Saga Francesco Bechetti dan Leyton Orient

Published On 25/05/2017 | By John | History

Sebagai ibukota dari Inggris, London bisa dibilang sebagai pusat kebudayaan dan sentral dari bisnis serta kemudian salah satu kota terbesar di dunia. Dari London juga terkenal akan banyaknya klub-klub sepakbola yang memiliki nilai historis yang tinggi.

Sebut saja kemudian Arsenal, Chelsea, Fulham, QPR dan West Ham yang berasal dari London. Di kota ini juga, masih banyak klub klub sepakbola lain yang kurang terdengar namanya, namun juga memiliki nilai historis yang unik. Salah satunya adalah Leyton Orient. Klub yang berusia 136 tahun ini sempat sukses di awal-awal masa sepakbola yang mulai berkembang.

Perjalanan klub berjuluk The O’s dalam kancah persepakbolaan di Inggris yang cukup panjang kemudian terancam berakhir mendadak di akhir musim ini. Klub berlogo naga merah ini sedang berada di tengah kehancuran yang disebabkan oleh pemilik mereka, Francesco Becchetti.

Jika menilik ancaman terbaru, Orient memiliki pajak yang belum dibayarkan senilai 250.000 pounds. Ini berarti alamat administrasi semakin mendekat sedangkan keberadaan Bechetti sendiri sebagai pihak yang dianggap berwenang oleh otoritas liga untuk menegosiasikan penyelesaian masalah lewat masuknya investor baru dipertanyakan. Bukan hanya masalah dari segi materi, namun juga moral klub ikut hancur setelah mereka dipastikan terdegradasi ke National League musim depan karena tindakannya.

Banyak pertanyaan dibenak, bahwa siapakah sebenarnya Becchetti ini dan mengapa mimpi buruk setelah awal penuh optimisme terjadi di Brisbane Road terjadi dibawah matanya?

Aktor dagelan berujung tragedi: Francesco Bechetti (@ BBC)

Becchetti sendiri adalah seorang pengusaha berusia 50 tahun yang berasal dari Roma. Ia terindikasi tidak memiliki ketertarikan apapun mengenai sepakbola, dan pembelian Leyton Orient dari Barry Hearn semata-mata untuk melebarkan investasinya.

Sebelumnya, latar belakang dia dalam bidang olahraga hanyalah pernah menangani klub voli dari Roma pada tahun 2000. Bisnis asli yang ia miliki adalah sebuah perusahaan daur ulang dan manajemen dari sampah organik maupun non organik yang tidak ada sangkut-pautnya dengan tendang-menendang bola.

Francesco Becchetti juga bukanlah pengusaha dengan catatan bersih, ia beserta ibunya menjadi target aparat hukum Albania karena terbukti melakukan pencucian uang dan penipuan. Namun kasus ini baru diketahui setahun setelah 2014, tahun dimana Becchetti menjadi owner dari Leyton Orient setelah dinyatakan lulus dalam Fit and Proper Test yang diselenggarakan FA.

Orient sebelum ia masuk memiliki harapan dan tujuan jelas untuk lolos ke Championship. Apalagi pada saat dibeli, klub berada dalam kepercayaan diri tertinggi mereka setelah menembus play-off di League One.

Namun, Becchetti yang terlalu ikut campur dalam kepelatihan dan manajerial dari klub ini menyebabkan panah naik klub berbalik menghujam ke bawah. Itu juga yang menyebabkan hubungan internal elemen di dalam klub menjadi menjadi kurang harmonis dikarenakan banyak hal aneh yang dilakukan Becchetti apabila keinginannya tidak terpenuhi.

Pernah suatu kali, Becchetti menendang asisten manager, yaitu Andy Hessenthaler, dan Becchetti mendapatkan hukuman sanksi 6 pertandingan dan juga diharuskan membayar 40.000 Pounds. Bukan pemandangan yang aneh kemudian ketika suporter The O’s berselisih pendapat dengan Becchetti, semakin menambah daftar nyata bahwa Becchetti bukanlah sosok yang tepat bagi Leyton Orient.

 

Pergantian manager sebanyak 9 kali dalam kurun waktu kurang dari 3 tahun, menyebabkan klub berada dalam instabilitas yang berakhir dengan degradasi dari League One pada 2015. Sosoknya yang penuh kontroversial dan ide nyeleneh ini membuat Leyton Orient yang seharusnya berada di Championship, justru malah terjun bebas ke liga semi amatir.

Kasus yang menggambarkan kegagalan manajemen manusia dari Bechetti adalah pada saat berhadapan dengan Kevin Nolan yang berakhir buruk. Hal tersebut dikatakan Nolan dimulai ketika Becchetti ingin selalu ikut campur dalam rencana rencana pertandingan, dan itu sangat tidak menyenangkan.

Nolan yang berstatus player manager akhirnya memilih hengkang dari Orient. Selain itu ada pula kejadian yang tidak menyenangkan lainnya ketika Scott Kashket, pemain muda mereka yang memilih hengkang dari Orient awal musim ini, bercerita bahwa ia dalam satu pertandingan sudah dipersiapkan, namun sang pemilik kemudian turun dan mengubah rencana awal sehingga ia tidak jadi dimainkan.

Seluruh pernyataan dari sang pemain tampaknya hanya menjadi angin belaka karena Alessandro Angelieri, Chief Executive dari Orient menampik semua hal itu. Ini juga yang menjadi alasan kenapa tersendatnya pembayaran gaji karyawan Orient juga terlambat diketahui publik di pertengahan tahun 2017 ini.

Ulah Bechetti terkait Orient juga berdampak di luar Inggris dimana ia memiliki sebuah acara reality show di Italia dengan tujuan mencari bakat sepakbola baru. Namun hal itu ternyata kebohongan belaka, dimana pemain yang tampil di acara tersebut tidak pernah disodori kontrak bersama klub berbasis di wilayah yang menjadi bagian dari London Timur.

Sekarang Orient dihadapkan pada kenyataan pahit, banyaknya fans yang meminta Becchetti hengkang, dengan protes besar-besaran di pekan-pekan akhir musim 2016/17 ini. Becchetti kini menjadi musuh bagi Leyton Orient Fans Trust/LOFT (badan yang dibentuk oleh fans Leyton Orient demi menyelamatkan klub) yang terancam diputus likuidasi oleh pengadilan jika proses alih kepemilikan tidak berjalan lancar.

 

Becchetti seharusnya menghadapi ekstradisi yang dilakukan oleh pemerintah Albania, namun tampaknya pengadilan Britania mencoba menahan dulu orang ini karena dirinya juga memiliki masalah dengan tuduhan penyalahgunaan wewenang. Ini berkaitan kasus salah satu bekas anak buahnya, Mauro Milanese, yang menjadi direktur klub dan sempat melatih Orient.

Milanese didakwa telah melakukan pelanggaran etik dalam mengatur hubungan klub dengan pemain yang dikontrak. Salah satu contohnya adalah pembelian Andrea Dossena yang digaji per minggu hanya 7.677 Pounds dengan sang agen terkena cipratan duit sebesar 25.370 Pounds yang tentu cukup miris.

Orient seperti kapal karam dengan berbagai beban yang tidak bisa dibuang begitu saja. Persiapan untuk menghadapi musim 2017/18 juga berdampak dengan para pemain tidak lagi bisa berlatih di Chigwell, training ground yang digunakan oleh Leyton Orient, dikarenakan klub tidak membayar tagihan sewa.

Ömer Rıza yang menjadi pelatih ke-10 hingga detk ini tidak bisa mengatur kebijakan transfer dengan para pemain berpengalaman seperti Gavin Massey dan Liam Kelly dikabarkan akan hengkang. Belum lagi beberapa pemain yang kontraknya akan habis dan belum diperbaharui macam Alex Cisak, Nicky Hunt dan Paul McCallum membuat materi Orient tinggal pemain yang berasal dari akademi.

Selagi upaya penyelamatan klub terus berjalan, Orient bersiap menghadapi kenyataan baru. Impian menjadi klub London lain yang dapat meramaikan kancah tertinggi Inggris harus sementara dipendam atau lebih buruknya adalah sejarah klub akan berakhir begitu saja dikarenakan salah urus. Saga ini akan terus berlanjut selama pengakuan terhadap Bechetti sebagai pemilik sah oleh otoritas liga tetaplah ada dan siksaan kepada para pendukung yang tulus mencintai klub ini akan semakin berat.


Penulis: Pradana Arya (twitter: @dropkickdemon), penggemar sepakbola, sejarah, dan kopi.

*Kredit khusus kepada Copa90 atas inspirasi terhadap tulisan ini, anda dapat menikmati video mereka di atas.

Like this Article? Share it!

About The Author

Kumpulan Para Penikmat Sepak Bola Tanpa Batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *