American Man in Football League

Published On 09/07/2017 | By John | Opini Ngehek

Mari bicara Leyton Orient sebagai satu studi yang cukup buat saya penasaran dalam beberapa minggu ini. Tentu, kabar gembira bagi mereka yang baru saja berpindah tangan dari seorang “badut” bernama Francesco Bechetti kepada konsorsium yang dipimpin seseorang dengan janji stabilitas menghadapi musim 2017/18 Vanarama National League.

Nigel Travis adalah orang yang dimaksud di atas. Terlepas bahwa ia lahir di Essex dan menjadikan The O’s sebagai klub masa kecilnya, Travis jelas sudah lama tinggal di Amerika Serikat serta terikat dengan waralaba Dunkin’ Donuts plus Baskin Robbins sebagai chief executive.

Bicara Amerika Serikat, kita mungkin tidak kaget bahwa kedatangan orang-orang dari negeri Paman Sam untuk berinvestasi. Diawali oleh Glazer bersaudara, mereka beradu dengan pemodal dari Asia, Eropa Daratan, dan Timur Tengah untuk membuat persepakbolaan Inggris menjadi seru.

Itu jika bicara di puncak piramida atau kita sebut saja sebagai Premier League. Bagaimana divisi di bawahnya? Football League mungkin menggoda di tingkat Championship karena, seperti dibahas sebelumnya, adanya peluang promosi yang berkaitan dengan motif ekonomi tentu menarik orang berinvestasi walau resikonya cukup besar.

Lalu, apa yang menarik orang untuk League One, League Two atau bahkan National League?! Pertama, kita bicara kata Cinta jika kembali ke kasus Leyton Orient. Travis bercerita dalam wawancara pertamanya setelah takeover bahwa dia tersentuh dengan perjuangan para suporter di akhir musim yang menggerakkan dirinya beserta sumber daya yang ia punya untuk mengangkat kembali klub tertua kedua di London ini dari keterpurukan.

 

Menariknya, dia memiliki mentor di kota Boston, tempat tinggalnya di Amerika. Orang itu, Robert Kraft adalah pemilik dari New England Patriots, salah satu franchise NFL tersukses saat ini membeli klub olahraga berangkat dari rasa cinta sebagai fans pada 1994. Itu kemudian disangkut-pautkan dengan proses dimana pembelian Patriots dan Orient sama-sama terjadi dalam posisi dimana kedua entitas terancam bangkrut memberikan impetus kepada Travis mencari kestabilan di awal.

Dalam membutuhkan kestabilan, dibutuhkan rekan kerja yang mumpuni. Di sini kemudian Travis kepada koleganya yang lain di kota yang sama. Dia adalah John W. Henry sebagai chairman bersama Tom Werner yang memiliki Fenway Sports Group, perusahaan investasi yang portofolionya termasuk Liverpool FC.

Formula FSG dengan manajemen yang lebih teratur serta orang-orang yang tahu keadaan lapangan hampir mengantarkan The Reds ke tangga juara pada 2014 belajar dari dosa pemilik sebelumnya yang adalah sesama orang Amerika, George N. Gillett, Jr. dan Tom Hicks dimana duet ini hampir membawa Liverpool kepada kebangkrutan. Travis melakukan duplikasi dengan bekerjasama tidak hanya dengan Kent Teague, pengusaha asal Texas yang membantu akuisisi, namun kemudian mengangkat orang lapangan macam Martin Ling sebagai Direktur Sepakbola Leyton yang baru.

Perhitungan tersebut tentu perlu mempertimbangkan basis yang cukup setia dalam mendorong klub berproses sebelum kedatangan pemilik baru. Peran fans/suporter/pendukung menjadi penting di sini dalam menjadi tempat pertimbangan dengan kehadiran pemilik baru, apalagi setelah masa yang cukup menyakitkan bagi mereka.

 

Sama-sama Amerika dan Merah, tapi trakjektorinya ke arah berbeda (Getty Images dengan perubahan)

Kehadiran John Green (CrashCourse, kawan-kawan?) di AFC Wimbledon walau dalam kapasitas sebagai sponsor ataupun kemudian pembicaraan akuisisi Portsmouth FC oleh mantan chief executive Walt Disney, Michael Eisner tentu menunjukkan dimensi lain berupa kepemilikan suporter. Walau dengan alasan berbeda, Wimbledon dan Portsmouth tidak mau hasil kerja keras mereka sejak lama rusak begitu saja sehingga perasaan asing jelas hinggap dengan kehadiran orang-orang baru, apalagi berasal dari seberang lautan Atlantik.

Belajar bahwa pengalaman pahit seperti dialami oleh Coventry City dengan kepemilikan Sisu Capital yang didalamnya melibatkan orang Amerika ataupun “pernikahan” yang berujung kegagalan terjadi di Aston Villa bersama Randy lerner  tentu dapat dijadikan warning bagi rekan-rekan senegaranya yang ingin terlibat dalam pasar olahraga Inggris. Namun, petualangan serta cara berbeda dalam memperlakukan investasi perlu dipertimbangkan dari kedua belah pihak.

Jika mengutip John Ourand dari Sport Business Journal dalam wawancaranya dengan npr, dia mengatakan bahwa model bisnis yang sukses dijalankan dalam industri domestik Amerika coba diimplementasikan di pasar Inggris. Hal tersebut berangkat dari harapan bahwa klub Britania Raya yang dimiliki sudah atau akan menjadi brand internasional serta menghasilkan keuntungan luar biasa, sesuatu yang masih sulit ditembus olahraga di tanah air mereka.

Halangan yang timbul kemudian adalah jika percobaan gagal, kadang ketidakcocokan yang hadir masih dilanjutkan dengan paksaan yang ditunjukkan hingga detik ini oleh Ellis Short di Sunderland. Memang jika mengambil kasus Stan Kroenke bersama Arsenal, pembentukan budaya dapat saja berhasil dengan simbolisasi Emirates Stadium menggantikan Highbury bagi Arsenal membawa stabilisasi, namun sebaliknya tidak menghasilkan prestasi mentereng selain FA Cup beberapa tahun terakhir.

Nigel Travis akan banyak belajar bersama orang-orang baru macam Stephen Kaplan dan Jason Levian di Swansea City ataupun Shahid Khan di Fulham. Masih ada beberapa yang belum tersebut baik di Millwall atau lebih mentereng sedikit, Crystal Palace. Pada akhirnya, ucapan selamat berjuang untuk kembali ke kancah profesional Football League selain rasa salut patut dialamatkan kepada Travis dan Leyton Orient menghadapi tantangan besar yang menjelang di depan mereka.

Semoga tidak tersasar dan merasa menjadi alien seperti yang dituturkan Sting dalam lagunya, Englishman in New York.


About me: Willibrordus Bintang (@Obinhartono1) berbasis di Yogya dan menjadi penikmat Football League serta Conference selagi menyambi kuliah.

Like this Article? Share it!

About The Author

Kumpulan Para Penikmat Sepak Bola Tanpa Batas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *