Oldham Athletic dan Kecintaannya Terhadap League One

Published On 01/02/2017 | By John | Hot Shot

Manchester United, Liverpool, Chelsea, Arsenal, Tottenham, Everton. Mungkin beberapa dari Anda tahu kesamaan keenam klub tersebut. Jika anda menebak bahwa kesamaan mereka adalah belum pernah terdegradasi dari kasta teratas liga Inggris sejak Premier League digelar, Anda tepat. Ya, suatu catatan yang patut diapresiasi.

Namun di tingkat divisi yang lebih bawah, Championship division hingga liga amatir -juga berlaku di seluruh dunia dengan tingkatan liga masing-masing-, meninggalkan divisi  bersangkutan yang dijalani sebuah klub bisa dibilang lebih ‘fleksibel’ karena adanya promosi dan degradasi. Di kasta liga teratas seperti Premier League, ketiadaannya promosi membuat klub-klub lebih ‘mudah’ untuk tetap bertahan di liga yang mereka jalani karena hanya ada satu jalan untuk meninggalkan liga, yaitu degradasi.

Meski begitu, sensasi naik turun divisi yang dialami oleh klub-klub di liga bawah rasanya tidak terlalu menarik buat Oldham Athletic AFC. Klub yang kotanya hanya berjarak 11 kilometer dari Manchester ini sepertinya bukan penggemar dari wahana rollercoaster promosi dan degradasi. Terhitung sejak degradasi dari Division 1 (sekarang Championship division) pada akhir musim 1996-97, Oldham belum sekalipun pernah meninggalkan kasta liga yang dijalaninya.

Musim 2016-17 terhitung sebagai musim ke-20 the Latics (ya, julukan yang sama dengan klub tetangga mereka Wigan Athletic) dalam mengarungi kasta ketiga dalam piramida liga Inggris, yaitu League One. Dari eranya Fitz Hall hingga Lee Croft sekarang, Oldham terlanjur betah bermain di kasta ketiga liga Inggris. Mungkin salah satu yang terlama buat klub-klub Football League (Championship hingga League Two) dalam berkompetisi di divisi yang sama.

Prestasi terbaik klub yang bermarkas di Boundary Park selama mengarungi Division 2 / League One adalah posisi ke-5 pada musim 2002-03 sebelum disingkirkan oleh Queens Park Rangers di babak semifinal play-off promosi dengan agregat 1-2. Empat musim selanjutnya pada 2006-07, kembali Oldham Athletic lolos ke babak play-off promosi setelah finis di posisi ke-6 liga. Sayang mereka juga kembali gagal di semifinal setelah dikalahkan Blackpool dengan agregat 2-5.

Selebihnya, klub asal kota Manchester itu lebih sering menghuni peringkat pertengahan ke bawah liga pada akhir musim. Bahkan pada tujuh musim terakhir the Latics mengakhiri musim di paruh bawah liga dengan posisi terburuk ke-19 pada musim 2012-13. Mereka seakan lebih dari puas mengakhiri musim di posisi mana saja asalkan masih bertahan di League One.

Pada tahun 2011 sendiri the Latics sempat mengganti logo klub yang mereka pakai sejak tahun 1983. Masih mengusung burung hantu yang juga maskot kota Oldham sebagai logo utama klub, mungkin pihak klub ingin menjadikan pergantian logo ini sebagai peruntungan dan membawa The Latics meninggalkan League One, dalam hal ini promosi ke Championship. Namun sayang hal tersebut tidak berpengaruh banyak karena klub yang digemari Paul Scholes ini masih saja berkutat di League One.

Justru pada musim 2016-17 ini ‘kemesraan’ Oldham  dan League One terancam. Hingga tulisan ini dibuat, Oldham berada di posisi ke-23 liga dengan 25 poin, berjarak empat poin dari posisi ke-20 sebagai posisi terakhir sebagai syarat untuk tidak terdegradasi. Start musim yang buruk, hanya satu kemenangan diraih dari 11 laga berperan besar akan terpuruknya klub.

Sempat membaik dengan meraih dua kemenangan liga pada bulan Oktober, dua bulan selanjutnya adalah neraka buat Oldham. Paul Green dan kawan-kawan tak pernah menang pada November dan Desember, kecuali satu kunjungan ke Walsall, itupun merupakan pertandingan EFL Trophy (turnamen untuk-untuk klub Football League). Di FA Cup pun mereka disingkirkan tim kejutan turnamen bersangkutan, yaitu Lincoln City. Tak heran pelatih Steve Robertson dipecat atas buruknya pencapaian klub.

Pergantian tahun dan perpindahan jabatan pelatih ke tangan John Sheridan sedikit membawa perubahan bagi Oldham Athletic. Sheridan, yang sebelumnya pernah melatih Oldham pada musim 2006-09, membawa the Latics meraih dua kemenangan pada empat laga terakhir. Padahal selama paruh musim awal Oldham hanya berhasil meraih tiga kemenangan di League One. Sebuah pertanda bahwa mungkin Oldham tak ingin kisah cintanya dengan League One berakhir.

Maaf jika bersikap sok puitis, mengutip baris dari drama Hamlet yang ditulis Shakespeare: “love is begun by time, and time qualifies the spark and fire of it.” Cinta dimulai oleh waktu, dan seiring berjalannya waktu cinta tersebut makin memercik dan menyala. Mungkin inilah yang dirasakan Oldham Athletic terhadap League One dan mereka belum ingin hal itu kandas. Siapa tahu, hubungan mereka masih akan berjalan lagi beberapa tahun lamanya.


Penulis : Heru Chrisardi. Kurang ahli mengolah bola, jadi bicara soal bola saja. Sunderland AFC & Borussia Dortmund. Biasa berkicau di akun @heruchris.

Like this Article? Share it!

About The Author

Kumpulan Para Penikmat Sepak Bola Tanpa Batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *