Keberuntungan semata atau hasil kerja keras? Analisis permainan Östersunds FK

Published On 22/07/2017 | By John | Opini Ngehek

Menarik untuk mengkaji pertandingan babak kualifikasi ke-2 Europa League 2017/18 yang mempertemukan Östersunds FK vs. Galatasaray. Di pertandingan pertama, tuan rumah dapat menang dengan skor 2-0. Apa itu sekadar kejutan atawa keberuntungan? Atau, jika saya bawa ke pertanyaan besarnya, Apa yang dilakukan oleh klub Swedia untuk menjinakkan jagoan Turki ini?

Setelah mencoba memahami jalannya pertandingan itu, saya melihat kunci terletak pada sistem yang terstruktur dengan baik hasil racikan manajer Graham Potter, pemain ÖFK yang energik dan lapar serta Gala sendiri yang bermain buruk tanpa bersemangat. Sebelum berlanjut, menilik formasi yang ada, tuan rumah menerapkan formasi  5-2-3, akan tetapi ketika bertahan mereka akan bertransformasi menjadi 5-4-1 dengan garis pertahanan lebih dalam.

Berbeda ketika menyerang, mereka memainkan 3-4-3 dengan ciri sirkulasi bola yang sangat lancar. Sementara itu, Galatasaray menggunakan skema 4-4-2 yang lalu berubah menjadi 4-2-3-1 ketika bertahan dengan kedua pemain sayap mundur bersama satu orang striker, meninggalkan satu orang di depan.

Di awal babak Östersunds langsung menerapkan permainan yang ditujukan untuk menguasai bola. Hal tersebut dikombinasikan dengan umpan-umpan cepat dari lini belakang yang ditunjang dengan keberadaan bek macam Tom Pettersson. Ia selalu mengirim umpan panjang kepada penyerang Ken Sema dan Saman Goddos yang siap turun ke belakang ataupun bermain melebar untuk membuka ruang dan mengacak-acak pertahanan Galatasaray.

Perhatikan foto di atas dan anda dapat lebih jelas memahami peletakan posisi pemain ÖFK jika sedang menyerang. Dengan melakukan overload di satu sisi yang kemudian menarik pemain tim tamu untuk mengikuti, hal tersebut selain kemudian menciptakan ruang untuk mengeksploitasi sisi lain yang digunakan pemain belakang untuk melakukan overlapping.

Transisi dari menyerang lalu bertahan ala Potter juga dinamis dari 5-2-3 dengan garis pertahanan tinggi menjadi 5-4-1 ketika garis pertahanan telah dapat diturunkan. Tujuannya adalah agar para pemain terus bergeser melintasi lapangan selagi menjaga jarak yang dekat satu sama lain dan mencegah Galatasaray menguasai bola.

Untuk mencapai pertahanan berbasis posisi yang efektif ini membutuhkan tidak hanya kerjasama, namun kohesi yang membutuhkan waktu latihan lama. Östersunds wajar memiliki hal tersebut dengan Graham sudah bersama mereka semenjak 2010 saat klub berada di divisi 4. Hasilnya, Galatasaray tidak mempunyai ide untuk membongkar pertahanan ketat ini dan ÖFK dengan mudah memenangkan bola dan melakukan serangan balasan.

Walau belum mencetak gol, ÖFK tidak terburu-buru hingga memasuki babak kedua. Mereka menikmati tempo permainan sendiri dengan Sarı-Kırmızılılar terperangkap pola babak pertama mengalami kelelahan dan semakin berada dalam tekanan.

Kita perlu kemudian memperhatikan peran dua gelandang sentral yang juga kapten serta wakil kapten di klub, Brwa Nouri dan Foaud Bachirou. Mereka membantu menciptakan ruang di belakang gelandang tengah Gala dimana peran Nouri adalah menyeimbangkan permainan dengan bergerak lebih ke dalam dan Bachirou memiliki kemampuan untuk melakukan terobosan ke depan.

Akhirnya, gol pertama Östersunds datang di menit 66 lewat peran Bachirou dimana ia mengirimkan umpan kunci yang sukses diselesaikan oleh Ghaddos. Setelah gol tersebut, tuan rumah tidak jumawa dan lebih memilih tetap pada 5-4-1 sambil menunggu waktu yang tepat untuk melakukan serangan balik.

Etos kerja ÖFK layak diacungi jempol dengan para pemain terus memberikan tekanan sepanjang pertandingan kepada tamu dan bergerak sangat kompak, membuat Gala terkungkung. Respon yang diberikan tim tamu mengecewakan dengan bermain lamban yang dianggapnya sebagai solusi aman.

Alih-alih mencoba terobosan, Galatasaray sepanjang 90 menit dapat dianggap sangat pasif karena ketiadaan variasi umpan selain ke samping ataupun ke wilayah sendiri ketika buntu. Tentunya ini membuat pekerjaan tuan rumah semakin mudah untuk terus menutup wilayah permainan selagi duo lini tengah Cimbom, Selçuk İnan dan Tolga Ciğerci, terisolir serta tidak mampu menciptakan pola sendiri.

Beberapa saat menjelang pertandingan berakhir, Bachirou mampu memenangi duel dan melewati pemain belakang Gala yang maju terlalu ke depan dengan mudah. Dia memberikan umpan manis ke Ghaddos yang meneruskan kepada pemain pengganti Jamie Hopcutt. Jamie kemudian beradu lari dan mengelabui Maicon sebelum menceploskan gol penutup.

2-0 menjadi skor yang memastikan kemenangan si Merah-Hitam atas Galatasaray. Malam yang luar biasa untuk klub yang bermarkas di Swedia bagian Utara dan PR besar bagi raksasa Turki ini dan sepertinya mereka tidak belajar dari pertandingan itu.

Nyata bahwa semalam di leg kedua, ÖFK bermain lepas serta mampu memberikan tekanan yang berbuah pinalti yang dikonversi menjadi gol ke-3 mereka dalam agregat atas tuan rumah. Fakta bahwa Gala bermain di kandang yang seharusnya menguntungkan tidak terbukti.

Sarı-Kırmızılılar hanya bisa mengakhiri pertandingan dengan skor 1-1 dan Östersunds mampu membuat Türk Telekom Stadı beserta seisinya terdiam. Klub Swedia ini dapat mematahkan keangkeran markas lawannya yang pernah membuat tim sekelas Manchester United maupun Real Madrid kesulitan bermain di tempat itu.

Galatasaray gagal lebih proaktif untuk memaksa ÖFK jatuh ke dalam tekanan. Cimbom tidak efektif menerapkan strategi untuk membuat lawan terperangkap dalam situasi 2 lawan 1 dalam skema penyerangan mereka, padahal hal ini bisa dicoba jika melihat pola permainan di pertandingan pertama.

Pada akhirnya, ini bukan semata kisah David melawan Goliath, walau Östersunds FK baru berada di Allsvenskan setahun yang lalu serta lolos ke kualifikasi Europa League karena status juara Piala Swedia. Apa yang disebut sebagai kejutan setelah menyingkirkan Galatasaray, Juara liga Turki 19 kali, nyatanya merupakan buah hasil kerja keras Graham Potter beserta anak asuhnya sejak 2011.


Penulis: Arya Luthfy (@luthfyfalsyah7), penikmat Football Manager serta sepakbola lokal.

Like this Article? Share it!

About The Author

Kumpulan Para Penikmat Sepak Bola Tanpa Batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *