Optimisme Sepakbola Mongolia di Masa Depan

Published On 22/07/2017 | By John | Hot Shot

Mongolia wajar terasa asing bagi beberapa pembaca, kecuali mungkin yang menyukai sejarah masa Gengis Khan. Bicara masa kerajaan, saya memahami kemudiam bahwa olahraga nasional negara ini jatuh kepada gulat tradisional serta memanah. Bagaimana dengan sepakbola?

Mongolia bukan merupakan negara dengan sepakbola sebagai olahraga utama maupun favorit. Bahkan popularitas sepakbola disana pun relatif masih kalah dibanding olahraga yang tadi disebutkan. Namun, mulai saat ini hingga seterusnya, kita patut mewaspadai kekuatan sepakbola Mongolia seiring dengan makin meratanya peta kekuatan sepakbola di benua Asia.

Sepakbola di sana terlihat mulai berbenah setelah kedatangan pelatih asal Inggris, Paul Watson ke negara pada tahun 2013 untuk menangani salah satu klub Niislel League, Bayangol FC. Walaupun prestasinya masih belum dikatakan mentereng, kehadirannya dapat memunculkan pola pengelolaan baru sebuah klub sekaligus membangun kembali popularitas sepakbola di negara yang khas dengan Gurun Gobinya dengan turut mencari bibit muda pemain Mongolia.

Paul Watson ketika diperkenalkan klub barunya di Mongolia, Bayangol FC pada tahun 2013 (Bayangol FC)

Menengok di sektor tim nasional pun Mongolia juga melakukan serangkaian perubahan di jajaran kepelatihan dengan merekrut pelatih asal Jerman, Hans Michael Weiß yang notabene adalah eks pelatih timnas Filipina dan klub Rumania, FC Oțelul Galați. Weiss terpilih sebagai pelatih kepala di timnas senior maupun timnas U-23 menggantikan pelatih asal Jepang, Toshiaki Imai yang hanya bertahan melatih timnas kurang dari setahun.

Memang, pada hari Jum’at (21/7) yang lalu di laga lanjutan kualifikasi AFC U-23 Championship 2017 yang berlangsung di Thailand, timnas Mongolia U-23 harus mengakui keunggulan timnas kita dengan skor mencolok 7-0 di stadion Supachalasai. Di laga tersebut tujuh gol dari skuad asuhan Luis Milla bersarang ke gawang timnas Mongolia yang dijaga Amarbayasgalan Saikhanchuluun, sebuah penurunan yang sangat tajam dibanding laga sebelumnya di mana timnas Mongolia U-23 berhasil menahan imbang timnas Thailand dengan skor 1-1 lewat gol penalti Tuguldur Munkh-Erdene di menit terakhir babak kedua.

Meskipun skuad Mongolia yang dibawa Michael Weiss ke kompetisi tersebut tidak begitu dikenal oleh penggemar sepakbola pada umumnya, namun ada beberapa nama yang sebenarnya patut diwaspadai oleh setidaknya para pemerhati sepakbola, khususnya yang mulai menggemari sepakbola dari benua kuning.

Ganbayar Ganbold adalah salah satu pemain yang patut disorot oleh pemerhati sepakbola dunia. Bukan tanpa alasan, pemain yang masih berumur 16 tahun ini sudah merasakan kerasnya sepakbola di Eropa dengan mengikuti AC Milan Junior Camp di tahun 2011 dan merasakan trial selama sebulan bersama tim muda klub Inggris, Barnet yang kala itu berada di League Two.

Ganbayar Ganbold (Christopher Dean/Scantech Media)

Mengawali karirnya di tim muda Khoromkhon FC di usia tujuh tahun, Ganbayar pun menjelma menjadi salah satu pemain muda berprospek cerah yang dimiliki Mongolia dan menjadi pemain termuda yang bermain AFC Cup 2016 yang kala itu Khoromkhon FC bermain di fase kualifikasi. Sekarang pemain yang beroperasi di lini serang berada di Hungaria dan bergabung
dengan Puskas Akademia FC, klub yang baru saja promosi dari Nemzeti Bajnoksag I, kasta tertinggi liga sepakbola di Hungaria. Ini berarti Ganbayar Ganbold adalah pesepakbola Mongolia kedua yang bermain di Eropa setelah Murun Altankhuyag yang bergabung dengan klub Serbia, Macva Sabac tahun 2015.

Murun Altankhuyag (D. Javkhlantugs/gogo)

Gal-Erdene Soyol-Erdene adalah nama selanjutnya yang patut ditunggu penampilannya di masa depan. Usianya yang lebih tua lima tahun dari Ganbayar namun tidak membuat Gal-Erdene telat untuk menampilkan performa terbaiknya. Bergabung dengan Ganbayar Ganbold untuk mengikuti trial di Barnet, pemain yang berposisi sama dengan Ganbayar pun membuktikan bahwa Mongolia pun juga memiliki potensi untuk menjadi kuat di benua Asia. Saat ini Gal-Erdene bermain di Erchim FC dan sudah mencetak satu gol bersama timnas senior Mongolia di laga EAFF East Asian Cup 2015 melawan Nothern Mariana Island yang kala itu skor berkesudahan 2-0 untuk kemenangan timnas Mongolia.

Gal-Erdene Soyol-Erdene (Christopher Dean/Scantech Media)

Tiga nama tadi bisa jadi sebuah pertanda bahwa Mongolia sedikit demi sedikit memperkuat sektor sepakbola mereka. Meskipun performa mereka di kompetisi Asia masih belum sebaik negara-negara lain seperti Kamboja dan Laos, yang juga sedang berusaha bangkit di persepakbolaan Asia, Mongolia masih memiliki potensi untuk setidaknya bisa bersaing dengan negara-negara Asia Timur lain di bidang sepakbola dan tampil garang seperti Genghis Khan yang berhasil taklukan Asia di jaman dahulu kala.


Penulis: Imam Santoso (@idsantos_94), pengamat sepakbola kacangan yang suka ketiduran di babak kedua. Kecanduan Indomie Goreng Rendang, Badminton, Music, dan JSCVRND.

 

Like this Article? Share it!

About The Author

Kumpulan Para Penikmat Sepak Bola Tanpa Batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *