Serupa tapi Tak Sama: Manajer vs Pelatih Kepala

Published On 21/03/2016 | By Rockin Marvin | Opini Ngehek

Kala ditanya perihal peranan Arsene Wenger menjelang pertandingan antara FC Barcelona kontra Arsenal, Luis Enrique tidak mengatakan banyak. Akan tetapi mantan pemain Real Madrid ini berucap jika seorang manager seharusnya dikontrak selama enam bulan saja. Baguskan ide dari entrenador -bahasa Spanyol manajer- yang biasa disapa Lucho ini?

Menurut pandangan Enrique, kontrak jangka pendek sangat bagus untuk finansial klub. Kebijakan ini membuat setiap klub tidak harus mengeluarkan uang kompensasi yang besar kala mereka memutus hubungan kerja dengan Sang Manajer. Jose Mourinho, Rafael Benitez, dan Steve McClaren menjadi beberapa nama yang berhasil meraup untung besar dari pemecatan mereka.

Sebuah kemubaziran di mata Luis Enrique.

Ide yang masuk akal jika mengingat opini itu diutarakan seorang Luis Enrique. Mantan pemain Real Madrid yang kini menangani klub seperti FC Barcelona belum pernah dipecat sepanjang karirnya.

Pindah - Mundur - Mundur | PHOTO: Webola - TeamSheet - ISF

Pindah-Mundur-Mundur | PHOTO: Webola-TeamSheet -Inside Spanish Football

Lucho selalu mengundurkan diri dengan suka rela, baik itu di AS Roma ataupun Celta Vigo. Dana yang dikeluarkan klub pada kesepakatan bersama selalu jauh lebih rendah dibandingkan pemecatan. Apalagi sekarang klub yang ia latih adalah tim superior di sepak bola dunia, bayangkan jika Lucho menangani Newcastle atau Leeds United!

Jumlah kompensasi yang dikeluarkan klub juga bergantung pada harapan direksi. Mereka yang menyodorkan kontrak kepada seorang manajer dengan menargetkan sebuah kesuksesan.

Sang Manajer hanya menjalankan tugasnya dan berusaha sebaik mungkin meraih target, pihak direksi-lah yang menentukan nilai kontrak dan pemutusannya.

Dengan kata lain, mereka sudah tahu akan konsekuensi tersebut sebelum mengambil keputusan.

Nyatanya, jumlah kompensasi yang besar adalah penyelamat Sam Allardyce semasa di West Ham United. Andai The Hammers -julukan West Ham United- sedang tidak memikirkan stadion baru, “Big Sam”, sapaan Sam Allardyce, mungkin sudah hilang sebelum kontraknya di Upton Park hangus.

Manager vs Head coach | PHOTO: Daily Mail

Manager vs Head coach | PHOTO: Daily Mail

Direksi, apalagi pemilik atau presiden sebuah klub sangat jarang terlibat dengan urusan sepak bola, oleh karena itu mereka mempercayakan tugas ini ke manajer dan,atau, pelatih kepala.

Apa bedanya ?

Bagi kalian yang mengkomsumsi permainan virtual nan adiktif, “Football Manager“, tentu tahu apa saja tugas seorang manajer, tapi apa garis pemisah antara mereka dan seorang pelatih kepala ?

Secara teori, hal ini sangat mudah untuk dijelaskan. Manajer bertugas untuk mengatur klub, dari harga tiket, sponsor, penjualan pernak-pernik, pembangunan fasilitas, taktik, formasi dan prestasi di lapangan.

Tugas pelatih kepala tidak sesulit itu, ia hanya diminta untuk fokus mempersiapkan tim. Pelatih kepala seharusnya lebih leluasa dalam menjalankan tugasnya, karena mereka tidak bisa diintervensi oleh tim balik layar yang kurang menguasai materi di atas lapangan.

“Jika kamu seorang manajer, maka kamu ditugasi untuk menentukan segala sesuatunya di klub, tapi jika kamu kepala pelatih, maka tugasmu hanyalah membuat tim bermain lebih baik dan memberikan hasil yang positif.”, Ujar Mauricio Pochettino. “Ketika di Southampton, saya bertugas sebagai manajer, tapi dengan Tottenham saya seorang pelatih kepala.” , Lanjutnya.

Peranan manajer dan pelatih sama saja di atas lapangan, mereka harus memiliki pemahaman taktik yang baik, penilaian pemain di atas rata-rata dan metode latihan yang efektif.

Jika kalian memainkan “Football Manager” beberapa edisi terakhir, seorang manajer bisa melemparkan beberapa tugas seperti peningkatan fasilitas, harga tiket, pernak-pernik, hingga kontrak pemain ke orang lain, tapi hal itu tidak terjadi di versi-versi terdahulu. Bahkan hingga 2012, permainan serupa keluaran EA Sports, “FIFA Manager” tidak memberikan kelenggangan itu pada seorang manajer.

Vladimir Zajec (L), alasan Redknapp jadi Yudas | PHOTO: Metro UK

Vladimir Zajec (L), alasan Redknapp jadi Yudas | PHOTO: Metro UK

Padahal istilah jenderal manajer, dan direktur sepak bola (DoF) bukanlah hal baru. Hal ini baru terlihat beberapa tahun terakhir, tapi nyatanya Italia sudah menggunakannya sejak dulu. Bahkan istilah ‘manajer’ tidak digunakan di Negeri Pizza.

Jerman, Spanyol, Inggris kemudian ikut menerapkannya dengan porsi tugas yang berbeda, karena kedatangan direktur sepak bola terkadang dianggap mengambil kekuasaan seorang manajer.

DoF biasanya ditugaskan untuk mencari pemain, dan menegosiasikan kontrak. Mereka juga diberi kepercayaan untuk memasarkan pemain-pemain yang sudah tidak diinginkan klub, lebih dari itu, direktur sepak bola juga dapat menentukan isi ruang ganti, menyarankan calon manajer kepada pemilik klub.

Inilah yang menjadi perdebatan, apalagi jika statusnya bukan sekedar direktur sepak bola, tapi jenderal manajer (GM)! Seorang GM bisa ikut campur dalam pemilihan pemain, dan itu sangat merugikan manajer ataupun pelatih kepala.

Seorang manajer atau pelatih kepala, sejatinya merupakan pihak pertama yang bertanggung jawab atas hasil tim utama di lapangan. Sebuah pujian bisa berbalik menjadi cacian hanya dalam hitungan bulan, dan begitu juga sebaliknya. Bayangkan jika anda menjadi seorang manajer, lalu tim pilihan GM menuai kekalahan dan bukan dia yang harus membersihkan ‘dosanya’.

Lebih dari 11 tahun yang lalu, November 2004, Harry Redknapp meninggalkan Portsmouth setelah pemilik klub saat itu, Milan Mandaric menunjuk Velimir Zajec sebagai direktur eksekutif klub. Bukan direktur sepak bola, tapi Zajec memang pernah bertugas sebagai DoF di Panathinaikos. Mengetahui hal ini lewat surat kabar, Harry Redknapp langsung menulis pernyataan untuk mundur dari jabatannya.

Banner David Moyes | PHOTO: Express

Banner David Moyes | PHOTO: Express

“Saya kecewa dengan penunjukkan direktur baru.”

“Saya memenangkan manajer terbaik bulan lalu, dan gagal mempertahankannya..”

“Sekarang mereka melakukan ini kepada saya.”, Ungkap Harry Redknapp kepada The Sun.

“Kehadiran dia [Zajec] membuat klub ini seperti opera sabun.”

“Saya memutuskan untuk pergi dari kontrak yang begitu besar.”, Ujarnya.

Redknapp sebenarnya ingin dipertahankan oleh Milan Mandaric, tapi ia mengaku lelah berhadapan dengan pemilik Pompey -julukan Portsmouth- satu itu. Namun setahun kemudian, Redknapp kembali ke Portsmouth dan memberi gelar juara FA Cup untuk Mandaric.

Kontrak jangka pendek mungkin masuk akal, namun jika alasannya hanyalah uang kompensansi yang mubazir, Lucho sepertinya lupa bahwa sepak bola adalah bisnis berbasis perasaan, artinya tidak ada pemilik atau manajer klub yang ingin menandatangi kontrak untuk menyakiti satu sama lain.

Semua pihak ingin membangun relasi layaknya Sir Alex Ferguson di Manchester United, atau Arsene Wenger dan Arsenal, tapi ketika mereka sudah gagal menjalankan tugas yang diberikan pintu akan terbuka lebar-lebar. Entah itu “‘Chosen’, ‘Special’, atau ‘Happy’ One“, direksi klub pasti lebih memilih untuk mengeluarkan sejumlah uang banyak dalam jangka pendek ketimbang rugi di kemudian hari.

Like this Article? Share it!

About The Author

FC Barcelona & Newcastle United supporter. Author El Llibre del Barca & 50 Derby Dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *