Mereka yang hilang (part.1): Racing Santander

Published On 27/05/2017 | By John | History

Cantabria, salah satu provinsi di Spanyol yang berbatasan dengan Basque di sebelah timur, Castille dan Leon di bagian selatan, dan Asturias dibagian barat lalu menghadap ke arah laut Teluk Biska di utara. Kota mereka, Santander, merupakan kota besar di bagian utara Spanyol dengan populasi sekitar 172.656 orang serta menyimpan keunikan sebagai tempat orang menikmati hangatnya matahari sambil berjemur atau mandi di pantai.

Namanya mungkin lebih akrab dengan kita saat ini sebagai salah satu nama bank terbesar di dunia serta menjadi nama sponsor dari Liga Tertinggi Spanyol. Ah, berkaitan dengan sepakbola kemudian, kota ini diwakili satu nama yang membawa nostalgia jika mengingatnya, namun hilang dari pandangan saat ini. Nama klub itu adalah Racing de Santander atau mudahnya saja Racing Santander.

Dibentuk pada tahun 1913, kisah mereka sudah cukup panjang. Tim yang memakai jersey putih, hijau, hitam ini awalnya bernama Santander Racing Club, lalu kemudian bergabung dengan klub lain membawa panji Santander Football Club di tahun yang sama.

Lama bermain di Liga yang diselenggarakan Perkumpulan Sepakbola Spanyol Utara, Santander berhasil masuk ke Liga Tertinggi Seluruh Spanyol tepat pada saat terbentuknya di tahun 1929, menjadikan mereka berhak menyandang gelar sebagai salah satu founding father dari liga yang kemudian kita kenal sebagai La Liga sekarang.

 

Karena prestasi mereka pada musim 1930/31, Santander diundang untuk ikut turnamen internasional di Paris di musim selanjutnya (@ cihefe.es)

Catatan menarik yang terjadi kemudian pada 1941 adalah mereka sempat berganti nama menjadi Real Santander. Ini dikarenakan berkuasanya Jenderal Franco yang melarang penggunaan nama di luar Bahasa resmi Spanyol saat itu. Racing de Santander kembali pada 1973, tepat pada saat rezim Franco berakhir.

Harus diakui bahwa prestasi yang didapat Santander memang fluktuatif sepanjang masa hidupnya dimana mereka telah merasakan atmosfer La Liga sebanyak 44 kali, dan berada di Segunda sebanyak 33 kali. Mereka hampir menjadi kampiun pada 1931 dimana Los Verdiblancos finis sebagai peringkat 2, dikalahkan oleh Athletic Bilbao.

Namun, itu jauh sebelum perkenalan penulis kepada mereka pada dekade 2000an, waktu dimana mereka menciptakan gebrakan baru di La Liga. Gebrakan tersebut bermodalkan Aldo Duscher, Nikola Zigic, dan Ezequiel Garay yang merupakan nama yang cukup epik dan pernah meninggalkan jejak manis di Estadio El Sardinero, markas dari Santander.

Bagi penulis, musim yang paling diingat dari tahun-tahun itu adalah musim 2007-08. Dengan bermodalkan pemain-pemain semacam Ebi Smolarek,  Fabio Coltorti, Oscar Serrano dan sang kapten Pedro Munitis, Santander sukses meraih posisi 6 besar La Liga kala itu, juga berhasil menerobos semifinal Copa del Rey, meski pada akhirnya harus takluk di tangan Getafe.

Tidak terlupa bahwa pada musim selanjutnya, yaitu di musim 2008/09, mereka sukses melaju ke turnamen UEFA Europa League. Mengalahkan Manchester City dengan skor 3-1 merupakan hasil yang cukup fantastis walau perjalanan klub berakhir saat itu juga di putaran grup.

Kini Santander harus merasakan atmosfer Segunda Division B atau kasta ketiga liga Spanyol. Apa yang terjadi sehingga berakhir dengan keadaan ini memang cukup menyesakkan bagi yang mengikuti perjalanan klub yang punya julukan lain Los Racinguistas.

Alkisah, itu bermula pada musim 2010/11, tepatnya di bulan Januari 2011 dimana Ahsan Ali Syed mengambil alih Racing Santander dengan tujuan besar. Dia menginginkan pemain pemain baru dengan status bintang berseragam hijau putih, juga menjanjikan akan menjadikan Santander sebagai klub yang sejajar dengan Barcelona dan Real Madrid dalam hal prestasi.

 

Pembawa malapetaka, Ahsan Ali Syed (@ teinteresa.es)

Upaya pertama yang dilakukan oleh Ahsan Ali Syed adalah dengan memecat manager mereka saat itu, yaitu Miguel Angel Portugal, dan menggantikannya dengan manager asal Asturia, yaitu Marcelino Garcia Toral. Awalnya semuanya berjalan baik, apalagi klub Cantabria ini sukses menembus semifinal Copa del Rey kedua mereka dalam tiga tahun sebelum takluk atas Atlético Madrid.

Namun, setelat itu Ali Syed lepas tangan dari klub. Permasalahannya sejak awal ia berada dalam investigasi atas tuduhan penipuan yang membuahkan surat penangkapan dari Interpol.

Dengan Santander berada dalam keadaan gawat di musim selanjutnya, Ali Syed berkilah, menuduh bahwa seluruh orang yang berkecimpung di dalam klub telah membencinya. Tidak lama kemudian, Ali Syed pergi tanpa jejak. Kabar lenyapnya dia juga datang seiring kabar lain bahwa rencana investasi di Bahrain atas namanya gagal karena krisis.

Hutang yang melonjak dengan tagihan sekitar 10 juta Euro, membuat Roberto Bedoya, chairman dari klub pusing bukan kepalang. Ia terpaksa harus meminjam sana-sini untuk menutupi semua hutang. Pemain tidak terbayarkan gajinya, begitu pula seluruh jajaran pegawai dari Racing Santander. Marcelino Garcia Toral kemudian pergi ke Sevilla, dan klub mendatangkan manajer baru, Hector Cuper selagi mereka mengarah ke jurang degradasi.

Santander dinyatakan bangkrut pada musim panas 2012, tepat 1 dekade setelah mereka kembali ke La Liga dan harus mengakhiri perjalanannya. Di saat bersamaan, Jacobo Montalvo, mantan pemegang saham mayoritas mengajukan tuntutan hukum kepada Ali Syed yang menginginkan uangnya kembali. Santander semakin menurun, kampanye mereka di Segunda Division 2012/13 berakhir dengan finis di dasar klasemen dan degradasi ke-2 berturut-turut.

Di musim 2013/14, Santander sebagai klub divisi tiga memang mampu mencapai perempatfinal Copa setelah membekuk klub divisi utama Sevilla FC dan UD Almería, namun hal itu dirayakan suporter dengan menyerang chairman klub, Ángel Lavín karena krisis yang dirasa tak berujung.

 

Puncaknya terjadi di awal tahun 2014. Pemain-pemain Racing Santander memutuskan untuk tidak bermain dalam pertandingan Copa karena hak mereka belum terbayarkan selama berbulan-bulan yang membuahkan sanksi dari otoritas sepakbola. Lavín kemudian dipecat oleh para pemilik saham akibat krisis ini yang secara praktis menyeimbangkan ‘kapal’ yang goyah dan tertahan di divisi 3 Spanyol saat itu.

Di bawah suksesor Lavin, Juan Antonio Sanudo, Racing Santander harus memulai kembali perjalanan ke La Liga dengan materi pemain jebolan akademi. Perjalanan tentu akan berat, namun setidaknya ‘kapal’ yang hampir karam di laut Spanyol utara ini tidak kemudian resmi hanya menjadi nama saja di sejarah.

Inilah Racing Santander, suatu manifestasi dari klub yang menjadi bagian sejarah dari masyarakat Cantabria, namun harus menanggung imbasnya dari ketamakan pemilik yang tidak bertanggung jawab. Harapan terbaik bagi mereka untuk segera naik karena besok malam, Santander akan menjalani playoff promosi ke Segunda Division.

Ahora más que nunca, (Now more than ever,)

El Racing Santander, (The Racing Santander,)

Ahora más que nunca, (More now than ever,)

El Racing Santander, (The Racing Santander,)

Lo lo lo lo… (Lo lo lo lo…)


Penulis: Pradana Arya (twitter: @dropkickdemon), penggemar sepakbola, sejarah, dan kopi.

Like this Article? Share it!

About The Author

Kumpulan Para Penikmat Sepak Bola Tanpa Batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *