Thomas Tuchel bersama Kontradiksinya di Dortmund

Published On 17/06/2017 | By John | Opini Ngehek

Thomas Tuchel bukanlah tandingan bagi yang digantikannya di Borussia Dortmund pada awalnya. Jürgen Klopp membawa Die Borussen menjadi jawara Bundesliga sebanyak 2 kali beserta gelar nasional lain selain tentu pencapaian Eropa yang patut dibanggakan selama 7 tahun berkarir di sana.

Ditunjuk sebagai suksesor pada musim panas 2015, Tuchel bagi awam hanya dilihat sebagai pelatih Mainz 05, klub yang sama-sama pernah digawangi Klopp. Prestasi terbaiknya pun adalah menjebol Europa League selain menstabilkan klub ini di Bundesliga setelah promosi pada 2009.

Mengemban beban yang cukup besar sebagai pelatih Borussia Dortmund yang merupakan salah satu klub terbesar di Jerman, raihan trofi merupakan target wajib dan menjadi tolok ukur kesuksesan bagi orang yang mendapat kehormatan untuk melatih si Kuning-Hitam. Memang hasilnya tidak serta merta instan dan berakhir bahagia, namun Tuchel telah membawakan dimensi baru kepada klub yang bermarkas di Westfalenstadion.

Fakta memang bahwa Tuchel mempersembahkan silverware bagi klub barunya pada musim kedua. Dortmund berhasil mengalahkan Eintracht Frankfurt 2-1 di final DFB Pokal, 27 Mei 2017, lewat sepasang gol dari Ousmane Dembele dan Pierre-Emerick Aubameyang. Ini sekaligus menjadi trofi pertama buat Dortmund dalam lima tahun terakhir setelah double winner yang dipersembahkan oleh Klopp pada 2012.

Penutup musim yang cukup manis mengingat Dortmund hanya mengakhiri liga di posisi ketiga dan adanya tragedi ledakan yang mengambil peran besar dalam kegagalan mereka melewati babak perempat final Liga Champions musim ini. Sayang, ibarat adanya pengorbanan untuk sebuah kejayaan, pihak klub mengumumkan kerja sama mereka dengan Tuchel harus berakhir, hanya tiga hari setelah trofi direngkuh. Sebuah kabar yang tentu menyesakkan untuk sebagian besar fans Der BVB, meski sebetulnya hal ini telah ramai diramalkan di media sosial.

 

Tuchel membentuk kembali warisan Klopp (@ Coral)

Memahami Dimensi Baru Dortmund

Seperti disinggung di awal, Tuchel tidak memberikan apapun di musim pertamanya, namun dia membuat Dortmund lahir kembali sebagai jagoan di Jerman. Perlu ditekankan bahwa Dortmund sepeninggal Klopp merupakan kapal yang oleng karena sempat terjerembap ke jurang degradasi di pertengahan musim 2014/15.

Penyebabnya adalah taktik efisien yang menghentak seperti Blitzkrieg tidak lagi efektif dengan lawan Die Borussen di Bundesliga menemukan serumnya. Ini diperparah dengan musim terakhir Klopp yang diwarnai banyaknya pemain kunci yang cedera serta back-up yang tidak dapat menterjemahkan strateginya dengan baik. Bisa dikatakan perbaikan diperlukan dan nyata taktik lama dari Klopp tidak bisa diwariskan begitu saja untuk mengantarkan Si Kuning-Hitam kepada gelar juara.

Tuchel membawa Dortmund lebih fleksibel dan pragmatis dengan dua formasi baku, 4-3-3 ataupun 4-2-3-1 menyesuaikan lawan yang ada. Kontrol terhadap lini tengah yang di jaman Klopp tidak terlalu terlihat dikarenakan setiap pemain merangkap kemudian dipertegas lewat duet Ilkay Gündogan dan Julian Weigl sebagai perebut dan pengirim umpan. Di depan mereka, Shinji Kagawa, Henrik Mkhitaryan, Gonzalo Castro beserta Marco Reus dan Aubameyang akan memanfaatkan kreativitas untuk membuka ruang, membuat permainan dinamis serta efektif dalam mencetak gol.

Nyata bahwa jeda semusim antara selesai melatih Mainz dengan mengambil posisi pelatih Die Schwarzgelben yang digunakan oleh Tuchel untuk berguru kepada Pep Guardiola berbuah hasil jika dicermati. Apalagi kemudian strategi ini dipadukan dengan filosofi pribadi yang dibawanya untuk mempercayai, bukan hanya mengorbitkan, para pemain muda dan berbahaya semacam Dembele, Christian Pulisic, dan Raphael Guerreiro di Dortmund yang telah menjadi ciri khas semenjak melatih tim U-19 VfB Stuttgart. Namun hal tersebut tidak menjadi nilai plus untuk kemudian membuat ia bertahan karena ada masalah lain yang semakin membesar.

 

Sebelum melawan satu sama lain, Tuchel sempat berguru dengan Guardiola (@ Bundesliga)

Hubungan Tidak Harmonis dan Satu Akhir untuk Awal yang Baru?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Tuchel memiliki relasi yang kurang baik dengan CEO klub, Hans-Joachim Watzke. Musim pertama Tuchel menangani Dortmund, hubungan keduanya memang terbilang baik-baik saja. Menjadi runner-up liga dengan poin terbanyak sepanjang sejarah, 78 poin, serta mencapai partai final DFB Pokal sebelum akhirnya dikalahkan Bayern Muenchen, membuat Watzke tak bisa tidak puas akan kinerja Tuchel. Jika Klopp sukses dengan gaya gegenpressing khasnya, maka Tuchel menghadirkan nuansa baru buat Dortmund yang tidak kalah aktraktif.

Keretakan hubungan antara Tuchel dan Watzke bermula pada awal musim 2016/17, dimana Dortmund kehilangan tiga pilar penting di saat Tuchel berambisi untuk menaikkan levelnya setelah musim pertamanya yang lumayan baik dengan merengkuh gelar. Mats Hummels menyeberang ke rival terbesar, Bayern Muenchen, sementara duo Mkhitaryan dan Gündogan berganti kostum dua klub besar Manchester. Tuchel berhak untuk marah, setidaknya geram, karena Watzke sebelumnya berjanji untuk tidak menjual pemain bintang klub demi menjaga komposisi tim dan mendukung keinginan Tuchel untuk musim baru yang lebih impresif.

Pada akhirnya biaya penjualan mereka bertiga digunakan untuk membeli beberapa pemain baru, termasuk kembalinya eks pujaan, Mario Götze dari klub rival. Sayang, pembelian-pembelian tersebut tidak semuanya sukses dan bisa menutupi kepergian para punggawa penting. Praktis hanya Dembele dan Marc Bartra yang lumayan bersinar di klub barunya.

Perjalanan Dortmund di liga pun tak berjalan mulus hingga pertengahan musim, mereka  hanya mampu bertengger di posisi ke-6 liga sebelum winter break. Meski begitu, hal kontras ditampilkan di Liga Champions dimana mereka mampu menyaingi Real Madrid di fase grup dan menyaringkan bola 21 kali ke gawang lawan lewat permainan menyerang yang diterapkan Tuchel.

Jeda musim dingin, kembali konflik antara Tuchel dan Watzke meruncing setelah kegagalan merekrut Oliver Torres dari Atletico Madrid. Tuchel beranggapan bahwa klub tidak menjamin kebebasannya dalam membeli pemain, sementara Watzke balik berkomentar ke media bahwa finis di luar 3 besar Bundesliga pada akhir musim adalah kegagalan yang diartikan sebagai ultimatum kepada pelatih jangkung itu. Bahkan kabarnya pembelian Alexander Isak, striker muda berumur 17 tahun, adalah tindakan yang diambil klub, tanpa campur tangan pria 43 tahun yang tentu merasa kurang dihormati perihal pembelian pemain.

 

Watzke-Tuchel: Hubungan baik yang berakhir dengan saling cela (@ Horstmüller/imago)

Liga kembali berjalan. Tuchel tampaknya bisa mengesampingkan konflik internal yang tengah ada dan perlahan membawa Die Schwarzgelben masuk ke empat besar, zona Liga Champions, meski diselingi satu kekalahan tak perlu melawan SV Darmstadt, juru kunci liga. Klub asal lembah Ruhr pun dibawanya masuk ke babak perempat final Liga Champions dengan bertemu AS Monaco.

Sayang sebuah insiden sebelum leg pertama melawan Monaco menyebabkan Tuchel harus kembali beradu komentar dengan Watzke dan hubungan buruk keduanya kembali menyeruak ke permukaan. Sebuah ledakan di dekat bus yang ditumpangi peman dan staf Dortmund menyebabkan pertandingan ditunda. Marc Bartra juga harus dilarikan ke rumah sakit karena pecahan kaca melukai tangannya. UEFA memutuskan untuk menggelar pertandingan keesokan harinya, namun Tuchel dan mayoritas pemain memprotes.

Apa mau dikata, mereka tidak punya suara untuk ikut ambil bagian dalam pengumuman tersebut. Sedangan Watzke, sebagai petinggi klub, termasuk salah satu yang menyetujui penjadwalan ulang yang hanya sehari setelah insiden tersebut. Tuchel geram, apalagi karena ia hanya diberitahu hal tersebut lewat pesan singkat. Ia merasa diperlakukan layaknya orang luar. Pada akhirnya Dortmund harus tersingkir dari Monaco, dengan bumbu insiden dan konflik menyertai.

Sisi positifnya, konsentrasi Die Borussen berkurang sehingga mereka lebih fokus ke liga dan DFB Pokal sebagai ajang tersisa. Posisi tiga di akhir musim, yang dicanangkan Watzke, berhasil ditempati setelah sukses melangkahi Julian Nagelsmann dan musim impresifnya bersama TSG Hoffenheim, termasuk mengalahkan lawan bersangkutan dalam partai krusial dengan skor 2-1. DFB Pokal pun berhasil dijuarai dengan meyakinkan, termasuk dengan menyingkirkan Bayern Munich di semifinal.

Satu musim yang terbilang sukses mengingat bisa dibilang Tuchel menjalani dengan setengah hati terkait konflik internal yang ada, menjadikannya sebuah kontradiksi yang kompleks. Namun, sebuah trofi dirasa tidak cukup oleh Dortmund untuk meneruskan hubungan mereka dengan pria kelahiran Krumbach, Jerman Barat ini. Mungkin, pihak klub beranggapan bahwa kerjasama dengan Tuchel lebih baik dihentikan karena terlalu berisiko terhadap masa depan klub terkait komitmen jika kemudian dikaitkan dengan kasus dia bersama Mainz yang juga berakhir buruk.

 

Leg pertama perempat final Liga Champions: salah satu alasan Tuchel berpisah dengan Dortmund (@ Reuters)

Meski begitu, Tuchel sudah selayaknya pergi dengan kepala tegak. Dua musim yang terbilang sukses, disertai rekor tidak pernah kalah di kandang ketika bermain di Bundesliga. Selain itu, Tuchel juga menjadi pelatih Dortmund yang memiliki rasio poin per pertandingan terbaik (2.1) sepanjang masa dengan minimal 80 pertandingan, serta persentase kemenangan sebesar 64 persen. Statistik yang jauh dari kata pantas untuk mewakili penghentian jabatannya. Sosok kikuk dan kurus tinggi namun ekspresif di pinggir lapangan jelas bakal dirindukan para fans Die Borussen.

Posisi Tuchel sendiri akhirnya digantikan oleh Peter Bosz, pelatih asal Belanda yang sebelumnya melatih Ajax Amsterdam. Manajemen Dortmund mungkin mempertimbangkan kemiripan Bosz dengan pelatih sebelumnya, yakni peragaan akan permainan atraktif, sebagai salah satu faktor menunjuk pria plontos ini sebagai suksesor. Harapan tentu akan menjadi beban di saat yang bersamaan ketika musim baru dimulai.

Lalu, bagaimana kelanjutan karier Thomas sendiri?

Sempat santer digosipkan akan melatih Bayer Leverkusen, yang baru saja mengalami salah satu musim terburuk mereka di Bundesliga, namun akhirnya kabar tersebut mentah setelah Leverkusen menunjuk Heiko Herrlich sebagai manajer baru mereka. Juga dikabarkan bahwa jasa Tuchel diinginkan oleh klub Premier League yang baru saja berpisah dengan Claude Puel, Southampton, namun tawaran dari klub pesisir selatan Inggris tersebut ditolak mentah-mentah olehnya beberapa saat yang lalu. Pada akhirnya, harapan didoakan kepada Thomas Tuchel agar ia segera kembali ke pinggir lapangan dan kita bisa kembali menyaksikan permainan atraktif dan menyerang yang menjadi ciri khasnya.


Penulis: Heru Chrisardi. Pengikut sepakbola Jerman dan Inggris. Berkicau tak jelas di akun @heruchris.

 

Like this Article? Share it!

About The Author

Kumpulan Para Penikmat Sepak Bola Tanpa Batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *