Amiens SC: Harapan dari Unicorn

Published On 22/05/2017 | By John | History
Sabtu, 20 Mei 2017, satu tempat di Utara Perancis.
Kaki-kaki lelah beranjak ke kotak pinalti didorong daya upaya akhir.
Satu peluang yang akan menuliskan takdir baru hadir di pertandingan penuh emosi.
Bola dilepaskan, waktu ikut merasuk bersamanya menyentuh barisan hitam pencari harapan.
Namun, kawalan si merah menyulitkan Unicorn untuk menyongsong apa yang mereka cari.
Bergerak liar, bola memantul ke tanah, menyusur ke pojok gawang.
Semua orang di tribun terkesiap memandang kemana bola mengarah.
Hantaman kekuatan otot manusia membuat bola mendapat momentum baru.
Menerjang udara, menggetarkan jala, stadion bergemuruh, Amiens promosi!

Bukan hal yang buruk untuk mengawali tulisan ini dengan puitis (atau bahkan tulisan di atas tidak pantas disebut sebagai keindahan juga tidak apa). Namun, penting untuk meresapi apa yang disampaikan oleh Emmanuel Bourgaud, sang pencetak gol kemenangan malam ini.

“Gol tersebut merupakan puncak dari karir saya,” katanya. Pemain lainnya, Charly Charrier, berkata bahwa Amiens tidak diunggulkan mengingat lawannya yang cukup kuat dan mereka bersaing dengan 5 klub lain demi promosi malam itu. Gol tersebut merupakan puncak daripada perjuangan, membalikan prediksi banyak orang bahwa mereka hanya akan menjadi ‘samsak’ bagi klub Ligue 2 lainnya di musim 2016/17.

Andai momentum itu tidak terjadi, mungkin kita tidak akan menemukan kisah luar biasa lain dari Perancis. Maka, mari nikmati kisah tentang Amiens SC, satu klub yang setelah 116 tahun bermain di kasta bawah liga Perancis akhirnya promosi ke Ligue 1 musim depan.

Bagaimana mereka mencapai hal tersebut? Keberuntungan tidaklah cukup untuk menceritakan kisah ini.

 

Amiens Athletic Club tahun 1910 (@ wikiwand)

Memulai kilas balik, bahwa klub yang berasal dari kota yang terkenal memiliki Gereja Notre-Dame ini sempat menjadi salah satu pionir sepakbola di Perancis. Jauh sebelum kata profesionalisme tersemat dalam sejarah sepakbola Perancis, Amiens Athletic Club (AAC) merupakan salah satu tim sepakbola terbaik di Perancis.

Baru lahir pada 1901, dua tahun kemudian mereka mulai mendominasi Championnat de Picardie de l’USFSA, ditambah prestasi sebagai Champion du Nord serta hasil baik di ajang Coupe de France hingga berakhirnya dekade 1920an.

Namun, keputusan berganti status dari amatir menjadi profesional pada 1933 tidak membawa keuntungan dengan mereka berkubang di divisi dua, maka kemudian status ini ditinggalkan pada 1952. Ini tidak lantas memperbaiki klub yang saat itu sudah berganti identitas menjadi Sporting Club d’Amiens sebagai hasil merger dengan klub lokal lain.

Inkonsisten mewarnai SC Amiens antara dekade 1970an dan 1980an yang naik turun antara divisi 2 dan 3. Perkembangan jaman kemudian membuat pengurus klub memutuskan untuk kembali menjadi profesional sepenuhnya yang ditandai dengan perubahan nama sebagai Amiens SC pada 1991.

Hasilnya tidak langsung fenomenal memang dengan mereka gagal menembus Ligue 1 sampai sekarang. Tapi, ada beberapa kisah menarik yang bisa diceritakan tentang klub yang menggunakan simbol kuda unicorn di logonya.

 

Final Coupe du France 2000/01: Ucapan terima kasih dan maaf setelah kalah (@ Marc Cativiela / amiensfootball)

Tentu, yang luar biasa adalah capaian mereka di Coupe de France musim 2000/01. Bermain sebagai klub divisi 3, mereka berhasil masuk final walaupun kemudian kalah melawan Strasbourg lewat adu pinalti.

Melaju ke final tidak kemudian memberikan ketenaran. Amiens SC tetap menjadi nama yang asing ditelinga, dalam kacamata penonton awam, apalagi Ligue 1 saja masih dianggap sebelah mata bagi orang awam saat itu.

Amiens SC kemudian menjadi simbol bagi underachievers. Sudah begitu dekat, namun kemudian gagal promosi dengan  poin terbanyak ke Ligue 1 pada 2007 (69), dua musim kemudian mereka terdegradasi dari divisi 2 ke divisi 3 dengan raihan poin terbanyak (43). Bisa dikatakan bahwa masalah silih-menjelang bagi tim yang identik dengan warna putih-hitam ini.

Bagian dari masalah mereka datang salah satunya dari Moulonguet, stadion yang mereka gunakan sejak 1921 merupakan salah satu stadion terkecil di Perancis yang digunakan klub divisi 2 (kapasitas 1.700 orang). Ini berubah pada tahun 1999 saat Stade de la Licorne diresmikan dengan kapasitas kurang lebih 12.000 suporter memberikan kelegaan bagi warga kota Amiens.

 

Stade de la Licorne dilihat dari langit kota Amiens. (@ crdp.ac-amiens.fr)

Kelegaan mengingat kota tempat berkandangnya Amiens SC merupakan salah dua dari kota Perancis yang memiliki populasi lebih dari 100.000 yang tidak pernah diwakili oleh klub papan atas. Apalagi kemudian kota yang terletak di utara Perancis ini sedang mengalami krisis tersendiri dengan kepergian investasi perusahaan besar macam Dunlop dan Goodyear ditambah kedatangan imigran yang cukup memperberat beban warga kota dalam 3 tahun terakhir. Tentu kesuksesan Amiens merupakan kado tersendiri yang memberikan senyum gembira kepada suporter yang memadati kandang mereka.

Dalam kacamata pembaca dan penonton awam kemudian, tentulah Christophe Pellissier merupakan sosok yang krusial dibalik kesuksesan Amiens dalam promosi ke Ligue 1 untuk kali pertama. Manager berusia 51 tahun ini, memang tidak mengenyam sepakbola professional dalam karirnya dan hanya sempat bermain dalam beberapa tim di kasta ketiga liga Perancis.

Namun, keahliannya dalam mengasuh tim tim semenjana tidaklah perlu diragukan. Dalam beberapa musim, ia mengangkat Luzenac ke Ligue 2 walau kemudian ditolak otoritas liga karena finansial mereka yang lemah. Tidak patah arang, Pellisier yang pekerjaan selanjutnya menjadi nahkoda Amiens kemudian mengantarkan Sang Unicorn ke Ligue 1 untuk kali pertama lewat promosi dua kali berturut-turut.

Kekuatan Pellisier berangkat dari nama-nama yang tidak pernah terdengar macam bek Thiman Monconduit dan strike Aboubakar Kamara. Ini dipadukan dengan talenta muda lokal Jordan Lefort dan Tanguy Ndombele Alvaro bersama veteran seperti kiper Regis Gaurtner dan playmaker Emmanuel Bourgaurd menjadi resep ampuh bagi Amiens SC.

 

Adakah korelasi antara kenaikan Amiens SC dengan Emmanuel Macron? (@ Patrick Kovarik /AFP/Getty Images)

Satu cerita akhir sebelum mengakhiri hal ini dan berkaitan dengan Presiden baru Perancis. Betul, dia adalah Emmanuel Macron yang ternyata lahir dan besar di Amiens. Kebangkitan klub lokalnya dapat kemudian dikomparasikan dengan lahirnya bintang baru dalam perpolitikan Perancis pada tahun 2017 ini, walaupun harus disayangkan bahwa Macron sendiri merupakan pendukung Marseille.

Kiprah Amiens SC di Ligue 1 2017/18 patut dinanti. Akankah mereka mampu bertahan? Ataukah menjadi lumbung gol bagi tim-tim Ligue 1 yang telah mapan? Rasa penasaran tentang ini juga sama besarnya dengan harap cemas menunggu sepak terjang Emmanuel Macron menghadapi struktur politik lama Perancis. Waktu akan menjawab, namun biarkan kebahagiaan setelah lahirnya harapan baru ini bertahan.


Penulis: Pradana Arya (twitter: @dropkickdemon), penggemar sepakbola, sejarah, dan kopi.

Like this Article? Share it!

About The Author

Kumpulan Para Penikmat Sepak Bola Tanpa Batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *