Hikayat Sepakbola di Amerika Serikat pt.2

Published On 22/06/2017 | By John | History

Melanjutkan cerita

Setelah Perang Dunia ke-2, tidak, ada perubahan berarti dari sepakbola di Amerika Serikat dikarenakan eksistensinya hanya berada di tingkat amatir serta keterikatan sebagai olahraga imigran. Ini menyebabkan sepakbola, terlepas kembali populer di tingkat universitas dengan munculnya kompetisi aktif di bawah National Collegiate Athletic Association pada 1959, dianggap sebagai olahraga minor dibandingkan American Football atau Bisbol.

Paragraf awal tadi memang tidak memperhitungkan keberadaan American Soccer League model kedua yang dimulai pada 1933 menggantikan kompetisi dengan nama yang sama dan bangkrut setahun sebelumnya. ASL model ini lebih mirip sebagai kompetisi regional dengan konsentrasi wilayah meliputi New York dan sekitarnya serta tidak melibatkan uang yang banyak.

Selain mereka, North American Soccer Football League hadir sebagai satu kompetisi yang berupaya membawa olahraga ini ke tataran nasional pada 1946 walau kemudian perjalanan mereka berakhir dalam dua tahun. Federasi sepakbola Amerika  yang berubah nama dari United States Football Association (USFA) menjadi United States Soccer Federation (USSF) juga tidak membawa perubahan spektakuler terlepas bahwa satu kemenangan di Piala Dunia 1950 atas Inggris yang digembar-gemborkan sebagai hal terbaik dari kehampaan prestasi Tim Nasional bahkan sekalipun di tingkat CONCACAF akibat ketidakseriusan federasi untuk mengelola tim.

 

Joe Gaetjens yang dipapah fans dadakan dari Brasil setelah kemenangan atas Inggris di Piala Dunia 1950 (@ Getty Images)

Kelahiran Kembali dan Mati Suri

Generasi emas sepakbola Amerika Serikat yang ke-2 hadir kembali setelah berakhirnya Piala Dunia 1966 yang dimenangkan Inggris. Antusiasme masyarakat berbahasa Inggris atas kemenangan negeri Ratu Elizabeth sampai di tanah Amerika dengan tayangan delay dari pertandingan final tersebut menjadi pertandingan sepakbola dengan penonton televisi terbanyak di negeri Paman Sam, rekor yang bertahan hingga 1994.

Peluang komersil yang kemudian terendus dari banyaknya penonton memunculkan dua kubu investor yang menciptakan liga sepakbola masing-masing. Lahirlah kemudian United Soccer Association serta National Professional Soccer League. Jika USA berbasis kepada klub Eropa dan Amerika Selatan yang meminjam identitas lokal, maka NPSL mencoba membangkitkan rasa nasionalisme sekaligus profesionalitas dalam sepakbola Amerika kembali.

USA lebih punya keunggulan dikarenakan keberadaan pemain bintang macam Roberto Boninsegna yang membuat rataan penonton mencapai angka di atas 7 ribu selama satu musim. Ini dapat dikatakan lumayan, namun masalahnya sistem mereka tidak direstui dan disanksi FIFA. NPSL yang sebaliknya mendapat persetujuan dan juga menonjolkan diri punya ikatan kontrak siaran televisi yang dianggap sebagai bentuk legitimasi olahraga di Amerika lalu mengalami kegagalan setelahnya dengan stadion selalu sepi karena pemain-pemain Amerika sendiri yang kurang dikenal beserta peraturan konyol yang kehadirannya hanya menunjang keinginan pihak televisi.

Upaya menanggulangi kerugian berbuntut kepada  tergabungnya USA dan NPSL untuk menjadi NASL pada 1968. Formula liga tertutup dengan lisensi yang berbasis lokalitas, bukan hasil tempelan klub luar membuat sepakbola profesional kembali diminati di Amerika Serikat. Bukti terbaik dari liga ini adalah New York Cosmos, klub yang bergabung dengan NASL pada 1971 ini dibintangi oleh Pele serta Franz Backenbauer. Walaupun sudah melewati masa keemasannya, mereka berdua mampu mengikat penonton hingga puluhan ribu yang pada puncak kemegahan Cosmos mencapai 40 ribu orang.

Kehadiran Pele yang kemudian menarik bintang lain macam Bobby Moore dan George Best tidak membuat NASL lupa kepada pemain dari negaranya sendiri. Dengan pengenalan sistem draft kepada para lulusan universitas seperti pada cabang olahraga lain, NASL membuat rata-rata pemain Amerika Serikat yang bermain untuk klub ikut meningkat serta mempopulerkan kembali bola sepak di akar rumput.

Terlepas formula yang dirasa bagus, ambisi memperluas pasar dengan pemberian lisensi hingga pada puncaknya menciptakan 24 klub membuat NASL kehabisan bahan bakar. Merupakan satu kewajaran bahwa ada pasang-surut peminatan kepada olahraga, namun sepakbola tidak siap menanggulangi efek yang terjadi pada dekade 1980an. Stagnansi prestasi tim nasional terlepas perkembangan liga, lalu para pemilik yang kehabisan uang dan melihat NASL tidak lagi mampu menghasilkan profit membuat liga ini bubar pada 1985.

 

Pele dan New York Cosmos (@ ESPN FC)

Piala Dunia 1994, MLS, masa depan?

Ketiadaan liga profesional dalam satu atap serta lemahnya tim nasional memberikan upaya revitalisasi baru kepada para pemegang kepentingan. Dorongan juga muncul dari FIFA yang memberikan Amerika Serikat izin menyelenggarakan Piala Dunia 1994 dengan kondisi bahwa USSF mendirikan liga profesional kembali, satu hal yang mulai terlihat bibitnya dengan kemunculan liga-liga regional macam American Professional Soccer League dan United States Interregional Soccer League.

Tahun 1992 menjadi pencanangan awal dengan presiden USSF, Alan Rothenberg kemudian mengundang para investor lama NASL serta peminat baru beserta perwakilan klub dari liga-liga regional untuk mencanangkan liga profesional. Model tertutup tanpa promosi-degradasi tetap digunakan namun dengan perubahan dimana USSF memberikan kekuatan komprehensif kepada otoritas liga yang kemudian disebut sebagai Major League Soccer untuk penuh segala hal berkaitan jual-beli, gaji, serta batas bujet yang digunakan oleh setiap tim dengan investor berinvestasi kepada MLS, bukan kepada klub langsung.

Selagi persiapan Amerika Serikat untuk kali pertama menjadi tuan rumah Piala Dunia dengan persiapan ekstensif baik sebagai penyelanggara dan peserta. Dengan materi yang diambil dari hasil pengembangan pemain muda NASL, akhirnya tim nasional Amerika mulai menunjukkan tajinya pada Piala Dunia 1990 di Italia, Piala Dunia pertama mereka semenjak 1950, dan meningkat pesat 4 tahun setelahnya. Turnamen di Amerika juga memecahkan rekor penonton, yaitu 3,6 juta penonton dengan rataan 69 ribu penonton per satu pertandingan, sepakbola nyata menjadi olahraga yang kembali menarik awam di sana.

2 tahun paska piala dunia 1994, MLS akhirnya resmi berjalan, dan menunjukkan pertumbuhan positif peminatnya semakin hari semakin banyak, namun, bukan berarti tidak memiliki pengorbanan. MLS merelakan 250 juta dollar yang hilang dan juga dua tim yang terpaksa bubar, dalam kurun waktu 20 tahun. Sepakbola juga sempat stagnan di awal abad ke-21, namun menemukan lagi dorongan untuk berkembang paska kedatangan David Beckham ke liga ini pada 2007.

Pantas bahwa jaman ini dianggap sebagai waktu generasi emas ketiga yang mengalami transisi mulus menuju generasi keempat penggila sepakbola mengingat bahwa Amerika Serikat memang jagonya mengemas olahraga menjadi tontonan atau hiburan yang menyenangkan. Pemain-pemain berlabel internasional mulai berdatangan yang ledakan pertama diawali oleh Beckham dan rekan-rekan yang kemudian menghabiskan waktu diujung karirnya merumput bersama tim MLS. Tidak lupa bahwa Tim Nasional mereka juga menciptakan bintangnya sendiri dengan menjadi jawara di Piala Emas CONCACAF serta tampil di Piala Dunia secara berkesinambungan.

Kehadiran idola dan platform yang berkelanjutan membuat, bicara survei yang dilansir oleh ESPN, sekitar 3 juta anak anak bermain di akademi sepakbola Amerika Serikat dengan penggemar muda (rentang usia 12 hingga 17 tahun) lebih menggemari sepakbola ketimbang bisbol (MLB). Tahun ini saja, lebih dari 60 tim professional berlaga di Amerika Utara, singkat kata, Sepakbola mulai berkembang pesat di Amerika, sedangkan dibawah level MLS, terdapat juga NASL dan USL.

 

Perbandingan sistem terbuka diwakili Inggris dan tertutup ala Amerika Serikat (@ topdrawersoccer.com)

NASL dan USL telah berkembang cukup pesat untuk memenuhi permintaan konsumen akan klub yang lebih kompetitif. Klub USL sendiri memiliki valuasi antar 3 juta hingga 20 juta dollar, apabila kita berkaca pada kisaran 5 atau 6 tahun yang lalu, hal ini terlihat tidak mungkin terjadi. Memang, masih ada perdebatan yang belum berakhir kepada sistem liga tertutup khas Amerika yang mengalami tekanan dunia internasional untuk menjadi sistem terbuka yang tidak akrab dengan lingkungan masyarakat Amerika yang hampir tidak mengenal sistem degradasi-promosi, tapi mari simpan dahulu hal tersebut.

Ada beberapa fakta yang perlu ditunjukkan mengapa sepakbola di Amerika semakin pesat, yaitu adalah pendapatan iklan dari FOX ketika menyiarkan turnamen Piala Dunia Wanita 2015 lalu itu mencapai 40 juta dollar, ini mengalahkan Final Stanley Cup (NHL/Hoki), World Series MLB dan Final NBA. Terakhir, kembali ke data, bahwa perkembangan sepakbola sangat pesat, ambil kasus di Michigan. Michigan yang saat ini tidak memiliki tim MLS, memiliki 92.022 anak yang menggemari sepakbola, sedangkan Kansas yang memiliki tim MLS dan salah satu fasilitas terbaik di Amerika Serikat, memiliki 25.258 orang pemain muda.

Jadi, dapat diperkirakan bagaimana sepakbola Amerika Serikat sepuluh tahun mendatang?

Peluang untuk berkembang menjadi lebih besar, namun tantangan menanti di depan.


Penulis: Pradana Arya (twitter: @dropkickdemon), penggemar sepakbola, sejarah, dan kopi.

Like this Article? Share it!

About The Author

Kumpulan Para Penikmat Sepak Bola Tanpa Batas.

Comments are closed.