TSV 1860 München dan putaran nasib

Published On 21/05/2017 | By John | History

Munich, satu kota di wilayah Bavaria, Jerman sedang menghadapi anomali di minggu ini. Tepat semalam (20/05/17), sebuah klub yang bermarkas di kota itu berpesta atas gelar ke-27 Bundesliga. Tidak salah lagi, klub tersebut bernama Bayern München dan anda, para pembaca semua, pasti mengenalnya sebagai salah satu jagoan sepakbola Eropa saat ini.

Setelah keriaan berakhir, hari berganti membawa suasana yang berbeda. Warna merah digantikan warna biru yang penuh kemurungan. Benar, satu klub bernama TSV 1860 München akan berhadapan dengan Heidenheim malam ini (21/05/17) yang hasilnya dapat memastikan masa depan mereka: bertahan di 2.Bundesliga atau menemukan diri berkubang di 3.Bundesliga musim depan.

TSV 1860 mungkin hanya pelengkap saat ini dan anda hanya pernah mendengar sayup-sayup namanya. Jika hasil tidak berpihak, mereka akan semakin tenggelam dan kemudian menjadi catatan kaki bagi orang atau pihak yang pernah terkait dengan mereka. Namun, TSV punya sejarah yang harus diceritakan dan bagi penulis lebih menarik dibandingkan tetangganya yang punya 63 gelar tercatat berdasarkan Wikipedia.

Mari beranjak dari nama. 1860 dalam nama TSV 1860 merupakan tahun resmi dimana klub ini berdiri sebagai klub gymnastic di wilayah Bavaria, dengan 1848 merupakan tahun asli kelahiran mereka di tengah revolusi yang berakibat pelarangan kegiatan olahraga oleh penguasa dengan alasan membuat onar. Ya, cabang sepakbola dari klub ini baru diinisiasi pada 1899 dan resmi bermain 1902, dua tahun lebih lambat dari Bayern.

TSV 1860 sebagai jawara Bundesliga 1965/66. (@ picture-alliance/dpa)

Dalam 20 tahun mereka telah menjadikan dirinya sebagai jagoan di Bezirksliga Bayern, dengan catatan sepakbola Jerman hingga saat itu masih terbagi atas 7 area di masa setelah Perang Dunia ke-1. Masa keemasan pertama dari TSV 1860 kemudian terjadi di saat Nazi berkuasa dimana pemerintah mengagalkan terjadinya liga profesional di negara ini. Era itu juga menandai tumbuhnya bibit rivalitas dengan Bayern München dikarenakan perlakuan tidak adil kepada Die Bayern yang dianggap sebagai klub Yahudi dan mengalami ekslusi yang berakibat kepada prestasi mereka yang terjun bebas.

Kembali ke cerita, penguasa baru sukses menginisiasi suatu kejuaraan amatir sepakbola bernama Gauligen pada 1933 yang dilakukan di 16 wilayah pembagian kekuasaan masing-masing dengan TSV secara otomatis bergabung dengan Gauliga Bayern. Hasilnya adalah rengkuhan gelar pada tahun 1941 dan 1943, walaupun pada saat masuk ke penyisihan untuk menentukan juara nasional mereka selalu gagal mencapai tingkatan tertinggi.

Juga di tahun 1942, TSV 1860 sukses merengkuh gelar Tschammerpokal, suatu kejuaraan yang setara dengan Piala Jerman usai mengalahkan Schalke 04 dengan skor 2-0. Akhir perang membawa klub ini kepada penurunan dengan mereka menjadi penghuni papan tengah Oberliga Süd serta mengalami degradasi sebanyak 3 kali sepanjang 1945-63.

1965. Wembley. Bobby Moore. West Ham. Rudi Brunnenmeier. TSV 1860 di Eropa. (@ Imago)

Era 60an kemudian menjadi masa keemasan die Löwen alias Sang Singa, julukan yang kerap disematkan kepada TSV 1860, merujuk pada coat armor bergambar singa yang dipajang sebagai logo klub. Musim 1962-63 mereka menjuarai Oberliga Süd dengan hadiah menjadi peserta musim pertama Bundesliga, kompetisi profesional sepakbola Jerman, pada musim selanjutnya. Ini berarti musibah bagi Bayern München yang harus menunggu 2 tahun setelahnya untuk masuk dikarenakan DFB tidak mengizinkan dua klub dari kota yang sama berada dalam liga ini di musim awal.

TSV 1860 kemudian semakin merajai dengan sukses merengkuh gelar Piala Jerman untuk kedua kalinya, yaitu pada tahun 1964. Di tahun setelahnya, TSV kemudian meninggalkan jejak di UEFA Cup Winners Cup dengan kelolosan mereka ke final sebelum kalah oleh West Ham United. Musim 1965-96 menjadi puncak dengan ‘Sang Singa’ sukses merengkuh gelar pertama dan terakhir Bundesliga hingga saat ini.

Memasuki era 70an, TSV 1860 merupakan salah satu klub yang akhirnya terjerembab kedalam lembah kesuraman, minim prestasi, minim bintang dan sepi perayaan apapun, dan lebih banyak meninggalkan jejak di 2.Bundesliga. Kemudian, bukannya cerita yang bagus, pada awal era 80an, TSV justru makin terperosok ke Oberliga atau kasta ketiga liga Jerman saat itu.

Masuknya Karl-Heinz Windmoser dan Werner Lorant sebagai Presiden dan Manager baru mereka pada 1992 yang kemudian memimpin kembali TSV 1860 menuju kasta tertinggi pada 1994. Kendali penuh dari dua orang ini beserta kombinasi pemain muda berharga murah macam penyerang Olaf Bodden, sayap Harald Cerny, gelandang kreatif Peter Nowak serta pemain bertahan Miroslav Stević, Jens Jeremies dan Manfred Schwabl ditambah veteran berkelas seperti Abedi Pele, Thomas Häßler dan Davor Šuker membuat mereka menjadi tim tangguh di Bundesliga memasuki abad ke-21.

Rivalitas TSV 1860 dan Bayern membuat Munich penuh warna. (@ Falso9Sports)

Hal terbaik terjadi dengan mereka berhasil menduduki posisi ke 4 pada musim 1999/2000 dan mendapat jatah play-off UEFA Champions League walau kemudian kalah melawan Leeds United. Sialnya, ini gagal dipertahankan dan setelah empat tahun lamanya berada di kasta tertinggi liga Jerman, mereka kembali harus turun ke 2.Bundesliga diiringi krisis. Lorant yang kehilangan pekerjaan musim sebelumnya menjadi bagian dari krisis itu, ditambah skandal korupsi yang dilakukan oleh Windmoser yang harus melepaskan kepemilikannya. Ini dikatakan sebagai karma karena tindakan kontroversial dia untuk ground-sharing Allianz Arena antara Bayern München dengan TSV 1860 mulai musim 2005/06.

Sebuah ironi memang, karena pada TSV yang pernah berbagi kandang dengan Bayern dari 1925 sampai 1975 di Grünwalder Stadion. Perpindahan dari kandang lamanya juga seperti gembok bagi TSV yang kemudian gagal bergerak dari 2.Bundesliga hingga hari ini.

Ironi lain yang didapat TSV 1860 kemudian adalah ketiadaan sumber dana yang menyebabkan klub hampir bangkrut di pertengahan tahun 2006. Ini terselesaikan dengan hak kepemilikan Allianz Arena sepenuhnya dipegang oleh Bayern München seharga 11 juta Euro, cukup untuk menyehatkan finansial TSV, namun bagi pendukung itu artinya ‘menjual’ klub sepenuhnya kepada rival.

Krisis kemudian berulang pada 2011 dan Bayern menawarkan diri untuk membantu TSV 1860, namun disambut dengan kemarahan dari pendukung karena seperti kata pepatah: “ada udang di balik batu.” Jika TSV bangkrut, maka biaya sewa yang belum terbayar sebesar 50 juta Euro untuk durasi hingga 2025 yang dibebankan Bayern tidak akan terbayar pada waktu itu.

Kehadiran Hassan Abdullah Ismaik masih belum mampu mengangkat TSV 1860 dari 2.Bundesliga. (@ dpa)

Muncul kemudian penyelamat dengan pengusaha dari Yordania, yaitu Hassan Ismaik yang membeli sebesar 60% perusahaan operator klub, 1860 GmbH & Co. KGaA’. Ini disertai dengan perjanjian bahwa hak voting yang dimiliki oleh Ismaik hanyalah 49% terhadap kebijakan klub dengan 51% dikuasai suporter sesuai dengan kebijakan DFB.

Kedatangan Ismaik tidak serta merta mengubah peruntungan TSV 1860, bahkan klub ini semakin mendekat ke jurang degradasi dari 2.Bundesliga di musim lalu. Mereka selamat via playoff melawan klub 3.Bundesliga, Holstein Kiel dengan agregat 2-1. Gol penentu yang dicetak bek Kai Bülow di menit 91 pada pertandingan kedua yang berlangsung di Allianz Arena setelah seri 0-0 di kota Kiel membawa TSV tetap berlaga di 2.Bundesliga 2016/17.

Musim ini cerita sama terulang dan nanti malam TSV 1860 memulai pertandingan dengan posisi klasemen menjamin mereka harus melewati playoff. Jika kemudian kalah nanti dan kemenangan diraih klub yang tepat dibawah mereka, Würzburger Kickers, maka berakhir sudah 10 tahun keberadaan mereka di 2.Bundesliga dengan 3.Bundesliga mengucapkan selamat datang.

Ini akan menjadi tugas berat dari Ian Ayre, mantan direktur sepakbola Liverpool yang baru akan mulai bekerja musim depan di TSV 1860. Ambisi Ismaik bersama pelatih sekarang, Vítor Pereira untuk mengembalikan die Löwen ke tatanan tertinggi tertunda untuk beberapa saat.

Suporter dibutuhkan nanti malam untuk memompa semangat agar TSV 1860 selamat, bukan untuk bersenang-senang. Kenyataan kemudian mengena kepada semua orang bahwa perlu waktu yang panjang untuk TSV kembali menjadi ‘tetangga berisik’ yang sebenarnya di Munich, menjadi rival sejati bagi Bayern.

Selagi menunggu, mendengar slogan “Einmal Lowe, Immer Lowe!,” Sekali menjadi Singa tetaplah Singa yang berkumandang dari pendukungnya bagi TSV 1860 mungkin akan cukup menusuk sanubari jika realita tidak berteman dengan impian. Semoga saja tidak.


Penulis: Pradana Arya (twitter: @dropkickdemon), penggemar sepakbola, sejarah, dan kopi.

Like this Article? Share it!

About The Author

Kumpulan Para Penikmat Sepak Bola Tanpa Batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *