Pep Guardiola, Marco Silva, dan Xenophobia di Premier League

Published On 12/01/2017 | By John | Luar Lapangan

Kualitas Pep Guardiola sebagai seorang pelatih memang sudah tidak dapat diragukan lagi setelah ia mampu meraih kesuksesan dalam kariernya bersama Barcelona dan Bayern Munich. Banyak pihak juga menganggap Guardiola sebagai sosok yang mampu membuat timnya selalu tampil dengan gemilang. Hal ini juga yang membuat berbagai pihak menganggapnya cocok untuk melanjutkan kariernya sebagai pelatih di Inggris. Tantangan tersebut diterima oleh Pep. Sejak musim 2016/17, ia menjadi pelatih utama Manchester City.

Dalam awal kariernya di Inggris, manajer berusia 45 tahun ini mendapatkan reaksi yang positif dengan raihan sepuluh kemenangan beruntun di seluruh kompetisi. Namun, keadaan tersebut mengalami perubahan dalam waktu yang singkat. Rentetan pertandingan tanpa kemenangan menyebabkan berbagai pihak langsung menganggap Guardiola, sebagai orang asing, gagal beradaptasi terhadap sepak bola Inggris dan Premier League yang selama ini dianggap sebagai liga terbaik dibandingkan dengan kompetisi-kompetisi lainnya.

Sebagai seorang manusia, tentu Guardiola juga tidak luput dari kesalahan-kesalahan yang menyebabkan City saat ini tidak mampu memenuhi ekspektasi yang diberikan kepada mereka oleh analis sepak bola, media, dan tentunya para pendukung timnya sendiri.

Tetapi tidak banyak yang menyadari bahwa metode bermain yang diterapkan oleh Guardiola membutuhkan waktu agar dapat benar-benar berjalan secara efektif. Umumnya, seorang manajer memang membutuhkan waktu paling tidak satu musim untuk memberikan pengaruh terhadap sebuah tim.

Reaksi terburuk dari kesulitan yang dialami oleh Guardiola saat ini adalah anggapan yang kembali muncul bahwa apabila seorang pemain atau manajer mengalami kesulitan atau kegagalan di Premier League, maka secara otomatis ia bukan pemain atau manajer yang berkualitas tinggi.

Pada paruh kedua musim 2016/17, reaksi yang sejenis terjadi ketika Hull City menunjuk Marco Silva dengan kontrak hingga akhir musim untuk menggantikan posisi Mike Phelan. the Tigers saat ini berada di dasar klasemen sementara Premier League, dengan raihan 13 poin dari 20 pertandingan.

Hull saat ini berada dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Kegagalan Mike Phelan mengamankan posisi tim membuatnya dipecat dan digantikan oleh Marco Silva. Pendukung tim juga sedang melakukan protes terhadap para pemilik akibat minimnya investasi pada bursa transfer musim panas 2016.

Pada periode tersebut, Hull hanya mampu mendatangkan Will Keane, David Marshall, Ryan Mason, dan James Weir. Pemain-pemain tersebut tidak terbantu dengan permasalahan cedera jangka panjang, dan kini skuat Hull berada dalam jumlah yang tidak ideal.

Manajer asal Portugal ini mendapatkan tugas yang berat untuk mencoba mempertahankan timnya di divsi tertinggi sepak bola Inggris. Selain mendapatkan tantangan yang berat mengingat Hull saat ini sedang mengalami masalah baik di dalam mau pun luar lapangan, Marco Silva juga mendapatkan sambutan yang negatif dari media.

Dari berbagai reaksi yang ada terhadap penunjukkan Marco Silva, reaksi yang paling mencolok adalah reaksi dari dua pundit yang bekerja di Sky Sports, yaitu Paul Merson dan Phil Thompson. Mereka tidak setuju dengan keputusan Hull untuk menunjuk Silva dengan alasan yang sudah sering terlihat, yaitu bahwa seharusnya pihak klub menunjuk manajer yang berasal dari Inggris, atau memiliki pengalaman memegang posisi tersebut di Premier League.

Mereka juga menganggap remeh pencapaian Silva yang mampu meraih gelar juara bersama Olympiakos (pada musim 2015/16) dengan menganggap bahwa siapa pun dapat meraih gelar juara bersama klub Yunani tersebut. Setelah membaca kalimat sebelumnya, patut diingat bahwa karier Paul Merson sebagai manajer hanya berjalan selama 94 hari, bersama Walsall, dan ia juga tidak mendapat reaksi yang positif di klub tersebut.

Merson dan Thompson juga melupakan pencapaian Silva ketika menjadi manajer di Portugal bersama Sporting dan Estoril. Sikap yang ditunjukkan oleh kedua pundit tersebut sudah cukup sering terlihat dalam beberapa tahun terakhir, memperlihatkan anggapan bahwa Premier League, dan seluruh manajer serta pemain yang ada di liga ini, secara otomatis lebih unggul dibandingkan dengan manajer atau pemain yang baru datang dari negara lain.

Dalam kasus ini, sebenarnya Silva patut mendapat pujian yang tinggi mengingat ia datang ke sebuah klub yang sedang mengalami masalah besar baik di dalam mau pun luar lapangan, dan juga sedang mendapatkan protes dari pendukung mereka sendiri.

Apabila sikap seperti ini terus dipertahankan oleh publik Inggris, maka bukan merupakan sebuah kejutan apabila mereka tertinggal dari klub-klub lain di Eropa dalam kompetisi-kompetisi seperti Champions League dan Europa League.


Penulis: Dananjaya Wija Putera (twitter: @wpdnn) mengikuti perkembangan Premier League, La Liga, dan Bundesliga. Sering ditemukan menunggu kereta di halte busway Bendungan Hilir.

Like this Article? Share it!

About The Author

Kumpulan Para Penikmat Sepak Bola Tanpa Batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *