Mengenang Perjuangan Bonek Membangkitkan Sang Legenda

Published On 09/07/2017 | By John | Opini Ngehek

2010 menjadi tahun yang bersejarah bagi persepakbolaan di Indonesia. Bukanlah hal membanggakan yang terjadi di tahun itu melainkan persoalan terpelik yang mungkin pernah dihadapi sepak bola bangsa ini. Kasta tertinggi liga sepak bola Indonesia, Indonesian Super League (ISL), yang sebelumnya baik-baik saja menjadi sangat kacau di penghujung musim 2009-2010 karena kepemimpinan Nurdin Halid, Politisi Golkar, di PSSI sejak 2003.

Sebelumnya, Nurdin Halid telah menerima kecaman dari banyak pihak untuk mundur dari jabatannya. Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) pun turut menuntunya mundur dari PSSI. Pasal 32 Standard Statutes  FIFA melarang seorang kriminal untuk menjabat sebagai ketua asosiasi sepakbola tingkat negara. Naas juga baginya, ia kedapatan korupsi di berbagai kasus yang berujung pada penahanan.

Berangkat dari bobroknya kinerja PSSI kala itu—tanpa melupakan sedikit prestasi Timnas di era naturalisasi sebagai solusi baru yang melahirkan bintang seperti Cristian Gonzáles—klub kebanggaan kota saya, Persebaya Surabaya, terkena dampaknya. Kompetisi telah usai dan Arema yang keluar sebagai juara liga telah menerima trofi. Namun sesuai kebijakan janggal PSSI, Persebaya masih wajib menyelesaikan satu pertandingan terakhir melawan Persik Kediri.

Laga yang satu ini sangat kontroversial dan melebihi kehebohan partai final, begitu terang Oryza A. Wirawan dalam bukunya Imagined Persebaya: Persebaya, Bonek, dan Sepakbola Indonesia. Pasalnya Persik sebagai tuan rumah tidak dapat menggelar pertandingan dan seharusnya Persebaya menang walk out (WO). Kita semua tahu akhir dari kisah ini, Persebaya membelot ke Liga Primer Indonesia—sebuah kompetisi tandingan PSSI yang dipromotori oleh seorang pengusaha bernama Arifin Panigoro—yang buntutnya melahirkan problem dualisme.

Rombongan Bonek sampai di Stasiun Senen untuk kemudian bertolak ke Kemenpora dan menggelar aksi protes terkait pengakuan terhadap Persebaya 1927, 2 Agustus 2016. (@Tempo/Idke Dibramanty Yousha)

Persebaya asli di bawah PT Persebaya Indonesia dipaksa berganti nama agar Persebaya gadungan milik Wisnu Wardhana (WW) dapat berlaga pula dengan dalih keamanan. Persebaya asli yang terdiri dari klub-klub internal Surabaya, terpaksa berganti nama menjadi Persebaya 1927. Ini hanya sekadar perubahan nama. Di mata Bonek, Persebaya tetap sama. Penambahan 1927 ingin menegaskan bahwa klub ini ada sejak tahun 1927 dan merupakan bagian dari Surabaya.

Di tengah-tengah dualisme tim, Bonek memutuskan untuk memboikot pertandingan Persebaya usungan WW cs. Bukan dengan tindakan kekerasan yang represif, melainkan dengan cara mengosongkon tribun. Ketika Persebaya WW yang berlaga, tribun penonton selalu sepi. Meskipun panitia telah menurunkan harga tiket, Bonek tidak akan menonton tim imitasi ini. Sebaliknya, Persebaya 1927 selalu berhasil menarik Bonek untuk pendukung. Hal ini jelas karena Bonek tahu mana klub yang telah berjasa bagi Surabaya dan mana klub yang hanya nebeng nama klub legendaris.

Persebaya versi Wisnu Wardhana yang belakangan berembel-embel kepolisian ini tidak pernah bisa merebut hati Bonek dari Persebaya 1927. Sayangnya, ujung dari dualisme ini adalah dimatikannya hak-hak Persebaya 1927 dalam Kongres PSSI di tahun 2013 pada kepengurusan Djohar Arifin.

Menyusul putusan ini, Bonek dan Persebaya seakan mati suri. Namun sekali lagi, perlawanan terhadap ketidakadilan tidak pernah mati. Puncaknya adalah ketika FIFA mencabut sanksi terhadap PSSI di tahun 2016. Bonek kembali menunjukkan taringnya setelah sebelumnya Bonek mengawal kemenangan PT Persebaya Indonesia di Pengadilan Niaga Surabaya untuk menggunakan nama dan logo “Persebaya.”

Bonek memang bukanlah organisasi yang terstruktur dengan hierarki yang jelas. Siapapun bisa menjadi Bonek asal mempunyai kecintaan terhadap Persebaya. Tidak harus penduduk Surabaya, tidak harus selalu mendukung di tribun stadion. Hal inilah yang membuat Bonek sangat cair. Bonek tidak hanya sebagai suporter Persebaya tapi ia bisa disebut sebagai suatu social movement atau gerakan sosial.

Menurut Donatella della Porta, sosiolog asal Itali, partisipasi dalam gerakan sosial adalah mengenai inklusivitas. Setiap individu berhak untuk mengekspresikan kepentingannya dalam wadah gerakan ini. Tujuan dari gerakan sosial ini adalah melakukan counter terhadap para pembuat kebijakan yang biasanya berupa representator maupun pejabat lainnya dengan cara menghadirkan aspirasi-aspirasi dari lapisan masyarakat yang paling dasar dan mengkonsolidasikannya. Dengan aksi-aksinya, Bonek ingin menunjukkan tuntutan mereka dalam sengkarut dualisme ini. Nyata bahwa PSSI dan persepakbolaan Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

Aksi Bonek tolak Kongres PSSI di Surabaya (@KOMPAS.com/Achmad Faizal)

Pergerakan Bonek dalam melakukan perlawanan tidaklah sporadis. Biasanya perwakilan tiap daerah yang mengkoordinasi gerakan-gerakan daerahnya masing-masing. Mereka adalah perwakilan yang menjadikan permasalahan Persebaya menjadi masalah bersama. Artinya masing-masing individu suporter telah menentukan konsensus bersama bahwa Persebaya harus diselamatkan.

Tujuan Bonek tidak macam-macam. Ia memang memperjuangkan sebuah nilai yang universal yaitu keadilan bagi persepakbolaan Indonesia—karena PSSI tidak hanya mendiskreditkan Persebaya tetapi beberapa klub lain juga seperti Persema Malang dan Persibo Bojonegoro—tetapi sekaligus juga partikular yaitu diakuinya kembali Persebaya oleh PSSI.

Hal inilah yang menarik simpati dari seluruh pencinta sepakbola tanah air. Masyarakat Indonesia disadarkan bahwa tidak ada suporter lain seperti Bonek yang mati-matian membela timnya untuk kembali diakui. Saya secara pribadi tidak habis pikir bagaimana masa depan Persebaya tanpa Bonek.

Di awal tahun 2017, perlawanan ini mendapatkan momentum kemenangan yaitu ketika PSSI ingin menyelenggarakan Kongres di Bandung untuk memastikan perihal kompetisi musim ini dan pemulihan beberapa klub termasuk Persebaya. Demi mengawal janji ini, Bonek memenuhi titik-titik penting di Surabaya untuk mempersiapkan diri berangkat ke Bandung.

Para Bonek bukanlah penggangguran. Mereka sudah jauh-jauh hari memohon izin bagi yang sekolah dan cuti bagi yang bekerja. Meskipun pasti ada beberapa yang bolos. Namun perjuangan mereka sungguh patut diapresiasi. Jumlah Bonek dalam setiap pergerakan di luar Surabaya juga tidak pernah sedikit. Bisa mencapai tiga ribu orang. Tercatat, Bonek juga pernah membanjiri Ancol pada Kongres PSSI sebelumnya pada Agustus 2016.

Semangat perjuangan dan antusiasme Bonek ini akhirnya terbayar. Kongres PSSI di Bandung mengesahkan pemulihan Persebaya setelah pemungutan suara untuk pemulihan Persebaya menang telak. Empat tahun dibungkam oleh tiga rezim PSSI—Nurdin Halid, Djohar Arifin, La Nyalla—akhirnya Persebaya bangkit kembali dan secara khusus dapat berkompetisi di kasta kedua kompetisi resmi PSSI.

Menanggapi hasil ini, seluruh pencinta sepakbola tanah air ikut senang. Ini merupakan suatu harapan bagi sepakbola Indonesia ketika tim legendaris yang mencetak pemain-pemain timnas boleh hidup kembali. Bahkan pemain-pemain besar seperti Andik Vermansyah dan Evan Dimas berjanji akan segera kembali ke klub yang membesarkan mereka setelah kontrak mereka habis di klub masing-masing. Surabaya pun boleh berbangga lagi melabeli diri dengan nama “Kota Pahlawan” karena sejarah memang membuktikan bahwa arek-arek Surabaya tidak pernah diam melihat ketidakadilan.

Sangat bersyukur pula, dalam perayaan ulang tahun yang ke-90 tahun ini Persebaya sudah bisa berlaga di kompetisi resmi PSSI. Usia 90 ini terasa sangat manis mengingat kematian Persebaya dahulu membuat beberapa perayaan ulang tahun klub terasa hambar. Tapi sekarang Persebaya sudah bangkit dan Bonek sudah tidak sabar melihat timnya berlaga di kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Akhir kata, selamat ulang tahun Sang Legenda.


Penulis: Kenny Setya Abdiel (@abdielkenny), tidak terlalu mengikuti perkembangan sepakbola terkini namun sangat suka bermain sepakbola dan futsal

Like this Article? Share it!

About The Author

Kumpulan Para Penikmat Sepak Bola Tanpa Batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *