Italia, Penonton, dan Stadion: Satu Perkara Akut

Published On 13/07/2017 | By John | Memory Lane

Arrigo Brovedani dengan serius menyaksikan pertandingan Sampdoria melawan Udinese. Dia hadir di Luigi Ferraris sebagai bagian dari ritual bertamu dan menikmati hasilnya dengan Zebra unggul 2-0 memasuki akhir babak pertama pertandingan, terjadi pada 2012 yang lalu.

Sayang, kebahagiaan itu tidak dapat dibagikan dengan orang lain karena ia sendirian di ‘gabbietta’. Memang sulit diyakini karena “biasanya jika kami bertandang, ada sekitar 80 orang (suporter Udinese),” katanya kepada Rai Sport.

Dengan pertandingan dilangsungkan Senin malam serta jarak stadion dengan rumahnya sendiri mencapai 500 km, Brovedani hanya bisa harap-harap cemas selama dalam perjalanan berkendara dari kota perbatasan Slovenia hingga mencapai Genoa. “Jujur, saya pikir akan menemukan diri di antara setidaknya lima atau enam orang,” namun kenyataan membuat ia seorang diri dihadapan tuan rumah.

Walaupun Brovedani mengatakan bahwa ia beruntung dapat menonton pertandingan ini dikarenakan adanya tuntutan pekerjaan di sekitar wilayah Genoa, apa yang dilakukannya sempat menjadi satu fenomena yang ramai diperbincangkan publik. “Mungkin jika ada dua dari kami, tidak ada yang akan membuat keributan tentang hal itu,” kata Brovedani. Kisah ini meledak juga dibantu karena pertandingan itu disiarkan langsung TV.

Memang kisah ini romantis, namun ceritanya menjadi bagian baru dari realitas suporter di Italia. Malah, kehadiran penonton tandang yang minim kemudian diperparah dengan keadaan dimana rataan penonton di rumah sendiri mengalami penurunan rataan jika melihat apa yang terjadi memasuki tahun 2017 ini.

Para pemain Roma dan Lazio sebelum pertandingan pada April 2016 (Andrea Staccioli / Insidefoto)

Rilisan dari Il Messaggero pada pertengahan musim 2016/17 menunjukkan penurunan penonton sebanyak 1,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kehadiran 21.833 penonton di stadion kemudian dikatakan tertolong dengan keberadaan AC Milan dan Juventus yang mengalami peningkatan kehadiran.

Jika kemudian melihat di akhir musim, ini tidak berubah banyak jika menggunakan statistik dari european football statistics maupun worldfootball yang meletakkan angka di 22 ribu penonton. Sebuah kenyataan bahwa upaya untuk mengembalikan atmosfir stadion Italia seperti dekade 1990an masihlah “jauh panggang dari api”.

Masalah pertama mengapa orang kesulitan untuk hadir di stadion adalah kebijakan pemerintah terkait penanganan ultras. Kartu identitas khusus, pemeriksaan kepada suporter yang ingin bertandang, lalu kamera di gerbang masuk mampu memonitor siapa yang datang (berkat koneksi dengan basis data kepolisian) dialami oleh Brovedani sendiri dan membuat kawan-kawannya mengurungkan niat dan lebih menikmati duduk di rumah sendiri menyaksikan pertandingan. Tidak ada yang salah dalam upaya melindungi orang lain yang hadir untuk menikmati pertandingan apalagi mengingat tragedi yang dialami oleh Filippo Raciti pada 2007, namun hal ini dirasa berlebihan.

Ini kemudian disusul dengan ketiadaan upaya perbaikan atau lebih parahnya lagi menghilangkan atmosfir yang ingin dihadirkan penonton di kandang sendiri. Hal tersebut tercermin dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah Roma pemilik stadion Olimpico dengan mendirikan pagar kaca setinggi 2 meter lebih sebagai pembatas di Curva Sud dan Curva Nord, satu wilayah tempat suporter fanatik Roma dan Lazio berada di Olimpico ketika pertandingan kandang dilaksanakan.

Sikap yang dianggap mengalienasi ultras berbuntut kepada sikap protes dengan ketidakhadiran mereka di hampir seluruh pertandingan sepanjang musim lalu. Upaya mediasi yang dilakukan dengan para pemain mendatangi basis tidak menghasilkan apapun dengan Daniele de Rossi mengatakan, “Semua telah berubah. Hubungan dengan pendukung terasa berbeda sekarang. Banyak tembok penghalang yang menghalangi rekonsiliasi dan semangat yang ada sayangnya ikut menghilang.”

Anggapan bahwa hilangnya ultras membuat penonton awam akan datang ke stadion tidak terjadi. Tentu saja, bentukan dan fasilitas stadion yang digunakan klub Serie A tidak mengalami banyak re-konfigurasi semenjak berlangsungnya Piala Dunia 1990 menyebabkan hilangnya minat keluarga untuk berkunjung. Klub dibuat frustrasi jika mereka menginginkan perbaikan seperti yang dialami oleh Cagliari untuk merenovasi Sant’Elia dimana negosiasi dengan pemerintah lokal sebagai pemilik membutuhkan waktu hingga 7 tahun untuk tercapainya kesepakatan dan diwarnai tindakan konyol seperti boikot.

Gli Isolani bisa iri dengan apa yang dilakukan Udinese terhadap Stadio Friuli dengan renovasi besar-besaran selain mendapat izin sewa bangunan dan tanah sepanjang 99 tahun, tapi ada yang lebih buruk. Jika gagal bernegosiasi, penonton hanya bisa mengekspresikan kegetirannya seperti yang dilakukan pendukung Bologna atas Stadio Dall’Ara dengan menanyakan siapa yang mau “duduk di kursi rusak atau masuk ke dalam toilet yang tidak memiliki aliran air bersih sama sekali?” dalam satu publikasi mereka.

Era baru yang menjanjikan dimulai saat pembukaan Juventus Stadium pada 2011 (balichws.com)

Solusi dengan membangun stadion baru terlihat menjanjikan dan dibuktikan oleh Juventus. Dengan stadion yang menyandang nama mereka sendiri yang kemudian baru saja dibeli perusahaan asuransi Allianz untuk dijadikan stadion kedua yang menyandang nama mereka, kapasitas 41 ribu penonton selalu terisi 98 % berdasarkan statistik yang ada. Hasil keuntungan yang tidak perlu berbagi dengan pemerintah seperti saat berkandang di Turin membantu “Si Nyonya Tua” dalam menjaga keuangan mereka positif sekaligus dibarengi membangun tim yang kompetitif.

Fenomena seperti itu memang ingin diikuti oleh banyak klub besar lain macam Roma, namun lagi-lagi terbentur negosiasi dengan pemerintah lokal yang cukup ribet. Selain itu, pengorbanan finansial yang cukup besar harus dilakukan klub dan tidak bisa dilakukan secara otomatis mengingat resesi ekonomi di Italia menyebabkan keadaan kurang baik bagi mereka maupun pendukung sendiri yang juga ternyata menjadi alasan untuk tidak datang ke stadion.

Kenapa? Dengan harga berlangganan per bulan siaran Sky berada di angka setengah hingga mendekati sedikit harga satu tiket pertandingan (bergantung program yang diinginkan), penonton tentu memiliki pilihan yang dianggap lebih menguntungkan. Jika berargumen bahwa atmosfir yang dihasilkan berbeda, layanan publikasi serta pengemasan program nyatanya semakin maju dan mendekati kenyataan selain tentu harga dan keamanan membuat penonton wajar condong memilih televisi.

Seperti yang disimpulkan Massimo Franchi dari Tuttosport, penulis yang lama berjibaku dalam bidang olahraga mengatakan, “Lebih baik (menonton Sky) dibandingkan datang ke stadion. Kamu datang ke tempat dengan suhu udara berada di kisaran 5 derajat (Celsius), bahkan di malam hari bisa mencapai 1 derajat. Sambil menunggu pertandingan di televisi, anda dapat duduk serta meminum apapun sembari menikmati pra-pertandingan yang disajikan seperti wawancara dengan Buffon atau Berlusconi tentang apa yang akan terjadi. Kemudian, 90 menit permainan disusul dengan ulasan selama satu jam di studio.”

Upaya untuk membuat penonton untuk hadir di stadion tidak lagi bisa dengan berinvestasi saja kepada pemain bintang. Itu dialami langsung oleh Napoli dimana terjadi penurunan setelah pemain kunci macam Gonzalo Higuain dijual dan prestasi mereka menurun sedikit, penonton kemudian ikut ‘sedikit’ menghilang (ya, 5 persen penurunan dibandingkan musim lalu). Ini bisa menjadi catatan menarik kemudian bagi AC Milan di pra-musim 2017/18 ini.

Hari Minggu masih bisa dikatakan sebagai hari beribadah baik secara harfiah atau dalam bentuk lain berupa sepakbola di Italia. Kemudian dalam perkembangannya, penonton menikmati pertandingan dengan menggunakan media televisi bersama dengan keluarga.

Lebih nyaman memang, apalagi mengingat kekerasan masihlah ada di sekitar bahkan di dalam stadion dilakukan oleh orang-orang yang membutuhkan pelampiasan. Kemudian dibumbui dengan skandal, sebut saja Totonero ataupun Calciopoli. Kenyataan yang aneh namun bisa saja dikatakan normal dalam satu waktu, bukan?

Akhir kata, apa yang dialami Brovedani menarik memang pada 2012, terbukti dengan simpati yang hadir dari dalam stadion Luigi Ferraris maupun publik. Namun, terulangnya kisah ini akan menjadi wajar dalam tahun-tahun ke depan dengan stadion bahkan tidak terisi hingga setengahnya kecuali di beberapa tempat. Mungkin saja ini hanyalah satu proses perulangan dan pada akhirnya magis suporter akan kembali ke stadion di Italia, namun tidak dalam waktu dekat.


About me: Willibrordus Bintang (@Obinhartono1) berbasis di Yogya dan menjadi penikmat Football League serta Conference selagi menyambi kuliah. Memory Lane adalah sarana menghadirkan kembali tulisan dari blog-blog lama kami dengan sentuhan editorial ataupun memunculkan data baru. Tulisan ini berbasis pada satu terbitan dari 28 Desember 2012.

Like this Article? Share it!

About The Author

Kumpulan Para Penikmat Sepak Bola Tanpa Batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *