Dimitri Payet, Sang Bantalan Direksi West Ham

Published On 21/01/2017 | By John | Luar Lapangan

We’ve got Payet, Dimitri Payet! I just don’t think you understand. He’s Super Slavs man, he’s better than Zidane. We’ve got Dimitri Payet!” adalah nyanyian yang sering terdengar dalam pertandingan-pertandingan West Ham United pada musim 2015/16, terutama ketika bintang asal Prancis, Dimitri Payet melakukan sesuatu yang indah di lapangan atau mencetak gol.

Payet memang menjadi salah satu pemain paling penting dalam skuat the Hammers pada musim tersebut. Performa pria 29 tahun di pentas Liga Primer Inggris membuatnya mendapat panggilan ke Tim Nasional Prancis yang menyelenggarakan Euro 2016. Hal ini juga menyebabkan pihak klub memberikannya perpanjangan kontrak jangka panjang hingga 2021, sebuah langkah untuk memastikan proyek mereka dapat berjalan sesuai harapan, terutama setelah mengambil keputusan besar untuk meninggalkan Boleyn Ground dan pindah ke Olympic Stadium (London Stadium).

Namun, Payet mendapatkan kenyataan yang berbeda jauh dari harapan ketika ia kembali ke tim yang ia bela saat ini setelah menjalani masa rehat tambahan akibat keberhasilan Prancis mencapai babak final Euro 2016. Tim asuhan Slaven Bilic mengalami kesulitan untuk mengulang performa yang mereka tunjukkan musim lalu, dan juga kembali tersingkir dalam babak penyisihan Europa League, oleh tim yang menyingkirkan mereka musim lalu yaitu Astra Giurgiu.

Skuat West Ham juga tidak mendapatkan banyak peningkatan dengan mendatangkan pemain-pemain yang tidak sesuai dengan ekspektasi seperti Andre Ayew, Alvaro Arbeloa, Sofiane Feghouli, dan Simone Zaza. Setelah sebelumnya memiliki kemungkinan untuk mendapatkan penyerang dengan potensi tinggi seperti Michy Batshuayi, Alexandre Lacazette, atau Carlos Bacca yang sudah memiliki pengalaman matang.

Bursa transfer musim panas yang berjalan dengan buruk menjadi semakin parah dengan beberapa permasalahan cedera yang dialami pemain pada awal musim. Dari enam pertandingan pembuka di Premier League, West Ham hanya mampu meraih satu kemenangan, sisanya berakhir dengan kekalahan.

Sepanjang periode tersebut, masa depan Slaven Bilic sebagai manajer tim menjadi bahan spekulasi berbagai media yang menganggapnya akan menjadi salah satu manajer pertama yang dipecat di Premier League pada musim 2016/17. Walau setelah periode tersebut mereka dapat bangkit secara perlahan, inkonsistensi performa tim secara keseluruhan menyebabkan munculnya berita mengenai potensi hengkangnya beberapa pemain, termasuk Dimitri Payet.

Tentunya saat itu berita yang muncul tidak dianggap masuk akal, terutama setelah Payet telah memperpanjang kontraknya hingga 2021. Anggapan tersebut ternyata hanya bertahan hingga dibukanya bursa transfer musim dingin pada Januari 2017.

West Ham mendapatkan tawaran dari Olympique Marseille yang ingin memulangkan Payet untuk mengejar ambisi mereka kembali ke papan atas sepak bola Prancis dengan bantuan Rudi Garcia sebagai manajer. Namun, keinginan tersebut nyatanya langsung ditolak manajemen the Hammers

Penolakan tawaran tersebut menyebabkan sang pemain menolak untuk kembali bermain untuk West Ham. Tentunya hal ini langsung membuat para fans menghujat Payet akibat keputusannya, dan menganggapnya hanya ingin mencari tim yang dapat memberinya gaji tinggi.

Pada saat itu tidak ada yang menyadari bahwa Payet ingin kembali ke Marseille untuk alasan keluarga dan bahkan rela untuk menerima potongan gaji demi kembali ke Les Olympiens pada paruh kedua musim 2016/17.

Atas tindakannya menolak untuk bermain, Payet memang pantas mendapatkan kritik. Namun dari kasus ini, kritik tersebut lebih tepat diarahkan kepada pihak direksi West Ham United, yang telah gagal menjalani proyek besar yang sudah direncanakan sejak beberapa musim sebelumnya.

Ambisi sebuah klub untuk berkembang dapat dilihat dari performa mereka di bursa transfer sebelum dimulainya musim baru, terutama setelah pindah stadion. Bagi West Ham yang mendapatkan stadion dengan biaya dari pajak masyarakat Inggris, faktor finansial seharusnya tidak dapat menghalangi mereka untuk mendatangkan pemain-pemain yang mereka incar.

Melihat keadaan ini, ditambah dengan bursa transfer musim dingin yang berpotensi berakhir dengan kegagalan (setelah tawaran untuk Jermain Defor dari Sunderland dan Robert Snodgrass dari Hull City ditolak), keinginan pemain-pemain untuk meninggalkan West Ham adalah sesuatu yang wajar.

Terlalu mudah bagi fans untuk menyalahkan pemain yang memiliki ambisi untuk mengembangkan kariernya (atau ingin pindah karena alasan pribadi), tanpa melihat keadaan dari manajemen klub mereka sendiri.

Saat ini, Payet kembali mengalami kesulitan setelah kehidupan pribadinya mendapat gangguan dari berbagai pihak yang sempat memberikan pujian yang rutin (walau berlebihan) kepadanya. Situasi tersebut semakin dipersulit dengan adanya laporan dari Sky Sports yang menyatakan kemungkinan bagi Marseille untuk membatalkan rencana mereka mendatangkan pemain dengan nomor punggung 27 ini.

Sepak bola modern memang menjadi sebuah olah raga yang penuh dengan reaksi instan setiap ada isu yang besar mau pun kecil, walau demikian, memerhatikan dan mempelajari situasi yang ada tentunya lebih baik sebelum memberikan pendapat atau bahkan menghina pemain yang mengalami kejadian yang sama seperti Payet.


Penulis: Dananjaya Wija Putera (twitter: @wpdnn) mengikuti perkembangan Premier League, La Liga, dan Bundesliga. Sering ditemukan menunggu kereta di halte busway Bendungan Hilir.

Like this Article? Share it!

About The Author

Kumpulan Para Penikmat Sepak Bola Tanpa Batas.

2 Responses to Dimitri Payet, Sang Bantalan Direksi West Ham

  1. Bagaimana Cara jadi kontributor disini??

    Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *