Gampang jadi pemilik klub Championship? Tunggu dulu!

Published On 22/05/2017 | By John | The Talking Points

Kepemilikan klub menjadi sesuatu yang menarik bagi para investor luar negeri yang berdatangan ke Inggris, baik sebagai bentuk prestise karena dikatakan liga ini sebagai liga terbaik di dunia ataupun investasi yang kemudian dapat diuangkan kembali dalam jangka waktu lama. Ketidakmampuan untuk langsung membeli klub yang sudah berada di Premier League (PL) membuat investor kemudian beralih kepada mereka, klub yang berada di English Football League (EFL) dan utamanya Championship sebagai sasaran. Pada saat itu banyak faktor berbicara… dan kemudian muncul masalah.

Mempelajari apa yang menjadi pengalaman Tim Shaw, salah satu investor yang pernah membantu Watford dari tahun 2000-2003 akan cukup membantu disini. Setiap investor yang berani menaruh uangnya di EFL harus siap untuk merugi dikarenakan pendapatan yang didapatkan sebaliknya tidak akan cukup untuk balik modal. Dengan: 1) basis suporter yang tidak cukup besar; 2) pendapatan komersial baik menyangkut hari pertandingan ataupun di luar yang kalah jauh dari PL; 3) pembayaran pekerja yang tidak terbatas dalam pemain yang nilai asetnya lemah jika bukan dari divisi utama; 4) pendapatan total yang masih dipotong pajak; dan 5) tuntutan pendukung yang menyebabkan keluarnya biaya ekstra di luar kebutuhan utama, siapa yang mau bertaruh di sana?

Ternyata orang-orang seperti itu ada. Kita kemudian berbicara orang seperti Vichai Srivaddhanaprabha bersama Leicester City atau Massimo Cellino dengan Leeds United, serta Roland Duchatelet di Charlton Athletic. Tiga nama ini punya cabang cerita berbeda dalam mengantarkan klubnya ke tempat yang sekarang.

Jika kemudian Leicester City promosi ke PL pada 2014 dan kemudian menjadi juara pada 2016 merupakan suatu kisah cinderela, anda harus menengok latar belakangnya. Vichai harus menghabiskan 78 juta Pounds untuk setidaknya mengeluarkan klub ini dari Championship sejak resmi menjadi pemilik pada 2011 dan dana tersebut banyak tersedot kepada pembangunan infrastruktur stadion sendiri diserta pengeluaran hemat di bawah manager Nigel Pearson saat itu.

Pengorbanan Vichai sampai ke piala itu besar, dalam artian uang. (@ AP)

Vichai tentu tidak masalah dikarenakan kekayaan di Thailand membantunya bertahan atas kehilangan uang yang cukup besar. Bagaimana kemudian dengan Cellino? Dia sebagai sosok kontroversial datang ke Inggris sebagai mantan pemilik klub Italia, Cagliari Calcio dan tercatat bahwa di tahun 2015 saja ia sudah berinvestasi hingga 43 juta Pounds yang banyak dihabiskan untuk menekan masalah keuangan lama yang berasal dari pemilik lama Leeds dan tentu akan bertambah besar demi membiayai ambisi klub yang berkandang di Elland Road ini.

Masa kepemilikannya lebih banyak diwarnai kontroversi di tahun awal dengan gonta-ganti pelatih serta ditambah 3 kali kejatuhan hukuman dari Football Association (FA) disusul permasalahan lain membuat dia lama-kelamaan kapok. Terbukti di musim 2016/17 ini Cellino menjadi lebih kalem dan membiarkan Garry Monk beraksi di kursi managerial dan mengantarkan The Whites ke musim terbaiknya di Championship.

Pada akhirnya, di pertengahan musim dia menjual setengah kepemilikan Leeds kepada Andrea Radrizzani, sesama kompatriotnya dari Italia. Prestasi Leeds? Papan tengah saja di liga dan ambisi Cellino bahwa tahun 2016 Leeds akan bermain di Premier League musnah. Namun, dia dapat dikatakan lebih ‘beruntung’ dibandingkan Duchatelet.

Roland Duchatelet datang ke Charlton dan membayar kepemilikan klub ini sebesar 14 juta Pounds sebagai pemegang beberapa klub sepakbola di Belgia, Jerman, Hungaria, dan Spanyol. Ambisinya besar untuk menjadikan The Addicks sukses dengan sistem Pozzo, sistem pemilik ala Giampaolo Pozzo dimana ia membentuk jaringan klub yang kemudian saling bahu-membahu. Nahas, yang terjadi adalah mis-management dengan Duchatelet memperlakukan klub sebagai aset dan pendukung sebagai customer yang dapat diperlakukan semaunya saja.

Sosoknya yang tidak pernah muncul di The Valley semenjak 2 tahun lalu hingga sekarang juga menandai menurunnya Charlton hingga berujung kepada ‘kiamat’, degradasi pada akhir musim 2015/16. Dengan kemudian klub terkatung-katung di League One serta protes suporter yang mendera sepanjang musim, pintu keluar mungkin sudah ditunjukkan kepada Duchatelet beserta investasi murah meriahnya di London Utara.

Yang satu masih di Championship, lainnya sudah di League One (@ Ben Hoskins/Getty Images Europe)

3 kisah di atas merupakan bentuk selamat datang penulis kepada orang yang ada di foto pengantar artikel ini. Ya, Evangelos Marinakis, pemilik baru dari Nottingham Forest sah membeli kepemilikan klub dari pengusaha Kuwait, Fawaz al-Hasawi dengan deal mencapai 50 juta Pounds. Ambisinya untuk membahagiakan pendukung dengan memberikan mereka tempat di Premier League setelah sekian tahun bertahan di Championship patut ditunggu.

Marinakis, sama seperti Fawaz, tentu tidak lepas dari kontroversi sebagai pemilik Olympiakos, salah satu klub tersukses di Yunani Hingga hari ini, dia masih tersangkut dakwaan pengaturan skor di negara asalnya dan tentu menjadi pertanyaan menarik bagaimana operator meloloskan dia melihat kasus yang sedang hangat-hangatnya di Inggris macam Oyston’ Blackpool maupun Bechetti’ Orient.

Dengan paparan masalah sedemikian rupa di depan mata, keinginan memiliki klub dan punya dana cukup untuk membelinya tidaklah pantas jika tidak diimbangi perencanaan matang serta kantong dana besar yang tidak pelit dikeluarkan macam Paman Gober. Impian mendapat pendapatan lebih dari 100 juta Pounds dan memegang tulisan “We’re going up” yang berarti promosi hal yang gampang, tapi prosesnya berdarah-darah di EFL.


About me: Willibrordus Bintang (twitter: @obinhartono1). Berbasis di Yogya, dia menjadi penikmat sepakbola Football League dan Conference selagi menyambi kuliah. Dapat ditemukan sedang streaming di warkop terdekat.

Like this Article? Share it!

About The Author

Kumpulan Para Penikmat Sepak Bola Tanpa Batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *