Ketika Alam Sedang Memberi Hiburan: Kisah Portsmouth FC

Published On 23/01/2017 | By John | Luar Lapangan

Ada pepatah yang mengatakan bahwa “tetaplah mencari hal positif pada saat ditimpa kesuraman.” Saya sebagai orang yang tinggal di tengah masyarakat Jawa akrab dengan fenomena ini pada saat orang selalu melihat keuntungan pada saat hal yang dilakukan tidak berjalan dengan baik.

Dengan melihat sesuatu dari sudut pandang lain seperti “untung IPK-ku masih aman walau nilai biasa aja,” maka kesukaran yang dirasakan tidaklah terasa berat.

Jika anda para pembaca sekalian merasa saya sedang melantur, cerita yang dialami Portsmouth FC beberapa minggu belakangan ini bisa jadi sangat mirip dengan pembuka tulisan ini. “Pompey” yang saat ini bermain di League Two menjadi salah satu tim yang terdampak dengan cuaca buruk yang khas terjadi di Inggris pada saat musim dingin.

Akhir 2016 lalu, tepatnya 30 Desember, Portsmouth melakukan pertandingan tandang dalam lanjutan liga melawan Yeovil Town. Prediksi cuaca yang mengatakan bahwa kabut berpotensi mengganggu pertandingan sudah mulai menunjukkan dampaknya sebelum wasit meniup peluit tanda pertandingan dimulai.

Pertandingan lain yang terdampak kabut kemudian mengalami penundaan mendekati waktu mulai (Brighton & Hove Albion vs Cardiff City) ataupun kemudian ditinggalkan tepat setelah selesainya babak pertama (Reading v Fulham), namun wasit yang memimpin pertandingan dilakoni Portsmouth tetap melanjutkan pertandingan hari itu.

Selain 22 pemain beserta wasit dan perangkat tim yang harus berkonsentrasi penuh dalam menghadapi fenomena ini, mereka juga ditonton 6.000 lebih penonton yang berjuang untuk menentukan bola sedang dikuasai oleh tim mana. Wartawan dan perangkat media tuan rumah dan tim tamu juga berjuang untuk menemukan sesuatu yang bisa diberitakan.

Hasilnya? Skor 0-0 dan tweet-tweet yang mengundang tawa khalayak netizen. Akun resmi dari tim yang identik dengan warna biru ini mencoba mengomentari jalannya pertandingan dengan pandangan terbatas dan hasilnya adalah tulisan dengan bahasa yang memberikan kesan orang yang mengendalikan akun ini jengkel bercampur pasrah seperti yang ada di bawah.

 

Alam sepertinya tidak mau berpihak juga kepada Portsmouth walau tahun sudah berganti. Maju cepat ke 21 Januari yang lalu, Portmouth mendapat jadwal tandang dengan lawannya yaitu Crawley Town. Sialnya, lapangan Checkatrade Stadium yang merupakan kandang Crawley hari Sabtu itu membeku diakibatkan suhu dibawah 0 sedang menerjang daerah West Sussex.

Segala daya upaya untuk membuat lapangan menjadi layak untuk memainkan pertandingan tidak berhasil sehingga wasit terpaksa membatalkan pertandingan ini 6 jam sebelum dimulai. Dapat dipahami nada-nada kekecewaan muncul dari kalangan suporter Portsmouth disuarakan di media sosial, namun mereka tidak sendiri karena pertandingan ini menjadi satu dari 4 pertandingan yang ditunda.

Cerita unik kemudian muncul keesokan harinya. Salah satu punggawa Portsmouth, Christian Burgess kemudian tidak mempunyai agenda setelah pertandingan ditunda sehingga ia melemparkan pertanyaan kepada para pengikutnya di Twitter untuk menanyakan apa yang harus ia lakukan.

Jawaban followernya pun memiliki berbagai macam, mulai dari meminta dia mengecat kamar mandi ataupun ikut menebang pohon mengingat postur tubuhnya yang cukup besar. Dari semuanya, ada satu tweet yang menarik perhatian Burgess dan kemudian ia lakukan.

Will Chitty yang merupakan pelatih salah satu klub sepakbola untuk umur 12 tahun di kota Portsmouth meminta ia datang ke lapangan latihan untuk membantunya di hari Minggu itu. Tweet yang awalnya hanya untuk meramaikan kemudian ditanggapi serius dengan kedatangan Burgess yang melatih dan kemudian meladeni sesi Q&A beserta foto bersama.

Burgess mengatakan bahwa hal ini baru baginya dan mengatakan bahwa di lain waktu mungkin akan melakukannya lagi. Di pihak lain, Will Chitty mengatakan bahwa ia cukup senang dengan kedatangannya. Chitty juga kemudian menyinggung bahwa apa yang dilakukan Burgess dapat terjadi dikarenakan permintaannya sangatlah masuk akal dibandingkan follower lain.

Hal ini tentu memberikan dampak baik kepada Portsmouth FC sebagai salah satu klub yang berada dibawah Supporter Trust dan benar-benar kemudian terasa dampaknya di kota Portsmouth. Terbukti dengan sambutan baik suporter “Pompey” ataupun klub lain di Inggris.

Menarik untuk mengatakan karena campur tangan alam, Portsmouth dapat melakukan sesuatu yang menghibur dan disukai banyak orang. Terlepas daripada hal itu, mari kita berharap klub yang merupakan presentasi salah satu kota pelabuhan di selatan Inggris ini memunculkan kebahagiaan lebih besar dengan naik ke divisi lebih tinggi di musim mendatang.

Mengacu keadaan sampai tulisan ini diterbitkan mereka berada di peringkat 4 EFL League Two yang berarti “Pompey” masuk zona playoff dan berbeda 1 posisi dengan peringkat yang menjamin promosi otomatis, kemungkinan promosi semakin besar namun tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di akhir musim nanti.


About me: Willibrordus Bintang (twitter: @obinhartono1). Mahasiswa yang berkuliah di Yogya selagi menjadi penikmat sepakbola Football League dan Conference. Dapat ditemukan sedang streaming di warkop terdekat.

Like this Article? Share it!

About The Author

Kumpulan Para Penikmat Sepak Bola Tanpa Batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *