Erbstein: Simbol Cinta kepada Keindahan Keluarga dan Sepakbola

Published On 29/06/2017 | By John | History

Izinkan kami bercerita satu hal berkaitan dengan Tragedi Superga. Tentu, semua orang sudah tahu bahwa tragedi tersebut melenyapkan apa yang disebut sebagai Il Grande Torino, satu generasi pemain yang berhasil merajai Serie A selama lima tahun berturut-turut dan digadang-gadang mengantarkan Italia kembali jaya paska Perang Dunia ke-2.

Namun, kisah ini tidak akan hanya bercerita tentang Valentino Mazzola atau apa yang terjadi dengan Torino FC. Cerita soal Superga sedikit melupakan satu sosok penting yang berperan sebagai arsitek dari kejayaan tersebut. Ia adalah Ernö Egri Erbstein, pria berkewarganegaraan Hungaria yang berstatus sebagai manager klub saat itu.

Dialah yang meletakkan fondasi dan sukses membangun Il Toro untuk meraih sesuatu yang sulit kembali diukir di era saat ini. Kejeniusan Erbstein yang dikatakan sebagai cikal bakal dari Total Football ternyata berjalan beriringan dengan kisah hidup penuh lika-liku yang menunjukkan satu sosok lain dari dirinya yang merupakan pelindung keluarga.

Kejeniusan awal seorang Erbstein

Pria yang bernama asli Ernest Erbstein ini menjadi bagian dari generasi emas sepakbola Hungaria ketika berseragam Budapesti AK dari 1910 hingga 1920an. Gantung sepatu di tahun 1928 setelah bermain untuk klub Amerika Serikat, Brooklyn Wanderers serta di waktu yang sama dia langsung mengambil posisi sebagai juru taktik klub di Italia.

Mengapa Italia? Keterikatannya kepada negeri ini bisa diidentifikasikan kepada U.S. Fiumana dan Vicenza, 2 klub dari Negeri Pizza yang pernah Ernö bela selama bemain. Atau, rasa tersebut muncul akibat Perang. Benar, di tengah karir bermainnya ia menjadi wajib tentara bagi Kerajaan Habsburg dan masa itu dihabiskannya di tanah ini sepanjang 1916. Kembali ke cerita, Bari, satu klub yang menyandang nama kota yang terletak di dekat Laut Adriatik menjadi pilihannya kemudian.

Kejuaraan Italia musim 1928/29 merupakan tahun penting bagi klub yang berlaga dikarenakan menjadi penentuan siapa yang dapat bermain di Serie A yang akan bergulir pertama kali di musim selanjutnya. Bari dibawah Erbstein menjadi jago kandang, namun finis di peringkat 13 grup A (terdapat dua grup dalam kejuaraan), 4 posisi dibawah syarat, menyebabkan mereka harus berlaga di Serie B.

Ergi Erbstein yang perlu membuktikan dirinya kemudian memilih turun dari Serie B menuju Prima Divisione (setara dengan Serie C) untuk melatih Nocerina. Mengalahkan ekspetasi bahwa klub ini akan finis di papan bawah, dia membawa Mastini finis di peringkat 2.

Prestasi yang gemilang, namun Nocerina kemudian bangkrut dan malah terdegradasi yang membuat Ernö tidak punya pilihan selain keluar. Prestasi dari pelatih berumur 32 tahun tersebut tidak dinyanya membuatnya langsung dilirik beberapa klub. Cagliari, klub yang berada di divisi yang sama, menjadi pilihan persinggahan selanjutnya.

Ia membuat klub asal Sardinia ini hanya kalah 2 kali dan itu semua terjadi di luar rumah, mengantarkan mereka menjadi juara dan promosi. Musim selanjutnya, ia mempertahankan I Rossoblu di Serie B dengan catatan hanya tiga kali kalah di kandang dan memiliki catatan sebagai pertahanan terbaik ke-4 di liga, hal yang fenomenal tentunya jika dicermati.

Erbstein bersama skuad Lucchese (@minutosettantotto.it)

Sepertinya, manajemen Cagliari tidak mencermati hal tersebut yang menyebabkan tidak diperpanjangnya hubungan kerja. Erbstein kemudian kembali sebentar ke Bari sebelum kemudian berpindah ke Lucchese, satu klub Prima Divizione yang bermarkas di kota Tuscani.

Disinilah dia membangun sistem yang akan melekat dengan dirinya di Torino, membawa Lucchese menjadi jawara dan tentu promosi ke Serie B yang dalam dua musim dia tinggalkan dengan status yang sama. Musim 1936/37 menjadi waktu pertama bagi Ergi Erbstein untuk menunjukkan sihirnya di Serie A dan dibuktikannya dengan finis peringkat 7.

Setelah jago kandang, hal kedua yang membuat Ernö  istimewa adalah ia melatih klub yang tidak memiliki modal besar dan mengatasi tersebut dengan mencari talenta dari divisi bawah ataupun mempromosikan pemain muda ke tim utama. Di Lucchese, ia memunculkan Aldo Olivieri, salah satu kiper terbaik Italia; Antonio Perduca, kapten serta bek yang sebelumnya malang melintang dengan tim semenjana; Libero Marchini, gelandang yang kemudian mendapat panggilan dan meraih medali emas bersama Tim Nasional Italia di Olimpiade 1936. Hal menarik lainnya adalah Lucchese juga disimbolkan sebagai klub berisi pemain yang memiliki sifat anarki atau “melawan” keadaan politik hasil pemerintahan fasis Italia saat itu.

Setelah musim 1936/37 berakhir, pasaran Erbstein meningkat pesat. Salah satu peminatnya adalah Torino dan setelah negosiasi panjang, ia bersedia melatih klub asal Turin ini dari musim 1938/39. Sayangnya sebelum itu, perjalanan dengan Lucchese tidak berakhir dengan baik setelah ia keluar pada pekan 17 musim 1937/38. Ini terjadi karena kota tempat klubnya berkandang tidak menjamin putrinya dapat bersekolah karena hukum pemerintah serta komposisi pemain yang dimilikinya sudah compang-camping setelah pemain lama banyak dibeli klub besar Italia saat itu.

Pengorbanan demi keluarga selama Perang

Masalah di luar lapangan yang semakin besar sudah menanti. Dengan pengaruh Nazi Jerman meningkat dengan cepat, pemerintah Fasis Italia mengambil langkah untuk mengikuti garis pemerintahan yang sama dengan sekutunya. Benito Mussolini kemudian menerbitkan apa yang disebut dengan Manifesto della razza (Manifesto Ras), sebuah hukum yang melarang persentuhan orang asli Italia dengan non-Italia utamanya Yahudi untuk menjaga kemurnian ras.

Hal tersebut berarti membuat semua orang Yahudi kehilangan pekerjaan resminya dan terancam untuk ditangkap serta dimasukkan dalam kamp kerja paksa. Ini membuat Erbstein harus angkat kaki dari Italia dan kembali ke tanah kelahirannya, Budapest, di Desember 1938 dengan karirnya menangani Torino berhenti setelah setengah musim.

Selama Perang, apa yang dikerjakan Erbstein semua demi keselamatan istrinya Jolàn, dan dua putrinya, Marta dan Susanna. Semua berjalan sulit namun bisa dihadapi bagi mereka hingga Maret 1944. Saat itu adalah masa dimana Nazi Jerman benar-benar terlibat dalam kehidupan sipil Hungaria setelah mengakuisi negerinya dengan basis Miklos Horthy sebagai pemimpin lama tetaplah memiliki kekuasaan terbatas.

Dengan segera, masyarakat Yahudi di seluruh negeri diisolasi ke dalam ghetto-ghetto yang tersebar dan kemudian mulai dideportasi ke kamp konsentrasi macam Auschwitz. Pada puncaknya, 12 ribu orang dari setiap hari disalurkan ke seluruh kamp konsentrasi yang tersebar di luar Hungaria.

Tentu, Erbstein dan keluarga perlu bergerak cepat walau terdapat jaminan berupa populasi Yahudi di Budapest menjadi terakhir yang akan ditangani oleh Nazi. Pada akhirnya, berkat koneksi yang mereka miliki, istri beserta putri Erbstein dapat berlindung dalam selubung tempat kerja yang memproduksi kebutuhan Kementerian Perang dibawah inisiasi serta perlindungan Pastor Pál Klinda, dan Gitta Mallász, mantan atlit renang Hungaria dan figur publik yang kemudian menjadi direktur tempat tersebut.

Ernő tidak bisa bergabung dengan mereka dan kemudian mencoba mencari tempat persembunyian. Namun, menyadari bahwa kemungkinan terbunuhnya dirinya lebih besar saat ia bersembunyi dan tidak melaporkan diri kepada kamp kerja yang berdiri di Budapest, membuatnya menyerah kepada keadaan dan kemudian masuk ke tempat tersebut.

Di saat penuh kekelaman, kisah Erbstein menemukan titik terang baru. Di kamp kerja yang baru dimasukinya, ia menemukan anak buah yang dulu berada di bawah kepemimpinannya saat Perang Dunia 1 adalah pemimpin blok kerja (Kapo) dimana dia ditempatkan. Mereka tidak pernah bertemu semenjak 1919, namun kenangan penuh rasa syukur dikarenakan perlakuan baik Ernő kepadanya membuat Kapo tersebut mau turun menolong.

Pada saat ada kesempatan, Kapo tersebut akan meminta Erbstein ikut dengannya ke kota dengan alasan membantu pekerjaan, membuat mereka dapat lepas dari pengawasan keamanan kamp serta tahanan lainnya. Di tengah kota yang dilanda perang, dia akan mengantarkan rekannya ke telepon yang berfungsi untuk kemudian dapat menghubungi keluarganya di sisi lain kota Budapest. Jika keadaan terlalu beresiko, maka Kapo tersebut yang akan menghubungi keluarga Ernő sendiri untuk menyampaikan pesan, dan hal inilah yang akan mengantarkan mereka kepada satu peristiwa luar biasa.

Wanita-wanita keturunan Yahudi digiring ke kamp setelah naiknya pemerintahan Arrow Cross di Hungaria, 1944 (@The Orange Files)

Waktu bergerak dan sampailah ia di bulan Oktober 1944, Horthy secara teledor mengumumkan perjanjian damai Hungaria dengan Uni Soviet, membuat Jerman mengambil keputusan untuk tidak lagi memberikan memberikan ruang untuk berkuasa kepadanya. Ini berakibat kepada pengambil-alihan Hungaria secara penuh dan menginstalasi pemerintahan boneka dipimpin partai Nyilaskeresztes Párt (Arrow Cross Party), gerakan yang sejalan dengan Nazi.

Nyilas, satu gerakan paramiliter yang mengidentifikasi diri berada di bawah Arrow Cross, kemudian melakukan penggerebekan ke tempat kerja keluarga Erbstein berlindung sebagai bagian dari operasi penculikan dan perampokan barang-barang milik keluarga Yahudi dan merusak serta membakar rumah mereka. Nasib buruk sudah menanti bagi perempuan-perempuan tersebut dan kematian hampir pasti, namun mereka selamat.

Bagaimana bisa? Ini terjadi dikarenakan para anggota Nyilas yang mencoba menimbulkan korban jiwa lebih besar dengan memanipulasi orang-orang yang menelepon tempat kerja tersebut, termasuk Erno. Dia berhasil menangkap pesan rahasia yang diberikan putrinya, Susanna, di tengah telepon untuk kemudian menghubungi koneksinya, orang yang sama yang memberikan keluarganya tempat kerja serta berlindung.

Orang tersebut, Valéria Dienes, kemudian menghubungi Angelo Rotta yang merupakan Duta Besar Vatikan yang diutus ke Hungaria dan salah satu orang yang menggerakkan operasi untuk menyelamatkan orang-orang Yahudi. Mendengar bahwa wilayah tempat kerja wanita-wanita Yahudi didatangi, Angelo kemudian teringat dengan Susanna yang pernah membantunya sebagai pengiring saat mengunjungi tempat yang sama.

Sang Duta Besar kemudian mengutus Gennaro Verollino, bawahannya, untuk mengintervensi. Setelah memperingatkan pejabat diplomatik Hungaria atas kejadian dimana tanah gereja yang posisinya dalam perang netral dimasuki secara illegal, ia kemudian bergegas dengan kendaraan mengejar 70 orang wanita yang telah dipaksa untuk memulai perjalanan oleh anggota Nyilas ke tempat deportasi untuk mengembalikan mereka ke tempatnya semula.

Selamat, istri dan kedua anak Erbstein sudah menyiapkan rencana untuk kabur dari tempat kerja menuju tempat saudaranya di kota Pest. Di saat yang sama, Erbstein sadar sudah waktunya ia kabur dari kamp buruh. Ia bersama keempat orang lainnya, termasuk Béla Guttmann, pemain satu generasi dengannya yang kemudian menjadi pelatih yang akan mengantarkan Benfica menjuarai Piala Eropa di tahun 1961 dan 1962, akan melakukan rencana penuh resiko tersebut.

Itu terlaksana dan berhasil saat mereka menuju Jerman pada Desember 1944 dengan kereta. Lompat dari jendela kereta yang berjarak 2 lantai bangunan ke tanah tentu bukan hal yang menakutkan dibandingkan kematian yang sudah pasti jika masuk ke dalam kamp konsentrasi. Berpisah dengan rekan-rekan pelariannya, Ernő lari ke tempat sama yang dituju keluarganya.

Setelah bereuni dengan keluarganya, bahaya belum sepenuhnya berhenti. Jalan menyembunyikan diri dari pemboman yang mengguncang tempat mereka berlindung serta memalsukan identitas dengan menggunakan surat milik orang-orang yang sudah mati membawa mereka kepada perpisahan sementara karena Ernő harus masuk “safehouse” dibawah pengawasan pemerintah Swedia. Januari 1945, selepas Tentara Merah mengusir Jerman dari Hungaria, Jolàn, Marta, dan Susanna dapat sepenuhnya bersama kembali dengan suami beserta ayah mereka.

Il Grande Torino dan Kejayaan yang berakhir terlalu cepat

Di tengah perang berkecamuk dan tanggung jawab keluarga, Ernő Egri Erbstein ternyata masih berhubungan dengan Torino dan presiden klub, Ferrucio Novo. Kisah menarik muncul saat Erbstein, seperti mata-mata, akan datang diam-diam ke Turin untuk membantu mencari pemain serta memberikan petunjuk kepada Novo. Dari sanalah ikatan pertemanan dan rasa hormat tercipta diantara dua orang ini yang membuka lembaran baru setelah Perang.

Ernő kembali menangani Torino pada Januari 1946 dalam jabatan sebagai Direktur Teknik, namun disinilah ia memberikan keajaiban sepenuhnya. Tim telah mengembangkan taktik yang diterapkan Erno sejak 1938, menggunakan rancang biru taktik W-M ala Arsenal dibawah Herbert Chapman, menjadi skema sempurna.

Sempurna, dalam artian mendominasi dari musim kejuaraan 1941/42 hingga 1948/49 (Dua kejuaraan setelah 1942 terjadi selama masa genting perang bagi Italia dan tidak diverifikasi). Saat itu, Torino meraih Scudetto 5 kali berturut-turut beserta Coppa Italia yang mereka sandingkan, pertama kali dalam sejarah, pada 1942. Memang, musim 1941/42 tidak dibawah pengawasan langsung Erbstein, namun Novo berpegang teguh kepada nasihatnya.

Tentu, sebagai orkestrator, Erbstein memilih pemain tepat untuk taktik yang telah ia bangun. Valentino Mazzola dan Ezio Loik, dua pemain yang diangkut dari Venezia pada 1942 kemudian menjadi tulang punggung tim yang terus terbangun. Loik yang pemalu namun tidak pernah kehabisan energi berpadu dengan Mazzola, sang kapten perfeksionis yang berani berduel, berbuah gelar capocannoniere (pencetak gol terbanyak) Serie A pada musim 1946/47 dengan 29 gol.

Di depan mereka, Guglielmo Gabetto mengambil peran sebagai pencetak gol dilengkapi oleh Franco Ossola dan Romeo Menti sebagai winger yang memiliki kecepatan dan trik. Dibelakang mereka masing-masing ada Giuseppe Grezar yang bertanggung jawab atas pertahanan dari tengah dan terbukti sukses karena kemampuan tekel luar biasa, serta Eusebio Castigliano yang karakter bermainnya mirip Loik.

Komposisi luar biasa di depan dan tengah tidak lengkap tanpa lini belakang yang mumpuni. Disinilah muncul Aldo Ballarin yang penuh ketenangan dan Virgilio Maroso, pemain muda yang berbeda dengan rekan sejamannya dimana ia punya kemampuan umpan mumpuni. Mereka ditemani oleh Mario Rigamonti, bek yang dikatakan memiliki kemampuan 2 orang sekaligus beserta Valerio Bacigalupo, kiper yang kehadirannya menenangkan serta siap melakukan penyelamatan kelas wahid.

Erbstein secara langsung menyaksikan konklusi musim 1945/46 dimana Torino unggul 1 poin dari rival sekotanya, Juventus untuk meraih gelar. Lalu, musim 1946/47 berakhir dengan gelar, namun dengan perbedaan 10 poin dengan tim yang sama.

Erbstein bersama skuad Torino sebelum pertandingan melawan Benfica, 1949 (@lemeridie.it)

Rivalitas di Kota Turin dimenangkan oleh I Granata (Si Merah Marun) saat itu yang ditunjukkan dengan stadion Filadelfia penuh serta bergemuruh setiap kali Torino bertanding. Simbiosis yang tidak mengenal posisi, suatu modernitas ditunjukkan oleh pemain Il Toro hasil racikan Erbstein menghasilkan permainan yang membuat lawannya tertegun dikarenakan tak dapat lagi menyentuh bola, satu kesaksian dari Tommaso Mastrelli yang pernah melawan tim ini bersama Bari dan Roma.

Musim 1947/48 kemudian terasa sebagai prosesi dibandingkan kompetisi dengan perbedaan 16 poin antara Torino yang berada di peringkat pertama dengan A.C. Milan di peringkat kedua. Ini terdampak ke tim nasional dimana Italia mampu mengalahkan Hungaria, jagoan sepakbola Eropa saat itu, dengan skor 2-1 pada uji coba di tahun 1947 dengan memainkan 10 pemain Torino.

Musim 1948/49 kemudian datang dan sepertinya akan didominasi lagi oleh apa yang disebut sebagai Il Grande Torino. Reputasi mereka membuatnya menjadi klub superstar di era dimana kompetisi Eropa masih dalam pikiran serta Piala Dunia baru akan berlangsung lagi beberapa saat kemudian dengan Italia menjadi salah satu yang dijagokan.

Hal itu juga yang membawa Fransisco Ferreira mengundang Torino untuk memainkan pertandingan persahabatan sekaligus testimonial melawan klubnya, Benfica, pada 3 Mei 1949. Undangan yang disampaikan ke Mazzola disanggupi Novo dan Erbstein dengan perjanjian bahwa Il Toro memenangi dahulu Scudetto ke-5 mereka berturut-turut dan itu ditepati pemain. Menyusul kemudian pertandingan yang luar biasa di Lisbon dengan skor 4-3 untuk tuan rumah, namun tidak mengapa karena mereka bersenang-senang. Keesokan harinya, semuanya berakhir.

Erbstein meninggal dunia pada tanggal 4 Mei 1949, bersama 18 pemain yang dibangunnya menjadi tim yang luar biasa. Pembawa kebahagiaan serta petunjuk bangkitnya Italia setelah perang pergi tanpa pertanda yang tentu menimbulkan kesedihan mendalam bagi seluruh negeri yang terasa saat 500 ribu orang hadir langsdalam pemakaman mereka.

Tulisan ini pada akhirnya memberikan pengingat, tidak hanya tentang Torino, namun juga Ernö Egri Erbstein. Walau ia masih terasa asing bagi kita, namun aksi heroik sebagai kepala keluarga dan kontribusinya bersama Torino tidak perlu dipertanyakan lagi.


Penulis: Kombinasi antara Pradana Arya (@dropkickdemon) bersama dengan Willibrordus Bintang (@Obinhartono1). Tulisan lain dari mereka berdua dapat ditemukan di sini, jadi selamat berseluncur.

Like this Article? Share it!

About The Author

Kumpulan Para Penikmat Sepak Bola Tanpa Batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *