesepakbola yang sedang berjuang melawan penyakit ini adalah Fernando Ricksen. Dia cukup terkenal pada akhir era 90-an hingga medio 2000-an sebagai punggawa Glasgow Rangers dan sempat memperkuat timnas Belanda di kala itu. Ricksen sekarang berusia 41 tahun, pencapaian waktu yang ia raih lewat perjuangan untuk tidak menyerah setelah dirinya divonis mengalami Lou Gehrig’s Disease pada tahun 2013 lalu. Penyakit ini baru dideteksi ketika ia mau membela Fortuna Sittard kala itu dan memaksanya pensiun lebih cepat.

Akan tetapi, oleh sekitarnya Fernandp sudah dianggap mengalami kelainan beberapa saat sebelum vonis menyakitkan itu datang. Mark Van Bommel, bercerita kepada media bahwa ia sudah lama menyadari ada sesuatu yang berbeda pada diri Ricksen yang bermain saat pertandingan testimonial.

Fernando Ricksen terlihat emosional ketika disambut oleh pendukung Rangers saat melawan Hamilton di akhir 2017 lalu (Foto: Willie Vass Ltd.)

“Ia datang ke ruang ganti untuk bermain, tapi ia seperti kesulitan melakukannya. Ia juga tidak mampu berkomunikasi dengan dokternya mengatakan ada kelumpuhan otot dagunya yang bisa disembuhkan,” ujar Bommel. “Saya curiga, hal ini lebih besar daripada itu,” tambahnya dan itu terbukti benar.

Kini, Fernando Ricksen masih terus berjuang walau syaraf motoriknya semakin melemah dan membuatnya tidak lagi mampu berbicara. Dia juga mengakui bahwa penyakit ini memaksanya mengekspresikan emosi yang dulunya dia sembunyikan dengan rapat dan itu menjadi motivasi untuk terus mencari penyembuhan agar bisa menjadi orang pertama yang mengalahkan ALS.

Ricksen mendapatkan dukungan dari beragam kalangan yang datang dari sepakbola. Ini dibuktikan lewat pertandingan amal diselenggarakan oleh Sittard lalu kemudian Rangers, serta sumbangan berupa 10.000 pounds yang dikumpulkan oleh fans Celtic yang merupakan rival dari klub yang dulu ia bela.

Kita bisa ikut bersimpati lewat salah satunya dengan ALS Bucket Challenge yang sempat ramai beberapa waktu lalu, dimana sumbangan yang didapat dari tantangan mengguyur diri dengan air bersuhu mendekati titik 0 digunakan untuk riset lebih lanjut untuk menemukan obat dari penyakit ini. Tidak lupa bahwa kita patut bersyukur sebagai manusia diberikan berbagai macam indera dan syaraf yang menunjang untuk penghidupan normal, sesuatu yang dirindukan bagi penderita ALS hingga detik ini.


Penulis: Pradana Arya Mahendra (@aryacookwater). Penulis serabutan yg menggemari sejarah, kopi dan musik.

About Medio Club

Medianya para penikmat sepakbola. Satu passion, satu sepakbola, satu Medio Club!

View all posts by Medio Club →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *