Ketika Sportivitas Sudah Tidak Berarti Lagi Demi Sebuah Prestasi

Published On 10/07/2017 | By John | Memory Lane

Salah satu tim yang menjadi sorotan di Liga Champions musim ini adalah Shakhtar Donetsk. Dari status underdog di Group E yang ditempati oleh dua ex juara Champions League, Chelsea dan Juventus, mereka mampu memberi kejutan dengan menahan imbang Juventus 1-1 di Juventus Stadium, mengalahkan Chelsea di kandang mereka Donbass Arena, serta nyaris menahan imbang Chelsea dimana mereka dapat disebut mendominasi pertandingan sebelum akirnya mereka gagal oleh gol pemain pengganti Victor Moses di menit ke 94.

Ditambah lagi mereka tidak terkalahkan dengan rekor 15 kali menang beruntun sebelum akhirnya dikalahkan oleh Arsenal Kyiv (tidak berafiliasi dengan Arsenal yang di London). Jujur, saya sebagai salah satu pecinta tim kuda hitam menjadi tertarik terhadap Hirnyky alias “Para Penambang” dimana mereka mampu mengejutkan publik sepakbola dunia dengan permainan atraktif mereka.

Dengan kombinasi talenta-talenta sepakbola lokal dengan pemain-pemain asal Brazil berkualitas tinggi seperti Alex Teixeira, Fernandinho,Luiz Adriano dan Willian. Willian pun dikabarkan diminati klub-klub terkemuka Eropa. Bisa dibilang saya mengagumi Shakhtar Donetsk sebagai sebuah tim yang mengejutkan publik sepakbola dunia.

Namun, pertandingan antara FC Nordsjælland melawan Shakhtar Donetsk di Parken Stadium pada pekan ke-5 Liga Champions 2012/13 bisa dibilang mencoreng segala catatan yang mereka torehkan dan membuat kecewa saya dan saya rasa seluruh penikmat bola di seluruh dunia. Tepatnya di menit ke-25 pertandingan, Luiz Adriano melakukan pelanggaran terhadap pemain tuan rumah Morten Nordstrand dimana kemudian pemain Nordsjælland  menghentikan permainan dan kemudian melakukan drop ball seperti yang umumnya diberikan wasit ketika terjadi situasi serupa (ketika terjadi pelanggaran yang mengakibatkan pemain cedera ketika posisi off the ball).

Willian pun menendang jauh dengan maksud memberikan bola kepada kiper Jesper Hansen, namun Luiz Adriano (notabene pemain yang melakukan pelanggaran) malah berlari untuk mengejar bola dan mengecoh Hansen yang tentu bingung terhadap apa yang sedang terjadi. Wasit pun mengesahkan goal Luiz Adriano karena sebenarnya secara peraturan, dia tidak melanggar aturan apapun. Luiz Adriano dengan entengnya berselebrasi meskipun tidak ada satupun rekannya yang ikut merayakan gol.

 

Suasana Parken Stadium pun menjadi panas. Akhirnya setelah terhenti sesaat pemain Nordsjælland pun melakukan kick-off. Seisi stadion sempat menduga bahwa Shakhtar Donetsk akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Leicester City terhadap Nottingham Forest di Piala Liga musim 2006/07 dimana Leicester City membiarkan Paul Smith, kiper Forest untuk mencetak gol sebagai tindakan sportivitas.

 

Para pemain Shakhtar pun sempat terlihat berdiskusi dengan Mircea Lucescu, pelatih mereka saat itu. Namun, apa yang terjadi berikutnya membuat seisi Parken Stadium marah. Di saat pemain Nordsjælland menggiring bola, salah satu pemain Hirnyky malah merebut bola. Hingga kira-kira 3 menit setelahnya di Parken Stadium hanya terdengar suara “boo dari seluruh fans yang ada, sebelum akhirnya Kasper Lorentzen mencetak gol dimana komentator BBC pun berkata “Justice is served for FC Nordsjælland” .

Luiz Adriano pun pada akhirnya dihukum oleh UEFA. Namun tindakan yang dia lakukan telah mencoreng namanya dan juga Shakhtar Donetsk. Shakhtar memang membutuhkan poin. Namun apakah alasan seperti itu adalah layak untuk dijadikan pembenaran tindakan yang mencederai fair play?

Mircea Lucescu sebagai pelatih Shakhtar Donetsk pun kemudian tidak mau memberikan perintah untuk anak buahnya melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Saya rasa fans Hirnyky seharusnya malu terhadap Luiz Adriano, Mircea Lucescu dan semua staff yang terlibat dalam pengambilan keputusan.

Gol Luiz Adriano kemudian telah mengubah jalannya pertandingan yang berefek pada banyak hal di Liga Champions sebagai contoh selisih gol dan posisi grup dimana juara 1 dan 2 di grup akan mendapatkan musuh yang berbeda di babak selanjutnya. Saya rasa UEFA harus melakukan tindakan lebih tegas untuk pemain Brasil ini dan juga Shakhtar Donetsk.

Jika kasus ini dibiarkan tindakan seperti ini akan banyak terjadi dan akankah kita masih menikmati permainan ini jika tidak ada lagi nilai sportivitas di dalamnya?


About me: Kristianto Agung (@kristiantoagung), penulis lepas untuk blog @MedioClub. Memory Lane adalah sarana menghadirkan kembali tulisan dari blog-blog lama kami dengan sentuhan editorial ataupun memunculkan data baru. Tulisan ini pertama kali terbit pada 23 November 2012.

Like this Article? Share it!

About The Author

Kumpulan Para Penikmat Sepak Bola Tanpa Batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *