Eredivisie: Kilap yang sulit dicari

Published On 16/05/2017 | By John | Opini Ngehek

Beranjak untuk bicara musim ini, perlu diapresiasi bahwa Eredivisie musim 2016/17 telah menyajikan apa yang telah lama hanya menjadi legenda. Feyenoord Rotterdam kembali menjadi juara setelah harus menunggu hampir 20 tahun lamanya. Selain itu Feyenoord akhiri perjalanan yang menyenangkan di liga sepakbola kasta tertinggi Belanda setelah lewati pertempuran sampai akhir musim dengan lawan terdekatnya, Ajax Amsterdam. Ditambah PSV Eindhoven yang kemudian berada di belakang kedua tim sehingga muncul lagi istilah “Big 3” sebagai kekuatan sepakbola Belanda kontemporer.

Namun setelah keriaan berakhir, perhatian kemudian berkurang kembali, memunculkan pertanyaan apa yang sebenarnya terjadi.

Jika bicara mengapa, berbeda dengan liga top Eropa seperti Inggris dengan Premier League, lalu La Liga di Spanyol serta Serie A Italia yang akrab dengan telinga penonton Indonesia, Eredivisie merupakan satu fenomena sendiri. Mungkin keakraban masyarakat Indonesia kepada liga ini sekarang adalah lebih kepada pemain keturunan Indo yang bermain di sana, apalagi jika kemudian mereka mau menggunakan seragam merah putih tim nasional.

Ini yang dilakukan oleh Stefano Lilipaly dimana kabarnya saat ini ia bersama SC Cambuur sedang berjuang untuk promosi dari Eerste Divisie.

Alasan lain untuk memperhatikan liga ini adalah nostalgia akan era 60 hingga akhir era 70 an dimana Belanda memiliki tim nasional yang cukup berbahaya. Tentu dengan pamor Total Football-nya mereka yang terkristalisasi lewat dua tokoh bernama Rinus Michels dan Johan Cruyff, tim negeri Kincir Angin ini memiliki kekuatan tersendiri untuk difavoritkan, namun itu kemudian menjadi sekedar cerita yang terus berulang menjelang, katakanlah, ajang Piala Dunia digelar kembali.

Masih ingat Twente? Juara pada 09/10, namun mengalami hampir bangkrut awal musim ini (FC Twente web)

Dari hal itu, beberapa faktor dapat diidentifikasi mengapa Eredivisie sulit dalam mempertahankan popularitasnya. Dari awal, jika awam berbicara Eredivisie, nama itu bersinonim bagi tiga klub besarnya yang tadi disinggung di awal. Bagaimana dengan klub-klub sisanya? Mereka hanyalah angin belaka, atau merupakan genta yang nyaring di telinga, mirip dengan apa yang dialami Skotlandia lewat Scottish Premier Football League (SPFL) yang bagi orang hanyalah Celtic dan Rangers yang dipertemukan lewat Old Firm Derby.

Faktor lain yang menyebabkan orang merasa Eredivisie kurang gemerlap adalah Bosman Rules. Faktor ini yang memungkinkan pemain bebas untuk membuat kesepakatan dengan klub baru untuk pindah satu tahun sebelum kontrak dengan klub lamanya berakhir tanpa tanpa harus membayar fee.

Hal inilah yang membuat banyaknya pemain muda yang memiliki bakat memilih eksodus ke klub-klub besar Eropa dan itu terjadi di Eredivisie setiap akhir musim.

Buah simalakama memang mengingat Eredivisie merupakan sentra pengembangan pemain-pemain bertalenta, namun tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk mempertahankan apa yang dimilikinya jika sudah matang. Liga ini kemudian hanya dikenal sebagai pabrik calon bintang, bukan lagi sebagai liga besar yang menyajikan hiburan dan nama-nama besar.

Kondisi finansial yang bisa dibilang “menengah ke bawah” memunculkan pandangan bahwa Eredivisie masih kurang bisa berkembang dalam sektor ekonomi. Sepinya sponsorship kelas wahid, katakanlah begitu, karena sponsor yang masuk di Eredivisie hanya mayoritas berasal dari domestik mereka sendiri ditambah dengan kurangnya ekspos terlepas bahwa saat ini hak siar dalam skala internasional dipegang oleh Fox Sport, mesin sama yang memegang Bundesliga.

Gambaran pendapatan klub Eredivisie musim 14/15 (IMR Publications)

Merupakan suatu pemakluman bahwa rata-rata gaji yang dibayarkan oleh klub-klub di Eredivisie kepada satu pemain sebesar 266 ribu Euro pada musim 14/15, sangat jauh jika dibandingkan dengan Premier League Inggris dimana rata-rata pendapatan yang didapatkan seorang pemain sebesar 1,7 juta Euro. Gaji terbesar yang dibayarkan oleh klub di Belanda kepada seorang pemain hanya mencapai sedikit lebih dari 2 juta Euro dan ini timpang sehingga banyak klub yang mengandalkan pinjaman pemain bagus untuk mampu berprestasi walau itu dapat dikatakan sebagai investasi yang tidak terlalu baik seperti yang dilakukan oleh Vitesse Arnhem.

Ditambah dengan adanya low salary cap, alias pembatasan gaji yang ditetapkan oleh klub sendiri yang prakteknya dilakukan semua klub Eredivisie memberikan efek bagi sepinya bintang-bintang Eropa yang hendak main disana, dimana rata-rata pemain asing yang bermain di Eredivisie hanya mencapai 38,9%. Menjadi pemandangan umum melihat lebih banyak pemain asing yang cukup uzur yang kemudian berlaga menemani talenta muda di liga ini, berbeda dengan dominasi pemain luar yang produktif dan bermain untuk EPL yang mencapai angka 69,2%.

Pada akhirnya, nada pesimis yang terasa bukan berarti Eredivisie menjadi kurang menarik untuk disimak. Dalam kasat mata penonton awam, memang nama-nama yang ada disana kurang dikenal, namun Eredivisie tetap menyajikan permainan permainan spektakuler dan unpredictable dengan gol-gol keren tiap minggunya terlepas dari tiga tim besar tadi.

Mari lihat sisi positifnya, bahwa dengan sepinya sponsor dan pemain bintang, Eredivisie masih menyajikan sepakbola tradisional dengan ciri khas mereka, dan anda cukup beruntung jika setia menjadi salah satu penonton yang terus menyaksikannya.


Penulis: Pradana Arya (twitter: @dropkickdemon), penggemar sepakbola, sejarah, dan kopi.

Like this Article? Share it!

About The Author

Kumpulan Para Penikmat Sepak Bola Tanpa Batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *